Senin, 30 Januari 2017
WHAT IF WE CHANGE FROM "EMPLOYEE mindset" to "OWNER mindset"
Mengubah mental kita dari "mental pegawai" menjadi "mental pemilik perusahaan"
Namanya Irena, seorang CEO sebuah perusahaan multinasional di Jakarta.
Dia menceritakan masalahnya malam itu di sebuah restaurant di Pacific Place.
"Mas Pam, saya merasa bahwa karyawan karyawan kami itu tidak bekerja sepenuh hati. Kami dari management kan bekerja keras siang malam untuk memastikan bahwa perusahaan maju dan berkembang terus. Tapi kami kan tidak bisa kerja sendirian, kami harus dibantu oleh seluruh karyawan. Tapi kami merasa bahwa karyawan kami tidak mempunyai sense of urgency sebesar kami. Mereka enak enakan bekerja , dari jam 9 sampai jam 5 sore langsung pulang. Dan mengharapkan gajian di akhir bulan. Gak ada yang punya accountability yang tinggi. Gak ada yang ikut mati matian memperjuangkan kemajuan perusahaan. Waktu saya tanya ada beberapa yang berkomentar miring ...
Wajar, namanya juga karyawan. Kalau owner beda lagi mindsetnya"
Irena minum anggur merahnya malam itu, sementara saya menemani dengan orange juice saya.
Irena meneruskan,"Memang benar begitu? Apakah memang tidak ada karyawan yang mempunyai mindset yang bagus? Terus gimana menjalankan business kalau semua karyawannya begitu? Adakah caranya untuk mengubah mindset dari employee mindset (atau mental orang gajian) menjadi mental owner yang terus bekerja keras pantang menyerah?"
Wow, Irena , great question and great observation!
Dan saya pun jadi tertarik untuk membahas hal ini.
Jadi wajar bahwa semua perusahaan ingin mencapai kesuksesan jangka panjang.
Dan sukses jangka panjang itu hanya terjadi kalau customer nya happy.
Kalau enggak happy, customer nya pasti akan lari ke competitor anda.
Nah untuk membuat customer happy itulah anda memerlukan karyawan (employee) yang benar benar bermotivasi tinggi!
Masalahnya banyak sekali karyawan yang sudah ogah-ogahan. Hanya masuk kerja jam 8 dan nunggu pulang jam 5 sambil nunggu gajian (dan minta gajinya naik pula!)
Dari jam 8-5 kerja nggak jelas, meeting meeting tanpa tujuan dan kirim email tanpa arahan yang jelas.
Ternyata banyak karyawan yang masih mempunyai mental seperti itu.
Ada sih karyawan yang masih sangat bermotivasi tinggi. Mereka ini bermental hampir seperti owner. Seorang owner perusahaan akan bekerja keras karena mereka mempunyai kepentingan yang sangat tinggi terhadap kesuksesan perusahaannya. Hidup mati, berhasil atau tidaknya perusahaan itu ya karena kerja keras sang owner.
Nah , masih ada juga karyawan yang bermental seperti owner. Mereka ini berfikir bahwa sukses atau tidaknya KARIER mereka hanya tergantung kepada mereka sendiri.
Dan berarti naiknya gaji (atau tidak), dipromosikan atau tidak maka itu juga tergantung kepada karier mereka sendiri.
Makanya mereka bekerja keras untuk
- prestasi mereka sendiri
- prestasi tim mereka
- dan performance perusahaan mereka
Inilah karyawan karyawan yang biasanya dianggap sebagai "high potential" dan akan memajukan perusahaannya.
Tapi sebelumnya kita lihat dulu perbedaan karakter antara karyawan yang bermental "pegawai" dan yang bermental "owner" ...
Karyawan yang berMental "pegawai" itu ...
- Ketika dia mengalami halangan, dia kebingungan apa yang harus dikerjakan, dia menghindari masalah atu dia mencari alasan
- Dia datang pagi, pulang sore dan menunggu gajian
- pikirannya sudah tidak fokus ke pekerjaannya
- dia hidup terutama untuk sabtu minggu karena senin sanpai jumat tidak fokus lagi
- dia tidak menghasilkan idea baru
- dia tidak menghasilkan perbaikan proses
- dia memerlukan seseorang untuk selalu mengatakan apa yang harus dikerjakan dan kapan
Sementara karyawan yang bermental "owner" itu ....
- Dia bekerja keras dan fokus pada hasil yang akan dia capai
- Ketika dia menemui halangan, dia akan berusaha keras mengatasinya
- Dia memotivasi dirinya sendiri, tidak memerlukan orang lain untuk memberitahu apa yang harus dikerjakan
- Dia enjoy dan menikmati pekerjaannya
- Dia mempunyai banyak idea baru
- Dia memperbaiki proses yang tidak effisien
- Dia fokus pada goal yang penting
- Dia "menghasilkan
" banyak result yang positive
Nah, ketahuan kan bedanya?
Kalau anda adalah owner perusahaan, carilah karyawan yang juga bermental owner, recruit mereka, reward mereka , promosikan mereka dan tahan mereka di perusahaan anda. Ingat kelangsungan dan kesuksesan perusahaan anda ada di tangan mereka.
Sementara kalau anda menjadi karyawan , berusahalah untuk menjadi karyawan yang bermental "owner" seperti di atas.
Bekerja keraslah, dan anda akan mendapatkan ...
- kenaikan gaji
- promosi
- kesuksesan karier anda dalam jangka panjang
Kalau enggak dapat ketiga hal itu bagaimana?
Gampang saja.
Kalau memang anda adalah karyawan yang bermental owner yang bagus, kalau enggak diappresiasi di tempat anda, melamar saja ke perusahaan lain dan cari pekerjaan yang lebih bagus di mana anda mendapatkan appresiasi yang lebih tinggi.
(Tapi ingat, selama anda belum mendapatkan pekerjaan baru, anda harus tetap profesional dan bekerja maksimal di tempat lama!).
Ok, sekarang, bagaimana anda menjadi karyawan bermental owner?
Kita lihat dari 6 karakter yang mereka punyai di bawah ini ....
1. Initiator
Mereka itu adalah orang orang yang suka "memulai" sesuatu, "menciptakan" sesuatu dan mewujudkannya.
Mereka tidak menunggu yang lain dan tidak meniru orang lain. Mereka mempunyai banyak ide ide baru.
2. Executor
Mereka ini rajin mengimplementasi sebuah ide. Menghadapi dan mengatasi segala tantangan. Dan mengimplementasikan sebuah ide atau project sampai akhir dan mendapatkan hasil bagi perusahaannya.
3. Connector
Mereka ini mencari segala macam cara untuk memecahkan permasalahan dan terus menerus meningkatkan bisnisnya. Dan untuk itu mereka harus mempunyai banyak network yang luas. Nah di sinilah mereka mempunyai kemampuan yang hebat untuk membangun dan memperluas jaringan bisnis mereka.
4. Responsible and Accountable
Mereka sangat bertanggung jawab menyelesaikan semua pekerjaan.
Berani menerima tanggung jawab kalau gagal menyelesaikan tugas, tetapi juga berani mengakui sukses kalau berhasil.
5. Result oriented
Mereka sangat fokus pada hasil.
Seperti kata pepatah, orang orang yang baik mencari solusi (untuk mencapai hasilnya), orang orang yang jelek mencari alasan (mengapa tidak mencapai hasilnya).
6. Strategic and Foward Thinker
Mereka juga bukan hanya memikirkan kesuksesan bisnis sekarang tetapi juga kesuksesan dan kelangsungan di masa depan.
Maka mereka akan memikirkan strategi ke depan dan mengangisipasi perubahan yang akan terjadi.
Itulah karakter yang dimiliki oleh mereka yang bermental "owner".
Kemudian ada yang bertanya, kalau memang mempunyai mindset owner kenapa masih jadi karyawan? Kenapa gak jadi owner saja sekalian?
Go ahead! Silahkan saja, kalau anda mempunyai modal (atau berhasil mengumpulkan modal) dan juga berani mengambil resiko (risk taking).
Kalau anda siap, silakan, mulailah bisnis anda sendiri dan jadilah owner!
Selama anda belum punya itu, silahkan menjadi karyawan dengan owner mindset, karena itu akan:
- membuat karier anda lebih sukses (dan mendapatkan reward dan promosi yang lebih cepat)
- dan mempersiapkan anda untuk menjadi "the real owner"
Sekali lagi ingat ya, untuk
Mengubah mental anda dari "mental pegawai" menjadi "mental pemilik perusahaan", coba terapkan keenam hal di bawah ini:
1. Initiator
2. Executor
3. Connector
4. Accountable
5. Result oriented
6. Strategic and Forward Thinker
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Jumat, 27 Januari 2017
DEVELOP YOUR CHILDREN TO BE THE FUTURE LEADERS
Namanya Octa, seorang wanita yang berkarier di sebuah perusahaan Jepang berbasis di Jakarta.
Dan malam itu dia duduk di sebelah saya waktu saya terbang kembali ke Jakarta. Kami baru berkenalan di pesawat, tetapi ternyata dia suka membaca FaceBook saya.
Dan bahkan sebelum pesawat take off, dia sudah langsung bertanya,"Bagaimana mendidik anak anak saya agar nanti menjadi leader pak? Saya punya dua anak (Oka dan Oki namanya), mereka baru sekolah di SMP dan SD. Tapi saya ingin mereka bisa berlatih agar nanti setelah besar mereka menjadi seorang leader. Apa yang harus saya lakukan?"
Ok, sebelum kita bahas bagaimana mendidik, kita bahas apakah seorang leader itu terlahir atau dilatih.
Saya selalu percaya bahwa kita harus fokus pada apa yang kita kontrol.
Jadi saya sangat percaya bahwa kita bisa berbuat sesuatu untuk mendidik para leader, calon calon leader dan anak anak kita untuk menjadi leader.
Mungkin ada yang harus ditraining lebih keras daripada yang lain, tapi tetap saja saya percaya bahwa leader itu bisa saja dididik dan dilatih!
Saya bukan tipe orang yang pasrah dan bilang "Kayaknya saya tidak berbakat menjadi leader"
Saya percaya semua orang bisa memgembangkan dirinya menjadi leader yang lebih baik!
Kemudian kita diskusikan dulu apa sih definisi seorang leader?
Banyak yang mengira bahwa leader itu orang yang gajinya besar, posisinya bagus, job title nya keren, mobilnya mewah, ruang kerjanya besar?
Padahal arti sebenarnya leader adalah pemimpin.
Kalau ada pemimpin berarti harus ada yang mau dipimpin.
Berarti kalau seseorang disebut leader , ada sesuatu yang dia punyai dan tidak dipunyai orang lain.
Bukan jabatan, mobil, gaji, ruang kerja atau job title tetapi bahwa seorang leader itu mempunyai follower.
A leader has followers!!!
Banyak yang mengira dia leader but nobody follow him!
You are only a leader if you have followers.
Nah inilah yang bisa dilatih.
Saya dulu gemar membaca sejak kecil, dan waktu saya kelas 2 SD saya membaca buku dongeng, dan besoknya saya menceritakan ke teman teman saya di SD yang sama.
Ternyata lama lama pendengar dan penggemar dongeng saya berkembang dari 3 orang menjadi 60-an orang.
Lama lama yang mendengarkan cerita dongeng saya pun termasuk kakak kakak kelas saya yang duduk di kelas 3, 4 dan 5 SD.
I was 7 years old and I had 60 followers.
Anak perempuan saya hobby berorganisasi selain belajar akademis, waktu dia kelas 3 SMP dia sudah memimpin Girl Brigade dengan 200 anggota.
She was 14 years old and she has 200 followers.
How many followers you have? That s the measure of leadership.
Itulah pengukuran leadership. Berapa follower yang anda punya, pada saat mereka tidak HARUS follow anda.
Kalau memang anak buah anda di perusahaan follow anda, itu sih gampang, kan anda bayar gaji mereka. Ya mereka wajib follow anda. Bagaimana dengan rekan rekan anda satu level? Bagaimana dengan boss anda? Bagaimana dengan rekan anda di regional? Bagaimana dengan rekan rekan anda di industry yang sama atau di profesi yang sama?
How many people will really follow you when they dont have to follow you.
Nah konsep leadership, team work dan followership inilah yang bisa diajarkan ke anak anak kita sejak usia dini.
Bagaimana caranya?
Ikuti beberapa langkah di bawah ini ....
1) LET THEM EXPLORE THEIR STRENGTH
Pertama kali, followers itu akan follow seseorang karena leadernya punya kelebihan.
Jadi pertama kali anda harus mencoba coba mencari di mana kelebihan anak anda.
Gak usah ikut psikologi test, just try and explore. Akademis, bahasa, seni , olahraga.
Coba semuanya.
Dan jangan ngambek kalau ternyata itu bukan strengthnya.
Biarkan dia melepaskan satu bidang dan mencoba bidang yang lain.
Let them explore to find their strength.
2) BUILD THEIR CONFIDENCE, based on THEIR STRENGTH
Satu karakter yang dipunyai leader dan tidak dipunyai orang lain adalah percaya diri yang tinggi.
Nah membentuk percaya diri itu bisa dilakuka dengan
- menemukan bakat dan strengthnya
- mendorong dia bekerja keras untuk mencapai prestasi yang setinggi tingginya dalam bakat yang
dia sukai
- menggunakan prestasi itu untuk membentuk rasa percaya diri yang akhirnya akan melebar ke bidang bidang lain
3) ENCOURAGE THEM TO PARTICIPATE IN AN ORGANIZATIOn
Dorong mereka agar ikut aktiv di organisasi di sekolah. OSIS, pramuka, palang merah, pecinta alam, paduan suara atau apapun.
Semakin banyak mereka berinteraksi dengan teman temannya akan semakin baik.
4) ENCOURAGE THEM TO BE A GOOD TEAM PLAYER
Selama mereka berorganisasi dan berineraksi dengan yang lain, mereka akan punya leader. Dorong dan ajari mereka untuk menjadi follower dan team worker yang baik.
Ingat you have to be a good leader before you become a great team leader.
Ajari mereka untuk :
- understand leader's direction
- give additional suggestion if they want (not stopping the idea)
- follow the leader's direction and just do it (as long as they dong break any rule)
Banyak anak anak yang belum apa apa sudah protes ke leadernya, dan didukung orang tua pula!
Ingat lagi, all great leaders have been good followers before!
5) ASK THEM to TAKE INITIATIVE TO LEAD when there is an opportunity
Setelah mereka menjadi a good team player and a good follower,
Pada saat ada opportunity untuk menjadi leader suruh mereka mengacungkan tangan.
Apakah itu Ketua Kelas, ketua regu pramuka, ketua seksi OSIS.
Selama itu membuat mereka belajar menjadi leader yang baik.
6) REWARD THEIR EFFORT (not only their success)
Jangan lupa
memberikan penghargaan kepada mereka atas kesuksesan mereka dan juga usaha mereka (meskipun mereka gagal!).
Seandainya buah hati anda mencalonkan menjadi ketua kelas, tapi masih belum terpilih, ajari mereka untuk mengucapkan selamat kepada sang pemenang, hargai keberanian mereka, berikanlah hadiah atas kegagalan (dan usaha ) mereka.
Jadi mereka akan berani untuk
mencoba lagi.
Leader know how to rise again after their failures.
Jadi , inget ya, untuk mendidik anda menjadi leader sejak kecil, coba terapkan langkah langkah di bawah ini ...
1) LET THEM EXPLORE THEIR STRENGTH
2) BUILD THEIR CONFIDENCE, based on THEIR STRENGTH
3) ENCOURAGE THEM TO PARTICIPATE IN AN ORGANIZATIOn
4) ENCOURAGE THEM TO BE A GOOD TEAM PLAYER
5) ASK THEM to TAKE INITIATIVE TO LEAD
6) REWARD THEIR EFFORT (not only their success)
Hal hal di atas apabila dikerjakan dengan konsisten akan membantu anak anda untuk;
- menemukan strengthnya
- membangun rasa percaya dirinya
- mendidik dia menjadi teamworker yang baik
- melatih dia menjadi follower yang baik
dan pada akhirnya akan mengembangkan dia menjadi leader yang baik
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Rabu, 25 Januari 2017
HANDLING YOUR FIRST INTERVIEW
Namanya Noval, seorang mahasiswa Indonesia yang sekarang sedang kuliah di Hong Kong.
Noval suka membaca artikel saya, dan hari itu Noval memberanikan diri untuk bertanya,"
Pak Pam, minggu depan saya harus interview di sebuah perusahaan di Hong Kong untuk internship program saya. Saya bingung dan gugup pak. I dont know what to do? Saya kan belum pernah interview. Saya juga belum pernah ketemu HR. What should I do?"
Sepertinya hal yang dialami Noval ini sering dialami yang lain. Banyak sekali mahasiswa yang pintar , IP nya tinggi dan rajin berorganisasi. Tapi bingung bagaimana harus menjalani wawancara pertama. Apalagi seperti yang dikatakan Noval, "Saya belum pernah bertemu HR?"
Seolah-olah HR itu makhluk yang menakutkan.
Let me tell you one thing, HR itu bukan seperti yang anda bayangkan. HR itu jauh lebih menakutkan dari apa yang anda bayangkan ....😀😀😀.
Padahal Noval (dan mahasiswa mahasiswa lain) punya banyak kelebihan.
Mereka sudah kuliah sekian tahun, dan juga banyak pengalaman berorganisasi.
Dan kalau kalian tidak punya kelebihan, pasti HR gak akan panggil interview. HR terlalu sibuk dan waktunya terlalu sedikit, jadi tidak mungkin HR akan memanggil kalian kalau kalian tidak punya kelebihan.
Nah inilah hang harus menumbuhkan self conficence anda, agar tampil percaya diri di depan HR (atau siapapun yang mewawancari anda).
Ok, inilah tips tips yang anda bisa pelajari sebelun anda maju ke interview dengan HR.
The 5 rules to talk to HR during your first interview
1) Be Confident, Be Yourself
(you have a lot of great qualities)
Buat daftar 5 kelebihan yang anda punya (prestasi akademis, pengalaman organisasi, bakat seni, olahraga ...etc).
Tulis daftarnya, di setiap item tuliskan mengapa anda menyukai itu dan bagaimana anda mencapai prestasi itu.
Jawab dengan daftar ini (bila ditanya).
Paling tidak, daftar ini akan menambah rasa percaya diri anda.
2) Come on time, dress properly
Disiplin dan sopan santun adalah penting.
Jadi anda harus berpakaian yang sopan, berpenampilan sopan, datang tepat waktu dan menggunakan kata kata yang sopan dan professional.
Jangan lupa datang 15-30 menit sebelum waktunya supaya anda yakin anda datang tepat waktu.
Jangan pernah datang terlambat !
3) Understand the questions, take 3 second breaks (while thinking and organizing your response) then Answer clearly within 2 minutes (Talk slowly and enunciate your sentences)
- Mengertilah pertanyaannya , kalau tidak mengerti, tanyakan lagi
- Kemudian pikirkan jawaban anda beberapa saat
- Sampaikan jawaban anda dengan tegas, pelan dan jelas.
Prononsiasikan jawaban anda dengan baik.
Ennunciate!
Kalau perlu latihan di depan cermin atau kamera video!
4) Learn about the company from Internet.
(Find 2-3 reasons why that company is the right place to work and develop your skills)
Belajarlah tentang perusahaan tersebut.
Jangan masuk ke sembarangan perusahaan.
Sebaiknya anda masuk ke perusahaan itu karena anda cocok dengan budaya kerjanya dan juga percaya bahwa perusahaan itu tempat yang tepat untuk mengembangkan competence, skills dan karier anda!
Pelajari perusahaan itu, analisa kenapa itu tempat yang tepat bagi anda, sampaikan kepada HR kenapa anda tertarik untuk masuk ke sana.
5) Find 5 popular interview questions in Google and script your answers for those 5 questions.
Dengan persiapan 1-4 di atas, kadang kala anda masih akan gugup. Latihan dulu ya ...
Practice makes perfect.
Cari 5 pertanyaan interview yang paling popular di Google, kemudian jangan tiru jawaban mereka, tulis jawaban anda sendiri, buat script nya, latihan dulu berulang ulang di rumah pakai cermin atau kamera video.
The you go ahead, voila, you are ready for your 1st interview.
Kalau berhasil, congratulations!
Kalau belum berhasil, thats ok, pelajari, evaluasi, analisa, dan perbaiki dengan latihan lagi menurut step 1-5 di atas.
Jadi ingat ya ....
The 5 rules to talk to HR during interview
1) Be Confident, Be Yourself
2) Come on time, dress properly
3) Understand the questions, then answer clearly within 2 minutes
4) Learn about the company
from Internet.
5) Find 5 popular interview in Google and script your answers for those 5 questions
Catat, praktekkan dan terapkan kelima langkah praktis di atas.
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Minggu, 22 Januari 2017
WHEN AN INTROVERT IS TRAPPED IN AN "EXTROVERT" WORLD?
( Bagaimana seorang introvert bisa sukses di tempat kerja?)
Siang itu saya baru saja selesai membantu Putri mem-fasilitasi strategic discussion untuk timnya.
Saat Putri mengucapkan terima kasih di koridor,
Putri memperkenalkan saya dengan seorang Intern di timnya. Sebut saja namanya Fahmi (lulusan Ekonomi dari sebuah Universitas terbaik di negeri ini).
Tertarik dengan apa yang saya paparkan siang itu,
Fahmi langsung mendekati saya dan mengajukan sebuah pertanyaan,"Pak, bagaimana saya bisa berprestasi di kantor ya? Padahal saya seorang introvert. Sepertinya dunia kerja diciptakan untuk para extrovert. Dan memang benar apa yang Bapak sampaikan bahwa untuk berprestasi di tempat kerja, kita perlu 3C, Competence, Confidence, Communication. Makanya teman teman saya yang extrovert semuanya berprestasi baik pak. Karena mereka dengan lancar menyampaikan ide-idenya dan berhasil menarik perhatian atasannya. Bagaimana dengan kami pak? Kami adalah orang orang introvert? Apakah ada masa depan bagi kami?"
Wah pertanyaannya keren banget. Sayangnya hari itu saya harus terburu buru drive ke Sentul. Jadi saya hanya menjawab secara ringkas. But I really want to help him. Itulah mengapa saya menulis artikel ini.
(Fahmi, artikel ini ditujukan untukmu dan juga semua orang introvert yang ingin sukses!)
Pertama, mari kita bahas dulu, dunia kerja yang sedang kita tekuni.
Saya selalu menyampaikan, banyak yang kariernya tidak berkembang, bukan karena mereka tidak pintar, bukan karena mereka tidak competent. Tetapi ternyata competent saja ternyata tidak cukup.
Kita harus mempunyai 2 C yang lain yaitu confidence dan communication skills.
Karena anda tidak akan bekerja sendirian. Pada akhirnya anda akan bekerja dalam sebuah tim. Jadi prestasi anda tidak hanya diukur dari kepintaran anda atau kompetensi anda.
Tapi prestasi anda diukur juga dari :
- kontribusi anda kepada hasil kerja tim secara keseluruhan
- apakah anda menyumbangkan ide anda kepada tim
- quality of idea that you bring to the team
- kemampuan anda menyuarakan, mempresentasikan dan menjual hasil kerja tim anda kepada tim- tim yang lain
Lihatlah betapa ternyata mempunyai competence yang tinggi sama sekali tidak menjadi jaminan bagi kesuksesan kerja anda.
Confidence dan communication memegang peran yang sangat penting!
Dan disinilah dunia kerja sedikit memberikan advantage kepada mereka yang extrovert.
Orang extrovert memang menemukan energynya (mengecharge batteray nya) dengan berinteraksi dengan orang lain. Dan mereka ini frustasi bila harus berada di sebuah tempat sendirian selama beberapa waktu.
Dan tentu saja orang orang extrovert kalau bekerja bersama dengan yang lain dan harus banyak ngomong, mereka akan seperti ikan dalam air. Mereka akan dengan lincahnya berenang, berkomunikasi, mengeluarkan joke atau bahan candaan dan juga menyampaikan ide ide mereka.
Padahal menurut orang orang introvert, ide ide orang extrovert itu belum tentu lebih bagus. Cuma memang orang orang introvert tidak mampu menyampaikan idenya.
Bagi orang orang extrovert, congratulations! Selamat menikmati kelebihan anda, namun anda juga harus berhati-hati. Jangan sampai anda dikenal sebagai sesorang yang hanya bisa ngomong saja tapi tidak bisa mengimplementasikan. Make sure that you are a "talker" and also a "doer".
Sekarang, bagaimana seandainya anda seorang introvert?
Congratulations, selamat!
Karena yakin anda punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Anda harus mengidentifikasi kelebihan itu dan menjadikannya bekal untuk rasa percaya diri anda.
Namun anda juga harus menyadari bahwa kemajuan karier anda akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan anda berkomunikasi dengan orang lain.
Jadi bagaimana dong? Kalau anda mau maju karier anda, mau dipromosi berarti selain kompetensi anda juga harus mengasah confidence dan communication skills anda.
Ada yang pernah bertanya ke saya,"Pak Pam, bukankah kita justru harus menjadi diri kita sendiri? Be yourself? Kalau memang kita introvert bukankah sebaiknya kita tetap introvert?"
I did not say that you
have to be someone else. Saya tidak bilang anda harus menjadi orang lain.
You have to be yourself, with better and updraded version everyday.
Sebaiknya anda menjadi diri anda sendiri dan anda juga memperbaiki diri anda setiap hari. Memperbaiki diri anda dengan belajar satu hal yang baru untuk melengkapi port folio anda, untuk memperbaiki CV anda (dan menaikkan gaji anda kan?).
Itulah mengapa saya menyarankan bahwa dengan kelebihan yang anda punyai, dan meskipun anda introvert, tetapi seandainya anda mengembangkan confidence dan communication anda, jalur career path anda akan lebih maju lagi.
Terus bagaimana dong melatih dan membina confidence dan communication skills anda?
Coba terapkan langkah langkah di bawah ini ....
1. BUILD YOUR CONFIDENCE
Buatlah daftar dari kemampuan yang anda miliki : akademis, olahraga, seni, bahasa, apapun.
Daftar ini unik dan hanya anda memiliki daftar kemampuan seperti itu.
Bangunkan rasa percaya diri anda dengan daftar ini.
Ingat kalau anda bisa menjadi bagus dalam hal hal tersebut, berarti anda juga bisa mengasah kemampuan lainnya.
2. WRITE DOWN YOUR IDEA, BEFORE YOU SAY IT
Pada meeting meeting seringkali anda kesulitan menyampaikan ide anda. Terapkan cara ini:
- Mengertilah masalahnya
- Pikirkan ide untuk memperbaik atau memecahkan masalahnya
- Tuliskan dulu ide anda
- Sampaikan ide itu pada meeting
- Kalau anda susah mengentirupsi orang, angkat tangan anda, minta ijin untuk berbicara
3. PRACTICE YOUR PRESENTATION SKILLS DURING THE WEEK END
Pada hari sabtu atau minggu, latihlah presentation skills anda dengan cara, misalnya;
- mengajar bimbingan tes kepada anak anak SMA pada mata pelajaran yang anda suka
- mengajar atau memberikan motivasi kepada anak-anak panti asuhan
- atau apapun yang akan melatih anda untuk tampil dan presentasi di depan public
4. VOLUNTEER TO DO PRESENTATION FOR YOUR TEAM
Seringkali pada saat team meeting atau training, akan ada seseorang yang ditunjuk untuk mempresentasikan hasil diskusi.
Angkat tangan anda dan jadilah volunteer bagi group anda.
The best way to face the fear is "just do it"
5. HAVE LUNCH WITH OTHERS, SHARE YOUR STORIES
Sering seringlah makan siang dengan teman anda di kantor. Mulai tanyakan sesuatu kepadanya dan dengarkan. Dan setelah itu mulailah anda menceritakan tentang anda sendiri atau pengalaman anda.
Kalau susah , kalau perlu bikinlah script anda, dan anda edit sendiri biar menarik. Dan juga pilihlah pengalaman hidup anda sendiri yang menarik, inspiring atau bahkan lucu. Hal hal di atas akan melatih kemampuan anda berbicara di depan orang lain.
Selamat mencoba dan semoga hal hal di atas akan meningkatkan competence, confidence dan communication skills anda.
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Kamis, 19 Januari 2017
THE FIVE LEVELS OF LEADERSHIP
(LIMA LEVEL KEPEMIMPINAN)
Sabtu pagi yang cerah, saya masih hobby menyetir sendiri. Dan pagi itu saya trip bersama beberapa teman, saya diundang ke Bandung untuk menjadi dosen tamu di sebuah perguruan tinggi ternama.
Saya suka berangkat jam 4 pagi untuk menghindari kemacetan Cipularang. Sementara yang lain ketiduran di belakang, di kursi depan duduklah Fauzan (bukan nama aslinya) yang menemani perjalanan saya.
Fauzan masih muda dan baru meniti kariernya di bidang Human Resources. Dia saat ini bekerja di sebuah perusahaan asing, dan mempunyai prospek karier yang sangat menjanjikan.
Dan Fauzan pun memulai pertanyaannya," Saya kan baru memulai karier saya ... Jadi saya ingin menanyakan nih dari awal. Sebenarnya bagaimana sih caranya untuk menjadi leader yang baik itu"
Fauzan menambahkan," Soalnya kok banyak banget yang bermasalah dengan bossnya. Saya punya masalah dengan boss saya yang suka uring uringan. Teman saya punya masalah dengan bossnya yang pemarah. Ada lagi yang bermasalah dengan bossnya yang perfectionist dan menuntut terlalu tinggi. Memang mungkin gak sih sebenarnya jadi leader yang baik itu? Dan bagaimana?"
Fauzan berhenti sejenak dan meneguk botol Aqua kecil di depannya.
Pertanyaan Fauzan tentang leadership mengingatkan saya pada salah satu buku koleksi saya yang dikarang oleh John Maxwell "The Five level of Leadership."
Buku itu menerangkan dengan jelas konsep leadership.
Kita bahas di sini yuk ...anggap saja sebagai bedah buku.
Menurut John Maxwell, Leadership itu melalui 5 level....
1. Level 1 ( POSITION)
Maksudnya seseorang menjadi leader di posisi ini , dan tentunya semua orang wajib memandang dia sebagai leader karena posisinya.
Unfortunately, mungkin pada level ini, tim menganggap dia sebagai leader hanya karena dia yang ditunjuk oleh manajemen untuk menempati.
Akibatnya anak buahnya sering ogah-ogahan dan hanya melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan tanpa ingin melebihi itu (padahal kita mengharapkan semua orang melakukan extra milles).
Jadi sebaiknya seorang leader melangkah dari Level 1 ke Level 2.
2. Level 2 (RELATIONSHIP)
Pada level 2 ini tim mulai menyukai leadernya karena orangnya baik (he is very nice). Senyum dan baik pada semua orang. Jadi semua orang juga menyukai dia. Sayangnya anda hanya bisa stay di posisi ini untuk beberapa lama saja. Setelah itu anda kan tidak bisa bertahan lama di situ hanya karena anda baik dan mempunyai hubungan baik dengan semua orang. You have to bring the result ..
That's why you have to move to the next level ...
3. LEVEL 3 (RESULT)
Pada level ini, orang orang di sekilingnya menghormati leader karena dia memang menghasilkan result dan business impact yang significant untuk bisnis.
Semuanya mulai memandang dan berfikir,"Wah ... ternyata leader ini productive juga ya ... dan ternyata performance dan resultnya bagus"
Voila ...., pada level ini
1. Anda mendapatkan posisinya
2. Anda disukai orang
3. Anda menghasilkan sesuatu yang berarti bagi perusahaan.
Keren kan? Eiiits, tunggu dulu... ada 2 level lagi di atasnya
4. Level 4 (PEOPLE DEVELOPER)
Pada level ini orang orang menghormati anda, karena...
- anda menempati posisi leadership
- anda baik dan disukai
- anda menghasilkan sesuatu yang sangat productive untuk perusahaan
DAN ANDA SELALU MENDIDIK DAN MENGEMBANGKAN ANAK BUAH ANDA.
(You always develop your people).
Anda mempunyai reputasi bahwa anak buah anda selalu mendapatkan promosi karena keberhasilan anda mengembangkan mereka.
Sebagian bahkan diminati oleh atasan yang lain, karena reputasi mereka.
Bravo ... you are not only a great leader with great business result, but you are also a people developer.
5. LEVEL 5 (RESPECT)
Pada level ini, orang orang sangat menghargai anda karena anda secara konsisten dan bertahun tahun selalu melakikan perilaku yang digambarkan pada leadership level Satu, Dua, Tiga dan Empat.
Semua orang sangat menghormati anda.
Dan peribahasanya anda mampu memindahkan gunung tanpa menyentuhnya ( moving the mountain without touching it).
That's leadership through influence. You can influenc
e and mobilize people to go to the same direction, and they will follow you becase of your personality, your capability, proven track record and your credibility.
Obviously, sekarang kita harus meng-assess diri kita sendiri dan menentukan di mana leadership level kita?
And wherever your level is, it is ok, because the most important thing is not to understand what your level is. The most important is to create action plan and implement it so you can move from one level to the next level.
Jadi ingat ya ... lima level of Leadership yang dituliskan oleh John Maxwell ...
1. Position
2. Relationship
3. Result
4. People Developer
5. Repect
Lets learn, assess, create our own action plan, implement and improve.
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Selasa, 17 Januari 2017
1. Proses rekrutmen harus makin cepat
2. Employer branding bagi perusahaan
3. Nilai kandidat dengan baik
Senin, 16 Januari 2017
THE "WHAT" AND THE "HOW"
How to achieve your business objectives while securing your success in the future ...
(Bagaimana mencapai sebuah objective bisnis anda sambil tetap mempertahankan kesuksesan di masa depan)
"Pak Pam, I need your help."
I-phone saya berdering pada saat saya menyetir bersama keluarga saya menuju de Ranch di Lembang. Saya memang sedang memperkenalkan alam Indonesia kepada anak anak saya (yang lahir di luar negeri).
"Maaf Pak, saya sedang menyetir, boleh saya telpon 1 jam lagi"
Saya melihat layar handphone saya, di situ tertera nama Pak Aji (bukan nama sebenarnya), beliau adalah seorang HR Manager di sebuah perusahaan ternama di Jakarta.
Setelah saya selesai menyetir dan anak anak saya mulai bermain-main di sana, saya pun menelpon pak Aji.
"Begini pak Pam, di perusahaan saya itu banyak sekali Manager yang performance nya bagus, tetapi behavior nya tidak sesuai dengan nilai-nilai perusahaan kami. Sementara ada manager yang perilakunya baik dan sesuai nilai nilai perusahaan kami tetapi performance nya jelek.
Padahal kami kan harus menilai performance mereka dan membayarkan bonus sesuai performance mereka.
Tetapi kalau hanya performance yang dinilai, kami takut sekali bahwa manager manager yang tidak sesuai dengan nilai nilai perusahaan kami akan membahagiakan perusahaan kami di masa depan karena manajer manajer itu bisa saja melakukan tindak kecurangan, korupsi atau bahkan menyuap ke pihak luar, dan itu bisa membahayakan perusahaan kami di masa depan. Jadi bagaimana dong tahun depan kami bisa memberikan sasaran kerja yang mencakup bukan hanya performance nya tapi juga mencakup proses ke arah sana? Karena dua duanya kan sama pentingnya?"
Pak Aji, you asked a very smart question. Dan mari kita bahas bersama ya ....
Kita semua menginginkan bahwa perusahaan itu akan mencapai kesuksesan bukan hanya sekarang (jangka pendek) tetapi juga di masa yang akan datang (jangka panjang).
Selama ini kita hanya melakukan pengukuran pada hasil yang mereka capai. Contohnya orang sales, kita mengukur berapa jumlah penjualan yang mereka hasilkan. Kemudian kepada orang HR kita mengukur berapa recruitment atau berapa employee engagement sebagai hasil dari jerih payah mereka.
Tetapi seringkali kita lupa mengukur "how" they did it.
Akibatnya banyak manager atau leader yang menghalalkan segala cara untuk mencapai business objective nya.
Bahkan mereka bisa saja :
- melakukan kecurangan financial (fraud)
- melakukan penyuapan dengan pihak luar (bribery)
- jahat kepada anak buahnya (bullying)
.. dll
Dan hal hal di atas tentunya akan membawa resiko yang besar pada perusahaan di masa depan.
Dont get me wrong. I am not saying that we will tolerate bad performance with good behavior.
I am saying that we have to balance both (performance and behavior).
Dan tentunya talent talent yang cemerlang adalah talent talent yang menghasilkan performance yang excellent dengan perilaku yang sangat bagus dan bisa menjadi contoh (role model) bagi yang lain.
Akibatnya sangat fatal, karena kita tidak mampu mengukur "how" nya, kita terpaksa hanya mengukur "what" nya. Akibatnya para "good performers" yang berkelakuan minus dan tidak sesuai dengan nilai nilai perusahaan, terpaksa kita kasih nilai bagus dan kita kasih bonus yang tinggi. Karena itu memang itu yang dijanjikan di awal tahun. Kan gak fair kalau kita hanya memasukkan performance sebagai parameter penghitungan bonus tetapi kemudian di akhir tahun kita mengukur parameter yang berhubungan dengan perilaku.
Jadi kalau anda mau memperbaiki sistemnya jangan lakukan itu di akhir siklus performance management, lakukanlah di awalnya.
Beberapa organisasi dan perusahaan yang canggih sudah mampu menyeimbangkan pengukuran antara what (they have to achieve) and how (they achieve the result).
Inilah yang akan dinamakan KPI atau Key Performance Indicator (untuk hasilnya, the "what") dan KDI atau Key Development Indicator (untuk prosesnya, the "how"). Bobotnya tentunya 50-50 karena sama sama pentingnya.
Atau malah lebih bagus lagi kalau nilai keduanya (KPI and KDI) dikalikan. Sehingga terjadi mul
tiplication effect. Berarti kalau salah satu factor jelek maka total nilainya akan jelek. Misalnya sebagus apapun hasilnya kalau "how" nya jelek ya nilai total akhirnya akan jelek. Tetapi kalau dua faktor itu bagus berarti nilai total akhir akan bagus banget dan bonusnya akan berlipat ganda.
Kalau KPI semuanya sudah tahu isinya apa karena semua perusahaan menjalankannya.
Yang juga harus diukur adalah KDI (Key development indicators), yang harus diukur melalui 3 perspective of leadership (Lead Your Business, Lead Your Team, Lead Yourself).
Kita kupas satu persatu apa yang kita bisa ukur ...
1) Lead Your Business
1.a) Apakah karyawan memahami (semua peraturan) dan selalu bertindak sesuai peraturan perusahaan dan perundang-undangan yang berlaku
1.b) Apakah karyawan selalu mementingkan kepentingan perusahaan di atas kepentingan pribadi
1.c) Apakah karyawan menjaga keseimbangan antara pencampaian objective tahun ini dan kelangsungan bisnis perusahaan di masa depan (berinovasi untuk masa depan)
2. Lead Your Team
2.a) Apakah karyawan selalu memotivasi anak buahnya untuk mencapai yang terbaik bagi perusahaan?
2.b) Apakah karyawan selalu mendevelop anak buahnya melalui berbagai metode pelatihan (training, coaching, mentoring, on the job learning)
2.c) Apakah karyawan selalu mendorong anak buahnya untuk mengembangkan kariernya dengan cara promosi (vertical move) atau lateral move (rotasi ke jabatan lain yang selevel)
3. Lead Yourself
3.a) Apakah karyawan selalu menjadi role model, panutan dan suri tauladan (dalam menjalankan nilai nilai budaya perusahaan) bagi anak buahnya baik dalam kehidupan profesional maupun pribadi
3.b) Apakah karyawan selalu mengembangkan dirinya sendiri dalam hal pengembangan kompetensi dan karier
3.c) Apakah karyawan berani berinovasi (melakukan cara cara yang berbeda) untuk mengembangkan dirinya, timnya dan bisnisnya.
Jadi ingat , demi kesusksesan perusahaan di masa sekarang dan masa depan, sangat penting untuk mengukur bukan hanya "what" they achieve, tetapi juga "how" did they do to achieve the objectives. Di situlah pentingnya melakukan pengukuran KPI (key performance indicators) dan KDI (key development indicators).
KPI itu menyangkut performance bisnis di setiap function. KDI itu menyangkut bagaimana karyawan bekerja sehari hari, ditinjau dari segi
- Lead Your Business
- Lead Your Team and
- Lead Yourself
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Jumat, 13 Januari 2017
PESAN TERAKHIR SEORANG AYAH
(Bagaimana mendidik anak-anak kita agar independent)
Di sebuah kota tua di Eropa Utara, ada sebuah museum kecil. Dan di sana dipajang sebuah botol yang usianya sudah ratusan tahun. Di dalam botol itu ada selembar kertas tua yang digulung, warnanya sudah kecoklatan dimakan waktu. Tidak ada yang tahu apa yang tertulis di kertas itu. Setiap kali ada pengunjung musemum yang bertanya, seorang kurator akan bercerita.
Pada jaman dahulu kala ada seorang Raja yang sakit keras dan akan meninggal. Kemudian dia berpesan kepada Putra Mahkota yang baru berumur 16 tahun,"Anakku , sebentar lagi aku akan meninggal. Kamu yang akan berkuasa di Kerajaan ini"
"Tapi aku belum siap, Ayah"
"Kamu sudah siap. Kamu akan menjadi Raja yang baik."
"Tapi bagaimana kalau ada masalah besar , Ayah"
"Jangan khawatir, Aku sudah menyapkan jawabannya. Ini ada botol. Di dalamnya ada jawaban dari masalah apapun yang kamu alami. Jadi pecahkanlah botol itu, kalau kamu sedang menghadapi masalah"
"Oh, terimakasih Ayah"
"Tetapi ingat Anakku, kamu hanya punya satu botol"
"Jadi setiap kali kamu ingin memecahkan botol itu. Yakinlah bahwa itu masalah terbesar yang akan kamu hadapi seumur hidupmu"
Raja pun meninggal, dan Putra Mahkota menjadi Raja.
Dia terkenal sebagai Raja yang cukup bijaksana. Tetapi tetap saja terkadang menghadapi masalah yang besar. Dan dia pun tergoda untuk memecahkan botol itu. Tapi dia teringat pesan Almarhum Ayahnya. Dan karena dia yakin di masa depan akan ada masalah yang lebih besar dia pun terus berusaha untuk memecahkan masalah tanpa memecahkan botol peninggalan ayahnya. Dan ternyata masalahnya berhasil dia atasi. Begitu seterusnya sampai akhirnya dia pun sakit keras. Dan dia pun meninggalkan botol dan pesan yang sama kepada anaknya. Dan begitu seterusnya sampai ratusan tahun kemudian, botol itu tetap tersimpan rapi di museum, dan tidak ada yang tahu sebenarnya apa isi pesan di dalam botol itu.
Karena mereka selalu berusaha "memecahkan masalah tanpa memecahkan botol" itu.
Negara-negara di Eropa Utara sangat kaya dan mereka banyak mempunyai minyak di dalam bumi mereka. Tetapi bagi mereka minyak itu adalah pesan di dalam botol. Sekali mereka mengambil minyak mereka tahu bahwa mereka tidak akan bisa mengambilnya lagi. Jadi mereka tidak menggali minyak itu. Mereka bahkan mempunyai referendum, di mana mayoritas warga negara harus setuju sebelum mereka menggali minyaknya. Artinya mereka selalu berusaha sekeras mungkin bekerja sebelum menggali minyak. Ternyata suatu saat seandainya ekonomi dunia hancur dan semua negara bangkrut, mereka masih punya minyak.
Mungkin ini sindiran halus bagi negara yang terburu buru menjual semua sumber alamnya ke luar negeri sebelum bekerja keras. (Saya lupa nama negara itu :-).
Sementara negara negara Eropa
Utara lebih suka bekerja keras dan menggunakan otaknya sebelum mereka memecahkan botol terakhir mereka (minyak).
Seorang teman saya, sebut saja namanya David, menggunakan prinsip yang sama kepada anak perempuannya.
"Dila, kamu sebentar lagi lulus SMA.
Papa akan memberikan kamu tabungan senilai Seratus Ribu Dollar. Terserah kamu. Kamu boleh menggunakan uang itu untuk kuliah S-1 di mana saja. Tapi ingat, itu adalah tabungan terakhir yang akan Papa berikan seumur hidupmu.
Atau ... kamu bisa juga belajar keras dan mendapatkan beasiswa dan menggunakan uang itu untuk kuliah S2.
Atau ... kamu bisa juga mencari beasiswa S1 dan S2 dan menggunakan tabungan itu untuk memulai usahamu kelak.
Atau kamu bisa juga mencari investor untuk usahamu dan menggunakan uangmu untuk apapun yang kau mau.
Tapi ingat uang itu adalah "pesan dalam botol sang Raja". Apapun yang kamu lakukan terserah kamu. Tetapi sekali kamu mengambil uang itu, Papa tidak akan pernah memberi uang lagi ke kamu seumur hidupmu!
And I mean it.
Dila belajar keras , mendapatkan nilai yang tertinggi dan sekarang mendapat beasiswa di Amerika untuk program S-1 nya.
Bayangkan, betapa hebatnya David mengajarkan anak anaknya untuk hidup mandiri dan independent.
Sementara saya mengenal banyak teman teman saya yang mem
bayark kuliah anak anak mereka , S1, S2, membantu mencarikan pekerjaan, membelikan mobil setelah anaknya bekerja, bahkan membelikan rumah pada saat anak anaknya menikah.
Bagaimana anak anak mereka akan bisa mandiri dan independent.
Sama seperti anak anak yang belajar baik sepeda waktu kecil.
Mereka tidak akan pernah bisa naik sepeda kalau kita selalu memegangi sepeda mereka dari belakang.
When you raise your children,
Let them ride.
Let them try.
Let them fall.
Let them feel the pain.
Let them cry.
Let them learn from their mistake.
Let them stand up again and again.
Do not hold their hands all the time.
Let them
explore the world by themselves.
Let them fly ...
Intinya kita harus mengajarkan anak anak kita untuk mandiri, independent dan berani menjelajahi dunia tanpa pertolongan kita.
Terus bagaimana dong, prakteknya agar kita bisa mendidik mereka untuk menjadi independent?
1. Biasakanlah mereka untuk mengerjakan pekerjaan mereka sendiri .
Membereskan kamar, mengatur baju, mengatur budget mereka dari uang saku mereka.
2. Ajarkan bahwa kunci sukses itu adalah dengan bekerja lebih keras.
If you want to achieve more, you just have to work harder and more ....
There is no such thing as work hard not smart.
You have to work harder and smarter.
3. Ajarkan mereka keseimbangan antara prestasi akademis, kepribadian, olahraga dan seni.
Itu semua akan sangat diperlukan dalam kehidupan mereka di masa depan.
4. Invest in their future. Siapkan budget yang cukup untuk sekolah mereka sekarang, jangan irit kalau
mereka mau beli buku buku, dan invest in their hobby.
Remember, when you invest your "brain", one day you will see the result in their future in their "wallet"
5. Give them pressure but balance it with Support and reward
Seorang anak hanya akan perform kalau mendapatkan balance antara motivasi, pressure, support and reward.
Jugglinglah dengan semua itu agar anak anda menjadi karakter dan pribadi yang seimbang.
6. GIVE THEM EXAMPLE HOW YOU WORK HARD
Action talk louder than words
Kalau anda ingin anak anak anda bekerja keras, anda juga harus bekerja keras dan memberikan contoh (teladan ) kepada anak anak anda
Cobalah.
Terapkanlah.
Laksanakanlah.
Memang berat pada awalnya.
Tetapi pada akhirnya anak anak anda akan sangat berterimakasih kepada anda.
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Rabu, 11 Januari 2017
NEVER EVER GIVE UP
(Jangan pernah menyerah!)
(Pambudi Sunarsihanto)
Nelayan-nelayan Jepang mencari nafkah dengan membawa ikan dari laut dan menjualnya kepada konsumen mereka di tengah kota mentah-mentah. Orang Jepang memang suka memakan ikan mentah.
Tetapi ternyata perjuangan nelayan Jepang untuk mendatangkan ikan ikan itu ke tengah kota sangatlah berat.
Ikan ikan itu berada di tengah laut yang jauh. Dan pelanggan mereka ada di tengah kota. Jadi mereka harus berfikir keras mencari cara agar ikan ikan itu tetap fresh pada saat disajikan.
Pertama kali mereka ambil ikan ikan itu di laut dengan jala dan kemudian mereka bawa ke kota.
Tetapi lamanya perjalanan membuat ikan-ikan itu bau. Dan pelanggan tidak suka.
Kedua, mereka membawa kulkas yang besar di kapal mereka. Dan mereka bawa ikan ikan itu di dalam kulkas agar ikan ikan itu tidak bau.
Tetapi ternyata ikan ikan di dalam kulkas tetap saja rasanya berbeda dengan ikan ikan di laut. Pelanggan mereka menolak ikan dari kulkas.
Ketiga kali, mereka membuat kolam kecil yang mereka letakkan di dalam kapal mereka. Jadi ikan ikan itu berenang selama perjalanan menuju ke kota. Sekarang ikan-ikan itu sampai di daratan dalam keadaan fresh.
Tetapi ternyata karena ikan-ikan itu malas berenang selama dalam perjalanan (karena kolamnya jauh lebih kecil daripada lautan), akhirnya ikan-ikan itu menghasilkan lemak yang jauh lebih banyak dalam dagingnya dan rasanya pun berbeda dengan ikan ikan yang banyak berenang di lautan.
Dan pelanggannya tidak suka makan daging ikan itu.
Nelayan-nelayan Jepang pun terus menerus berpikir bagaimana menyelesaikan masalah ini?
Seandainya anda menjadi nelayan Jepang apakah yang akan anda lakukan? Putus asa? Atau membunuh pelanggan yang terus menerus rewel itu (I would do that :-)).
Untungnya orang Jepang tidak mudah putus asa. Mereka memang tidak dikarunia keadaan yang mudah. Contohnya tanah mereka yang sangat beresiko gempa bumi. Akibatnya semua bangunan harus disiapkan agar tahan gempa.
Ternyata keadaan yang tidak mudah membuat orang orang Jepang menjadi pantang menyerah.
Jadi nelayan nelayan Jepang pun terus menerus berpikir tengang bagaimana membawa ikan-ikan dari tengah lautan ke tengah kota dan menyajikannya dengan mentah, fresh dan rasanya enak seperti diinginkan pelanggan mereka.
Akhirnya mereka menemukan caranya dengan melepaskan ikan ikan hiu kecil di kolam dalam perjalanan dari lautan menuju ke kota. Akibatnya karena ada ikan ikan hiu kecil tadi, ikan ikan yang lain ketakutan dan terus menerus berenang menghindarkan diri dari hiu kecil itu. Dan akibatnya mereka pun tetap fresh seperti baru diambil dari air laut.
Voila they have the solutions.
Intinya seberat apapun masalah anda, kalau anda terus menerus berusaha anda akan berhasil.
Dan ternyata kesuksesan tidak ditentukan oleh mudah atau susahnya hambatan yang anda hadapi. Semua orang kalau mau sukses pasti akan mengalami hambatan yang berat.
Sukses ditentukan oleh keteguhan, ketegaran dan keuletan anda pada saat anda menghadapi masalah anda (gagal naik kelas, tidak diterima di universitas yang anda mau, tidak diterima di perusahaan yang anda impikan, bangkrut dalam usaha anda, ditipu modalnya oleh teman anda atau apapun cobaan anda).
Kalau anda mau mencapai sukses anda tidak akan pernah punya pilihan untuk menghindar dari masalah masalah itu.
Kuncinya adalah ketegaran, keuletan dan keteguhan anda. Persistance and perserverance !!!
Padahal apapun yang kita lakukan biasanya selalu melalui perjuangan yang keras, jalan yang terjal dan seringkali banyak rintangan. Di situlah kita diuji. Dan hanya mereka yang tahan banting akan mencapai kesuksesan!
Jadi pada saat anda sedang berjuang keras untuk mencapai mimpi anda, dan pada saat hambatan hambatan itu datang bertubi tubi dan ketika motivasi anda sedang rendah rendahnya, apa yang bisa anda lakukan?
Cobalah lakukan langkah langkah di bawah ini ...
1. Adopt An “I Won't Quit” Mindset
Coba masukkan dan terapkan mindset untuk tidak pernah menyerah. Terobsesilah dengan keberhasilan itu. Dan lakukan apa pun yang diperlukan untuk mencapainya.
2. Watc
h Someone Else Persevere
Lihatlah orang lain yang juga pernah berjuang. Lihat film "Pursuit of Happiness" dan lihat bagaimana dia harus menderita, struggling, berjuang keras, dihina, dicela, menangis, meratap, ditinggal istrinya , tidur bersama gelandangan, sebelum akhirnya mencapai kesuksesannya.
Baca biografi orang sukses, lihat film biografi mereka, dan itu akan mengajarkan kepada anda tentang apa yang harus diperjuangkan sebelum anda mencapai keberhasilan.
3. Go Back to Your “Why”
Ingat bahwa pada awal perjuangan anda ada alasan tertentu mengapa anda memulai perjuangan ini.
Mungkin karena ingin mengubah nasib, mungkin karena ingin membangun masa depan yang lebih baik, ingin membuktikan kepada orang lain bahwa anda mampu, ingin menjadi kebanggaan anak anak anda, ingin membuat mantan anda menyesal, atau apapun ....? Ingat bahwa tujuan itu tidak akan tercapai kalau anda menyerah dan orang orang lain mungkin akan tersenyum karena mereka merasa benar (setelah mereka meremehkan anda).
4. Find a Different “How”
Keep trying, but change the method.
Ingat ada seribu jalan menuju Roma.
Kalau gagal anda harus mencoba cara yang lain.
Albert Einstein berkata,"Kebodohan adalah melakukan hal yang sama berulang kali dan mengharapkan hasil yang berbeda"
Explore, experiment and try new way of doing things.
5. Succeed at Something Else
Kadang kala, merasa tidak berhasil membuat anda demotivasi.
Anak saya yang kedua mengalami hal itu.
Pada saat dia pindah ke Indonesia dia harus menyesuaikan diri dengan kurikulum baru, sekolah baru dan teman teman yang baru.
Nilai raportnya kurang bagus.
Kemudian kami menganjurkan dia berolahraga senam. Ternyata dia senang dan berprestasi di situ, sampai mendapatkan empat medali waktu ikut kejuaraan di Manila.
Dari situ tumbuh rasa percaya dirinya dan dia berfikir,"Ternyata aku bisa menjadi juara!"
Tahun berikutnya dia belajar keras dan kemudian nilai-nilai akademisnya termasuk yang terbaik di sekolahnya.
You can do the same things.
When you keep trying and you still fail, do something else . Build your success in another area and build your self confidence so you can try again .
6. Use Failure As a Stepping Stone
Gunakan kegagalan sebagai batu loncatan.
Pelajari apa yang telah anda lakukan ...
- what went well
- what could be improved
And continuously improe so you can get closer to your success.
7. Keep Trying
Teruslah mencoba.
Teruslah berusaha.
You dont know how close you are to your destination.
So keep trying and never ever give up.
Just because you can’t see anything yet, although you’ve been working on your goal for awhile, this doesn’t mean that nothing is happening. You may be closer to achieving your dream than you think. Don’t give up, when you could be just moments away from succeeding.
Achieving large, hairy goals isn’t easy. Somewhere along the way it’s very likely that you’ll want to quit. But when you feel like quitting, don’t give up. Live your best life by refusing to quit. Start by applying the strategies explained above.
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Senin, 09 Januari 2017
5 BIGGEST MISTAKES THE SALES PEOPLE MAKE
(Lima kesalahan terbesar para sales)
Malam itu tiba-tiba Cynthia kirim WA ke saya,"Pak Pam, I need your help"
Cynthia adalah seorang Sales Manager di sebuah perusahaan Amerika yang beroperasi di Jakarta.
Dan Cynthia pun menceritakan lewat telephone.
Cynthia memimpin sebuah sales team, dan dia merasa team nya belum perform acara optimal.
Cynthia tahu, bahwa persaingan semakin berat, competitornya pun semakin "berani", anak buahnya sudah berusaha keras.
Tapi tetap saja performance mereka belum maximal. Terlalu banyak yang ditolak prospect mereka. Dan success rate dari sales effort mereka perlu ditingkatkan.
Banyak sekali yang melakukan kesalahan pemula seorang sales jadi effort mereka banyak yang terbuang sia-sia.
Apa yang harus saya lakukan supaya kesalahan ini tidak terulang tahun depan Pak Pam?
Wah kasus ini menarik ya? Dan saya yakin tidak hanya dialami oleh Cynthia, tapi saya yakin juga dialami oleh sales team yang lain.
Pertama , saya selalu mengagumi orang orang yang berani terjun ke dunia sales. Kerja mereka luar biasa keras, dan tentu saja tanpa revenue yang mereka hasilkan, function function yang lain tentu saja tidak akan bisa hidup.
Mereka lah yang menghidupkan sebuah perusahaan.
Kemudian, permasalahan yang mereka hadapi dalah bagaimana mereka harus mempengaruhi orang lain untuk membeli product mereka.
Padahal kalau kita perhatikan, misalnya saja sales yang menjual credit card di mall-mall.
Dari 10 orang yang mereka sapa , mungkin hanya 1 orang yang mau menjawab.
Dari 10 orang yang mau menjawab sapa mereka, mungkin hanya 1 orang yang tertarik untuk mengisi form aplikasi.
Dari 10 orang yang mengisi form aplikasi itu mungkin hanya 1 orang yang akan mengirim fotocopy KtP dan slip gaji untuk melengkapi applikasi.
Dari 10 orang yang dokumentasinya lengkap mungkin hanya beberapa yang benar benar diapprove untuk mendapatkan credit card.
Dan ini tentunya sama bagi sales credit card, rumah, mobil atau asuransi.
(I know what I am talking about, I have been in sales role myself).
It is a game of number!
Sebelum akhirnya mereka berhasil menjual satu, lihatlah berapa kali mereka harus gagal?
Jadi salah satu cara untuk meningkatkan penjualan adalah dengan menambah usaha mereka untuk menjual kepada prospek mereka.
Kedua, yang juga penting, adalah bagaimana mereka bisa tahan menghadapi "rejection" atau penolakan dari prospek mereka.
Kalau mereka tidak tahan dengan rejection, tentunya ini akan mempengaruhi usaha mereka ke prospek berikutnya.
Mereka harus tahan banting, bermuka tebal, cuek bebek dan tahan menghadapi penolakan!
Ketiga, yang juga sangat penting adalah bagaimana mereka meningkatkan success rate. Dan ini bisa dilakukan dengan menghindari kesalahan klasik para salesman.
Saya pernah bekerja bersama seorang Sales Director sebuah perusahaan ternama dan menganalisa apa saja kesalahan yang paling jamak dilakukan oleh ribuan orang sales mereka .
Dan inilah daftar kesalahan mereka.
Saya berharap anda-anda yang bekerja di sales bisa menenali kesalahan kesalahan ini dan tidak mengulangi kesalahan tersebut.
1. THEY TALK TOO MUCH
Banyak sales pemula yang berbicara terlalu banyak kepada calon pembelinya.
Padahal tentu saja kalau anda menjadi prospek anda akan sebal dan terganggu.
Tidak ada yang lebih menyebalkan bagi prospek anda, selain sales people yang terlalu banyak ngomong!
Sales people harus jago communication skills tapi ingat communication itu dua arah. Berbicara dan mendengarkan pelanggan mereka.
Seorang sales people yang berpengalaman mampu mengetahui (berdasarkan propek yang sedang mereka handle) , berapa banyak mereka harus berbicara dan berapa banyak mereka harus bertanya (dan mendengarkan)!
Pelajari hal ini agar anda mampu berbicara dan mendengarkan dalam jumlah (atau persentasi) yang tepat agar anda mampu menarik dan mempengaruhi prospek anda.
2. THEY THINK THEY CAN SELL ANYTHING TO ANYONE
Jangan membabi buta dan menjual product anda ke semua orang yang anda kenal.
Bukan karena mereka memiliki uangnya maka mereka akan membeli product anda. Pikiran dan prioritas
orang berbeda beda. Dan kemungkinan besar semua orang mempunyai plan tersendiri untuk keuangan mereka.
Anda harus yakin bahwa prospek anda memang MAMPU dan MEMBUTUHKAN product anda.
You cannot sell any product to anyboday.
3. THEY THINK THEIR PROSPECT UNDERSTAND THEIR PROBLEM
Di lain pihak banyak juga prospek yang tidak mengerti masalah yang mereka hadapi.
Banyak orang yang punya uangnya tapi tidak punya gambaran yang jelas tentang kebutuhan mereka.
Dalam hal ini, menjadi tugas anda untuk meng-edukasi mereka!
4. THEY BECOME UNPAID CONSULTANT
Sales tetaplah sales. Anda harus tetap berusaha menjual.
Mentang mentang anda punya waktu untuk berbicara dengan mereka, banyak yang akan memanfaatkan waktu anda untuk sekedar ngobrol berbasa basi dengan mereka, mencurahkan isi hati, mentraktir mereka makan siang, atau bahkan minta nasihan untuk urusan lain (tanpa dibayar!).
Jangan lakukan!
Be selective!
It is always good to build the network, memperluas jaringan bisnis anda.
Tapi tetaplah selective , pilih-pilih dan hanya menghabiskan waktu anda dengan orang orang yang berpotensi membantu anda mengembangkan bisnis anda.
5. THEY ARE NOT TRANPARENT
Pada saat anda sudah menemukan prospek yang berpotensi tinggi untuk menjadi client anda, bersikaplah transparent tentang product dan service yang anda tawarkan.
Sangat menyebalkan bagi client anda menghadapi sales yang menawarkan janji selangit tapi ternyata tidak mampu menepati atau memenuhi janjinya di masa depan.
Ini akan membunuh credibility anda!
Bersikaplah transparent tentang pro dan cons dari product anda.
Bersikaplah profesional.
Justru dengan sikap seperti itu, client anda akan memilih anda (dibandingkan dengan kompetitor anda).
Jadi ingat ya, inilah Lima kesalahan terbesar para sales ...
1. THEY TALK TOO MUCH
2. THEY THINK THEY CAN SELL ANYTHING TO ANYONE
3. THEY THINK THEIR PROSPECT UNDERSTAND THEIR PROBLEM
4. THEY BECOME UNPAID CONSULTANT
5. THEY ARE NOT TRANSPARENT
Mulailah untuk mengenali, mengingat dan tidak mengulangi kesalahan kesalahan tersebut.
Selamat mencoba .....
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Sabtu, 07 Januari 2017
HOW TO ADAPT AS A NEWCOMER
(Bagaimana seorang pendatang baru harus beradaptasi?)
Danang baru saja bercerita ke saya bahwa anaknya tidak cocok kuliah di Australia.
6 bulan yang lalu anaknya (sebut saja namanya Ines) berangkat kuliah ke sana mengambil jurusan International business.
Tetapi ternyata Ines sulit sekali beradaptasi dengan suasana di sana. Cuaca, makanan, universitas, teman teman baru dari negara yang berbeda, dan dosen dosen baru.
Setelah 6 bulan Ines pulang ke Jakarta.
Karena Ines terlihat stress, Danang pun mengajaknya ke psikolog.
Dan ternyata psikolog menganggap bahwa masalah Ines sangat serious, memerlukan penanganan khusus dan tidak merekomendasikan Ines kembali ke Australia. Sementara Ines harus deket deket dengan orangtuanya dulu.
Wah ternyata kuliah ke luar negeri tidak semudah itu ya?
Selain kemampuan akademis, diperlukan juga kemampuan beradaptasi.
Tetapi bukankah yang namanya beradaptasi memang tidak mudah?
Apakah itu berasaptasi dengan negara baru, lingkungan baru, boss baru dan juga perusahaan tempat bekerja yang baru.
Di tempat kerja, selain memerlukan kemampuan bekerja juga diperlukan kemampuan beradaptasi.
Seminggu kemudian saya bertemu dengan seorang teman lain, sebut saja namanya David.
David bercerita bahwa anaknya (sebut saja namanya Dila) juga sedang liburan di Indonesia.
Enam bulan yang lalu Dila pergi ke Amerika kuliah di jurusan Teknik Kimia.
Saya pun bertanya pada David ,"Bagaimana anakmu? Bisakah dia bersosialisasi dan menyesuaikan diri"
David menjawab,"O iya, Dila sepertinya beradaptsi dengan baik. GPA nya 4.0 di jurusan yang termasuk sulit. Dia punya banyak teman dari berbagai negara, bahkan dia active dan menjadi pengurus organisasi kemahasiswaan di sana. Kalau week end dia diundang keluarga Amerika untuk nginep di rumah mereka."
Wah ... keren juga, beda banget dengan Ines yang susah beradaptasi.
Maka saya pun bilang ke David untuk bertemu dengan Dila.
Saya ingin bertanya ke Dila apa sih caranya Dila untuk beradaptasi dengan mudahnya di Amerika.
Dan saya yakin banyak yang kita bisa pelajari dari situ bukan hanya untuk beradaptasi ke negara lain, tetapi juga beradaptasi ke lingkungan baru, boss baru dan perusahaan tempat bekerja yang baru.
Sabtu pagi itu saya bertemu dengan Dila di Daily Bread di daerah Pondok Indah. Dila berbaju santai dengan rambut yang di highlight warna emas, seperti anak muda yang mengikuti trend, jauh dari kesan kutu buku (meskipun GPA score nya 4.0).
"Apa kabar Om?" sapanya santai.
Saya pun berbasa-basi sebentar dan kemudian mulai bertanya-tanya tentang bagaimana Dila bisa beradaptasi dengan begitu smooth nya di Amerika.
Dan ternyata Dila memang inspiring. Sejak usia muda memang sudah bertekad untuk mendapat beasiswa di Amerika. Padahal dia tahu bahwa beasiswa untuk S-1 (bahelor degree) di Amerika itu sulit didapat.
Dila mendownload foto universitas yang dia inginkan, dia print A3 dan dia pasang di depan meja belajarnya sejak dia klas 3 SMP. Kemudian dia belajar keras terus terusan selama 4 tahun untuk mendapatkan SAT dan TOEFL yang tinggi. Dan ternyata SAT nya berada di Percentile 98 (berarti dia termasuk di Top 2 % in the world).
Dan akhirnya dia pun mendapatkan beberapa bea siswa di Amerika. Jadi dia tinggal memilih salah satunya.
Kemudian dia pun berangkat sendirian ke Amerika tanpa diantar orang tuanya (sebelumnya Dila belum pernah ke sana), mencari kos asrama sendiri, mendaftar di universitas sendiri dan mencari teman sendiri.
Inspiring? Yes!
Kemudian apa yang dilakukan Dila agar dia bisa beradaptasi di lingkungan barunya?
Di bawah ini saya ringkaskan 7 karakter yang saya ringkas dari pembicaraan saya dengan Dila.
Kita bahas dulu yuk?
1. CONFIDENT
Pertama-tama kita harus mempunyai rasa pecaya diri, confident!
Ingat pasti kita punya quality dalam hal tertentu yang membuat kita lebih dari orang lain. Fokus ke situ dan build your self confidence.
Kalau membahas masalah kelemahan semua orang pasti punya kelemahan.
Jangan fokus ke sana.
Be confident! Trust yourself before you ask others to trust you!
Dila merasa percaya diri karena dia mendapat b
easiswa ke Amerika.
Anda harus percaya diri karena keunikan anda sendiri yang tidak dipunyai orang lain.
2. REACH-OUT
Jangan menunggu untuk orang lain datang ke anda.
Take initiative!
Beranikan diri untuk menghampiri orang lain. Menyapa, bertanya , ngobrol, memperkenalkan diri, bahkan tanya apa yang anda bisa bantu.
Gak ada gunanya Jaga Image, nunggu orang lain datang ke anda dan ternyata malah orang lain gak ada yang datang.
Reach Out.
Take Initiatives!
Come to others, first.
Dila selalu memberanikan diri untuk memperkenalkan dirinya kepada teman teman barunya.
Dan dia dengan bangga bilang bahwa dia berasal dari Indonesia.
Meskipun teman-temannya tidak tahu di mana itu Indonesia, Dila tidak tersinggung dan dengan senang hati dia menerangkan tentang Indonesia.
3. COMFORTABLE WITH UNCOMFORTABLE
Nah pada saat anda memasuki lingkungan baru, pada saat mengenal teman baru, memasuki negara baru, mencoba makanan baru, menyesuaikan diri dengan budaya baru, pasti pada awalnya anda akan merasa tidak nyaman.
Ini wajar! Otak, hati, pikiran dan tubuh anda sudah terbiasa dengan lingkungan yang lama.
Jawabannya ... anda harus merasa nyaman dengan ketidaknyamanan ini. Get used to it.
Ingat ketidaknyamanan ini akan membawa kemajuan bagi anda.
Dila juga menyadari bahwa pada awalnya dia pasti tidak nyaman.
Tapi kalau dia terus menerus menangis pasti tidak akan menyelesaikan masalah.
Lebih baik dia mencoba dan mencoba terus untuk menesuaikan diri.
4. TAKE INITIATIVE TO ADAPT
Dunia tidak akan berubah untuk memenuhi keinginan anda.
Jangan "ja-im" dan berharap bahwa dunia atau teman teman anda yang akan berubah.
Anda yang harus berubah untuk menyesuaikan diri.
Dila tahu bahwa teman temannya memang berbeda karakter dengan teman teman lamanya.
Dila tahu bahwa makanan di sana memang sama sekali tidak ada rasanya.
Dila tahu bahwa dosen dosen di sana memang terlalu terkesan angkuh.
But it's ok.
Dila yang berubah.
Dila yang mengubah ekspektsi Dila sendiri.
Dila yang melakukan langkah pertama, mendekati mereka, mengenal mereka dan menyesuaikan diri dengan mereka.
5. POSITIVITY
Di tempat baru akan begitu banyak pengaruh baru yang masuk ke anda.
Ada pengaruh yang positve dan pengaruh negative.
Ada teman teman baru yang akan membawa pengaruh negative, jauhi mereka. Lindungi diri anda dari kontak dengan mereka.
Spend your time with people who will bring energy positive to you.
Di Indonesia kadang kadang ada istilah,"Jangan pilih-pilih teman"
Well, you have to do the opposite!
Dila benar benar pilih pilih teman!
Kalau teman membawa pengaruh jelek, dia jauhin.
Kalau ada teman yang membawa pengaruh positive (karena sama sama gemar belajar atau berorganisasi), Dila akan dekatin mereka.
Dila will do extra effort to approach them, to build and maintain relationship with them!
6. WILLING TO HELP
Salah satu kunci untuk beradaptasi dan diterima di lingkungan yang baru adalah dengan bersedia membantu teman teman baru.
Dalam hal apa saja, selama kita bisa membantu.
Banyak yang berharap menerima sesuatu terlebih dahulu. Padahal you have to give and give and give before receiving something.
Karena nilai matematika Dila yang tinggi, Dila menawarkan bantuan untuk menerangkan matematika kepada mereka yang memerlukan.
Tidak harus matematika kan? Tapi pasti ada sesuatu yang bisa anda tawarkan sebagai bantuan.
7. KEEP YOUR PROMISE
Pada awalnya mereka belum percaya kepada anda. They dont trust you yet. Trust is earned not given. You have to work hard to get your trust.
Di sinilah pentingnya anda membangun credibility anda dengan selalu menepati janji dan komitmen anda.
Dila juga mencoba menerapkan itu. Merasa menjadi orang baru, Dila berusaha berteman, tapi Dila tidak berani mengobral janji, lebih baik membuat sedikit janji tapi bisa menepati.
Voila!
Jadi ingat ya, ringkasnya, kalau anda ingin sukses beradaptasi di tempat baru, ini yang sebaiknya anda lakukan:
1. CONFIDENT
2. REACH-OUT
3. COMFORTABLE WITH UNCOMFORTABLE
4. TAKE INITIATIVE TO ADAPT
5. POSITIVITY
6. WILLING TO HELP
7. KEEP YOUR PROMISE
Dan kalau kita perhatikan, ternyata ketujuh karakter itu bisa
juga kita terapkan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, bukan hanya di universitas baru. Tetapi juga di perusahaan baru, kompleks perumahan baru (kalau kita pindah rumah), menyesuaikan diri dengan boss baru ... dst .. dst.
In the end of the day, change is change, and as a new comer (new student, new employee, new leader or new CEO) you will have to take the initiative to adapt to the new enviornment.
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Kamis, 05 Januari 2017
THINK GLOBAL, ACT GLOBAL!
Suasana mendung pada hari itu mewarnai suasana dinner yang akrab di Le Paul - Pacific Place.
Saya dan istri saya makan malam bersama sahabat saya waktu kuliah di Perancis dulu.
Sebut saja namanya Christian (bukan nama sebenarnya).
Setelah lulus dari Perancis , Christian mengembangkan kariernya di London.
Dan saya ikut bangga bahwa sahabat kos se-appartement saya akhirnya menjadi Director Technology sebuah telecommunication operator di Inggris.
Christian mulai menceritakan pengalamannya pada saat harus membangun sebuah R&D center dari awal (mulanya hanya 30 software engineer , sekarang mencapai 300 R&D engineer).
Pada mulanya Christian memerlukan 30 software engineer, dan dia mengimport dari Indonesia.
Jadi dia pergi Indonesia, merecruit 30 engineers dan dia bawa untuk bekerja di London dengan 2 tahun kontrak.
Project itu berjalan dengan lancar, tetapi setelah 2 tahun lama lama cost nya terlalu tinggi.
Kemudian Christian memindah kan timnya ke Jakarta, karena dia memerlukan 150 engineers sekarang.
Well, program itu juga berjalan meskipun di sana sini masih ada hal hal yang perlu diperbaiki.
Pada saat perusahaannya makin berkembang dan dia memerlukan tambahan 150 engineer lagi (sekarang Christian memerlukan total 300 engineer R&D), bossnya menyuruh Christian untuk berksperimen dan membuka R&D di Chenai, India.
Tentu saja selama setahun ke depan Christian dan bossnya harus mengevaluasi R&D center mana yang lebih effective? Yang di Jakarta atau yang di Chennai?
Dan pada tahun 2015 ternyata hasil evaluasi sudah diselesaikan dengan hasil yang surprising.
R&D center yang di Jakarta harus ditutup dan sekarang mereka hanya mempunyai satu R&D center di Chennai (300 engineers).
Tentu saja Christian sangat sedih menjalankan keputusan tersebut, tetapi secara business itulah keputusan yang paling tepat.
Dan saya lebih merasa sedih lagi karena Indonesia kehilangan kesempatan untuk:
- mempekerjakan 300 software engineer
- menjadi salah satu lokasi R&D center perusahaan telekominkasi Inggris
Maka saya pun bertanya pada Christian, mengapa dia lebih memilih Chenai (India) daripada Jakarta (Indonesia).
Saya menulis artikel ini dengan objective untuk mengevaluasi competitiveness kita di global market, menganalisa dan mencoba melihat apakah ada solusi yang bisa kita lakukan bersama untuk meningkatkan competitiveness kita.
Christian pun menjabarkan 4 alasan yang akhirnya membuat perusahaannya mengambil keputusan tersebut.
1. TALENT AVAILABILITY
Di Chenai dia merasa begitu banyak talent yang competent, dan dia bisa mendapatkan dengan budget yang efficient.
Di Jakarta dia merasa kesulitan mendapatkan IT professional yang competent dan bersertifikat. Dan kalau pun dapat ternyata permintaan salary nya sudah sangat tinggi dan melebihi salary para engineer dengan level yang sama di Chenai.
Talent availability and supply of good talents menjadi issue pertama.
2. TALENT INTEGRITY
Yang kedua adalah susahnya mencari talent yang pintar dan jujur di negara ini.
Karena R&D center bekerja untuk headquarter di London, wajar kalau mereka harus mengikuti jadwal
kerja London yang berbeda beberapa jam dengan Asia.
Ternyata banyak sekali talent talent Indonesia yang menganggap ini sebagai opportunity untuk bekerja "sambilan".
Banyak engineer Christian yang mengambil project di tempat lain atau jelas jelas bekerja di perusahaan lain, padahal mereka tahu itu dilarang oleh perusahaan.
Padahal seleksi sudah melalui wawancara yang ketat, dan mereka sudah diinformasikan tentang hal itu. Tetap saja Christian harus capek mengurusi masalah ini.
Tentunya ini sangat mempengaruhi produktivitas dan performance.
Sementara hal ini tidak dia hadapi di Chenai.
3. MULTI-COMPETENCE
Sementara di Chenai, para software engineer sudah banyak yang multi competence dan mendapatkan certificate dalam hal hal yang lain di luar core competence mereka (IT) . Selain sebagai IT engineer mereka sudah mempelajari project management, customer service, leadership, marketing, business accumen dan bidang bidang yang lain. Di sinilah talent-talent kita keting
galan.
4. GLOBAL MINDSET
Last but not least, talent talent di sana sudah sangat strong dalam global mindset.
Mereka tahu bahwa mereka bekerja di global company yang berbasis di London. Talent talent di Chenai sangat mengerti bahwa mereka kadang kadang diharapkan bekerja malam hari, dan terutama mereka juga belajar bagaimana mereka berkomunikasi dengan baik dengan memahani latar belakang bahasa dan budaya di Head Quarter.
Di Indonesia, mereka pada saat interview sih bersedia bekerja malam, tapi dua bulan kemudian sudah resign dengan alasan mereka mendapatkan job di local company yang kerjaannya pagi dan siang hari.
Why did they take the job at the first place?
Keempat factor itu menjadi alasan perusahaan Christian dan akhirnha mereka menutup kantir di Jakarta dan meneruskan R&D center di Chennai dengan 300 engineers.
Situasi yang mungkin kurang menggembirakan, tetapi secara open mind mungkin kita harus mengakui secara objective bahwa keputusan itu mungkin tepat secara business.
Jadi apa dong yang sebaiknya kita lakukan.
Lets start with what we can do .
Kita lihat satu persatu hal hal di atas dan kita lihat apa yang bisa kita lakukan.
1. TALENT AVAILABILITY
Yuk, kita bekerja bersama , bahu membahu untuk menambah supply of good talents di negara kita.
Jangan hanya kuliah karena ingin "wah" tapi mari kita melihat trend di masa depan dan kuliah di jurusan yang akan relevant dan dibutuhkan di masa depan.
Universitas juga sebaiknya bukan hanya berorientasi bisnis saja dan menjual kursi saja kepada mahasiswa baru. Tetapi juga memprediksi berapa jumlah lulusan yang akan dibutuhkan lima tahun ke depan, dan berusaha menedukasi calon mahasiswa baru.
Perusahaan perusahaan sebaiknya membuka pintu lebih lebar untuk internship dan pemagangan agar mahasiswa kita lebih siap diserap oleh industry.
2. TALENT INTEGRITY
Yuk kita semua lebih berfokus untuk mendidik karakter (kejujuran dan kepintaran), dan bukan hanya berfokus pada akademis saja.
Juga sebagai leader mari kita memberi contoh yang baik dan menjadi role model bagi junior kita.
3. TALENT MULTI-COMPETENCE
Yuk, kita encourage talent talent kita untuk belajar hal hal lain di luar core competence mereka.
It is ok to be expert on Finance, Marketing, IT, HR or whatever.
Tetapi sudah waktunya melengkapi kompetensi kita dengan hal hal lain seperti project management, business accumen, leadership, influencing skills, finance ... etc
Better, why dont you take (international) certification for that.
4. Think Global, Act Global
Kita selalu di "brain washed" untuk Think Global, Act Local.
Well, the paradigm has changed.
It is time now to Think Global and Act Global.
Mulak memikirkan apa trend di global business saat ini dan apa yang kita lakukan untuk berkontribusi di dunia global, dan bukan hanya menjadi penonton.
Jadilah pemain active dan strong contributor di dunia global!
Observe, berikan saran konstruktif kepada partner kita di negara lain, influence mereka agar menerapkan approach yang kita mulai Di Indonesia.
Lets start to implement because it is time to Think Global and Act Global.
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Selasa, 03 Januari 2017
WHAT IS MISSING?
(FROM INDONESIAN TALENTS)
(Pambudi Sunarsihanto)
Last year, I spoked in front of 800 HR professionals in Indonesia Humab Capital Summit 2016 on the topics of Developing Global Talents.
Interestingly the speech was conducted on 28th October which is the Youth Day in Indonesia.
The organizer asked me to share what we can do to develop Indonesian talents to be able to compete in the global competition.
One thing is sure, the macro economy is very promising.... GDP growth is positive.. and the companies in Indonesia demonstrated a very encouraging (and promosing) business performance.
This is fun and exciting.
If you like football it is more fun to live in Germany than to live in Mongolia.
Germany has one of best league in the world (Mongolia is the 202th rank in the world).
The same analogy goes for the business.
It is much more fun to live and conduct the business in Indonesia while the economy (and the business) is growing at this speed.
The competition is much more interesting and we learn so much more.
If the business is growing fast, obviously it is because it is run by incredible (and competent) talents.
The next question is ... How about Indonesian talents?
The best football leaguea should export their players. And their players are demanded everywhere (look at the players from German league).
But where are the Indonesian talents?
How many Indonesian talents excell developing their global careers.
Ouch... the answer hurts.
(The French say "La realité blesse"... only the reality hurts).
I am surprised by the minimum number of Indonesian talents who work and develop their careers overseas.
What's wrong? What is missing?
Are they not competent?
Off course they are!
Otherwise the business will not be growing at this speed.
So .... what is the missing link of this puzzle?
Some years ago I conducted a survey to 100 Indonesian working overseas (yes, actually we have a bit more than 100 Indonesian working overseas, we managaed to "sell" 100 talents among 250 million population, and we would want to see much more than that).
I asked them what make them excell in their current role?
And surprisingly (or not so surprisingly) ... competent is only a hygine factor. At that level, everybody is expected to be competent.
You need something else....
Competent alone will not bring you far away.
Don't get me wrong. I am not saying, competency is not important. It is actually extremely important. You need to be good at what you do ...
You just need something else to be successfull in developing the clobal careers.
So, what else do you need ....?
Based on my experience on managing and developing the talents accross the different countries ... this is what we need.
1. CONFIDENCE
Those globbal high performing talents have high self confidence, based on their competence but also based on the feeling of self confidence that they built and develop accross the years.
2. COMMUNICATION SKILLS
You need also to have great communication skills.
When I said communication skills, I meant the ability to articulate
- the question or request for clarification
- your proposed idea
- your volunteer to be part of the team's tasks/activities
- your constructive feedback on other people's idea/performance ...etc..etc
Practice and improv your communication skills!
3. CHANGE AGILITY
The global talents watch and observe the trend, then they learn and adapt to the change.
The world (and the business) will continue to change.
The talents with high change agility will have much higher chance to succeed.
4. CULTURE UNDERSTANDING
As a global talents, you may be working overseas (and dealing with people from other nationalities) or working in Indonesia (and also dealing with foreigners who came to your countries).
In any case, you cannot avoid that you will work with people from other nationalities.
They think, they work and they say things in the different way.
You need to have a good culture understanding to conmunicate with them and to influence them.
5. CONTINUOUS LEARNING
The business (and the consumer behavior) will continue to change.
You have to learn to adapt.
Your strength (of today) mey no longer be relevant in 2 years time.
Your strength can change quickly to become your weakness.
Learn new things everyday.
Improve your differentiators by increasing your skills and knowledge.
So remember, this is what you need to develop your CAREER facing global COMPETITIONS:
- COMPETENCES
- CONFIDENCES
- COMMUNICATION SKILLS
- CHANGE AGILITY
- CULTURE UNDERSTANDING
- CONTINUOUS LEARNING
Warm regards
Pambudi Sunarsihanto
Senin, 02 Januari 2017
BCA : 506-514-3060 an Ferry Reynold A
Search
Total Tayangan Halaman
TRAINING ONLINE
Training CHRP
ONLINE TRAINING
Recent Posts
Categories
- Assessment
- bakat
- Big Five
- Business development
- Career tips
- Change Management
- CHRP
- disiplin
- ebook HRD
- Gen Y
- Generasi Y
- grup HRD
- hubungan industrial
- ISO 9001 14001 lead auditor 2017
- Karyawan
- kerugian tahan ijasah bagi perusahaan dan HR
- kursus hrd
- leadership
- Lowker Sidoarjo
- Lowongan Bandung
- managing talent
- MBTI
- Mengelola Generasi
- minat
- motivation
- Mutasi
- parents tips
- pelatihan HRD
- Pemutusan Hubungan Kerja
- perselisihan PHK
- PHK
- potensi
- presentation
- Psikologi tes
- Psikotes
- resign
- struktur skala upah
- surabaya
- surat peringatan
- tahan ijasah karyawan
- Team work
- TELEGRAM GRUP HR
- Tes Potensi
- tim kerja
- tim yang solid
- Training
- WA GRUP HR
Blog Archive
-
▼
2017
(54)
-
▼
Januari
(15)
- WHAT IF WE CHANGE FROM "EMPLOYEE mindset" to "OWNE...
- DEVELOP YOUR CHILDREN TO BE THE FUTURE LEADERS
- HANDLING YOUR FIRST INTERVIEW
- Bagaimana seorang introvert bisa sukses di tempat ...
- THE FIVE LEVELS OF LEADERSHIP
- Tantangan Rekruter di tahun 2017
- The What and The How
- Pesan Terakhir Seorang Ayah
- Never Give Up
- 5 BIGGEST MISTAKES THE SALES PEOPLE MAKE
- HOW TO ADAPT AS A NEWCOMER
- Think Global, Act Global
- WHAT IS MISSING? (FROM INDONESIAN TALENTS)
- CHRP Surabaya 2017
- WHAT DOES CEO EXPECT FROM HR
-
▼
Januari
(15)
Mengenai Saya
Most Trending
-
Google berkali-kali menduduki tempat pertama sebagai tempat kerja terfavorit yang ingin dimasuki banyak karyawan. Hal ini benar-benar terce...
-
Dalam proses membaca aktif SQ3R ada satu tahapan dimana Anda harus melakukan pengulangan (R = Review) terhadap materi yang Anda baca a...
-
Buruh pabrik di Amerika Serikat saat ini memperoleh bayaran 76 kali lebih besar dari yang diterima pekerja pabrik yang bekerja di Indonesia...
-
Mendapat suatu pekerjaan baru, terutama pekerjaan yang kita impikan, kenaikan jabatan, kenaikan gaji dan lain sebagainya merupakan hal yang ...
-
HR WANNABE GRAND OPENING GRAND OPENING HR WANNABE 🎉🌟 **HR Wannabe Grand Opening!** Anda bersemangat untuk memulai karier Anda dalam bidang...
-
Mendapatkan pekerjaan baru adalah hal yang menyenangkan, namun ada kemungkinan hal yang mungkin yang menyimpang yang terjadi selama perjala...
-
BE A MENTOR Beberapa minggu yang lalu saya menerima WA mesage di handphone saya,"Om Pam, thank you very much , I won the talent compe...
-
JADWAL PELATIHAN APRIL 2024 Seluruh jam pelatihan adalah Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB) Early bird adalah untuk member HRBP INDONESIA se...
-
THE "WHAT" AND THE "HOW" How to achieve your business objectives while securing your success in the future ... (Bagaim...
-
Budaya perusahaan, sebuah istilah umum dan berlaku di setiap perusahaan. Tiap-tiap perusahaan memiliki kekhususan budaya perusahaan masing-...




