Komunitas Praktisi Profesional HR Indonesia

Video of the Day

Sabtu, 29 April 2017

On 10.37 by HRBPFORUM in    No comments

5 BIGGEST MISTAKES IN YOUR CV

Malam itu saya bertemu dengan Ita, kenalan saya waktu bekerja di Singapore. Ita memaksa saya bertemu haru Jumat malam yang lalu, setelah saya bilang bahwa saya harus ke Eropa dua minggu.
"'Nanti malam dong mas? Kalau enggak, nunggunya dua minggu nih ...."
Ita saat ini bekerja sebagai Marketing Manager di sebuah perusahaan Retail dari Eropa.
Kariernya bagus, performance nya bagus, tapi keliahatan bahwa dia sudah mulai jenuh.
Penyakit klasik dari seorang good performer (Hati-hari kalau kita sebagai boss punya anak buah seperti Ita. Kita harus sering memberikan challenge baru dan kalau perlu mempromosikan. Kalau tidak ya mereka akan cepat jenuh).

"Pa kabar mas Pam?", sapanya malam itu, saat kami dinner di sebuah rumah makan Perancis di daerah Senopati.
Kami pun berbasa-basi sebentar, sebelum akhirnya Ita menyampaikan curahan hatinya.
"Sudah lama nih mas di perusahaan yang sama, hampir enam tahun. Gak ada masalah sih, performance ok, boss gua baik, gaji menarik. Tapi kok lama lama gak banyak yang  bisa dipelajari lagi ya. Jadinya udah lama nih gak nambah Ilmu. Mas Pam kan keren .... berani pindah industry, dari IT ke consulting ke Banking terus ke Consumer Goods. Pasti belajarnya juga banyak banget.
Nah itu tuh yang saya pengin, supaya banyak belajar, banyak ilmu, lama lama gajinya kan juga naik pesat kayak mas Pam kan?"

Ita tersenyum sambil matanya mengerling nakal, keluar keisengannya.
Malam itu Ita mengenakan baju rapi dan make up tipis, yang tak mampu menyembunyikan kecantikan (dan kecerdasan) alami yang dimilikinya.

"Makanya, sambil minta tolong dong mas. Lihatin CV Ita, cukup menarik gak? Dan apa yang harus dibenahi. Maklum nih, sudah lama gak bikin CV. Sudah hampir enam tahun gak cari kerjaan nih ....."
Ita mengeluarkan iPad nya sambil menunjukkan CV yang dia tulis beberapa tahun yang lalu.

Kita diskusikan hal ini ya ...karena saya yakin banyak pembaca yang mengalaminya.
Jadi Ita, sudah bekerja di posisi ini hampir enam tahun dan dia tidak pernah meng-update CV-nya? Hellooooo??? This is a big mistake!

CV itu bukan HANYA alat untuk mencari kerja. CV itu juga alat yang menyimpan record dari semua
- kompetensi yang anda kuasai
- pengalaman yang anda dapatkan
- achievement (result) yang anda raih!

Jadi seharusnya setiap tahun CV anda harus di update, karena idealnya pengalaman anda, kompetensi anda dan achievement anda bertambah!

Atau jangan jangan selama ini, anda hanya bekerja setiap hari, setiap bulan , setiap tahun dan tanpa terasa waktu terus berganti dan ternyata ....
- kompetensi anda gak bertambah
- pengalaman anda tidak meningkat
- achievement (result) juga gak menjadi lebih baik?

Di situlah gunanya mengupdate CV, supaya anda menjadikannya acuan apakah CV anda tahun ini lebih baik dari tahu  lalu.
Dan juga agar anda bisa memasang "target", apa yang akan anda tuliskan di CV anda tahun depan. Supaya kompetensi dan kualifikasi (dan gaji) kita naik setiap tahun kan?
Bukankah kita harus continuous improvement?

Saya pun mengingatkan kepada "Ita", bukankah orang yang beruntung adalah orang yang masa sekarangnya lebih baik daripada masa lalunya?
Bukankah orang yang masa sekarangnya sama saja dengan masa lalunya adalah orang-orang yang rugi?

Ita mengangguk-angguk sambil tersenyum,"Mas Pam kalau Jumat lagi tobat ya? Ngomongnya suka alim!"
Saya pun tersenyum kecut mendengar godaan nakal Ita.

But actually it is true!
Saya menggunakan CV saya sebagai alat untuk mengukur kompetensi, pengalaman dan achievement saya.
Dan saya sangat banyak menuntut (pada diri saya sendiri) agar terjadi peningkatan pada diri saya dalam tiga hal itu (kompetensi, pengalaman, achievement).

Waktu saya masuk kelas 1 SMA, saya sudah menuliskan Ijasah SMA saya sendiri, dan saya menuliskan angka 9 untuk mata kuliah matematika, fisika dan kimia. Maksudnya saya menuntut pada diri saya sendiri agar saya harus belajar keras agar nanti di Ijasah saya tertulis angka angka itu. Pada saat saya belajar keras , seringkali motivasi saya naik atu turun. Pada saat motivasi saya turun, saya juga malas belajar (manusiawi lah),

tetapi saya bilang pada diri saya sendiri,"Kalau saya gak belajar bagimana saya bisa mendapatkan angka 9?"
Nah, dengan itulah saya akan termotivasi lagi untuk belajar.

Sama, pada saat saya memasuki sebuh pekerjaan baru, saya juga sudah menuliskan apa saja yang akan saya capai tiga tahun lagi dari segi kompetensi, pengalaman dan achievement.
Saya sudah mencetak CV saya tiga tahun lagi (tentunya dengan peningkatan dalam ketiga hal tersebut).
Namanya pekerjaan, ya pasti ada aspek yang kita senang, ada juga aspek yang kita gak suka (susah, membosankan dan menyebalkan). Tetapi setiap kali saya demotivasi dan lagi turun semangat, saya berkata pada diri saya sendiri,"Nanti CV saya gak meningkat." Dan saya pun menyemangati diri saya sendiri agar bekerja lebih keras lagi.
(Because the only person who can motivate you is yourself).

Jadi , saya harap kita mengerti bahwa CV itu bukan hanya untuk mencari kerja, tetapi juga sebagai alat ukur (kompetensi, pengalaman dan achievement kita), dan juga sebagai alat untuk memotivasi diri kita agar masa depan kita lebih baik dari masa sekarang.  Lanjuuuuuut ......

Dan kemudian saya pun melihat CV Ita.
Sekarang kita lihat beberapa kesalahan klasik yang ada di CV Ita (dan saya yakin juga ada di CV beberapa pembaca saya ) ....
Inilah daftar lima kesalahan itu.

1. YOUR CV IS TOO LONG
Ita menunjukkan CV nyang 5 halaman. Please deh. Lu pikir orang punya waktu baca 5 lembar CV.
Kalau orang membaca CV yang terlalu panjang, kesannya bukan orang itu banyak pengalaman, tetapi bahwa anda :
- tidak mampu meringkas
- tidak tahu mana yang penting dan mana yang tidak
- tidak smart

Saya pernah menjadi HR Director di 3 perusahaan, dan pernah bekerja di 7 negara, CV saya hanya dua halaman.

Jangan menulis CV yang terlalu panjang, learn how to summarize!

2. NOT STARTING WITH YOUR DIFFERENTIATORS

Kalau anda melihat sebuah product pasti di labelnya tertulis mengapa product itu berbeda dari yang lain.
Sabun mungkin akan menulis "menghaluskan kulit", sampo akan menuliskan "anti ketombe",
botol minum Aqua akan bertuliskan "air minum pegunungan".
That is their differentiator!
Jadi anda juga harus memulai CH anda dengan differentiator, apa yang membuat anda berbeda dari yang lain.
Dua atau tiga kalimat, summary dari experience dan achievement anda!
Kalau anda memulai CV anda dengan itu, tentunya mereka akan tertarik membaca kelanjutannya.
Lihat baik baik ya, ada yang masih memulai CV nya dengan alamat rumah dan kode posnya.
Memangnya gua mau datang ke rumah lu, minta sumbangan yayasan sosial?
Think again, and start with the most important points!

3. PUT ALL THE INFORMATiON THAT ARe Not RELEVANt

Ita juga menuliskan nama SMA, SMP dan SD nya di CV?
Memang SMA favorite sih. But , helloooooo? Memang kenapa orang akan tertarik dengan SMA di mana anda sekolah?
Memangnya perusahaan yang baru akan memulai wawancara dengan
"Wah mbak dulu sekolah SMA yang di Bukit Duri itu ya mbak? Yang suka kebanjiran ya? Yang dulu ada wisma haji di sebelahnya itu kan? Wah di sebelah ada mie ayamnya yang enak tuh mbak? Mbak suka gak?"
No, we dont talk like that in the interview.
We want to understand:
- Your characters and personality
- Your competence
- Your experience
- Your achievement

So, in your CV, go straight to the points! Hanya taruh di situ informasi yang sangat relevant.

4. LISTING YOUR EXPERIENCE STARTING FROM YOUR FIRST JOB

Tentu saja kalau anda di hire, itu karena pekerjaan anda yang terakhir, bukan yang paling awal. Jadi urutkan pekerjaan anda dengan memulainya dari pekerjaan yang paling akhir, dan diurutkan secara terbalik.
Jadi pekerjaan pertama harus jadi yang terakhir di CV anda.

5. ACTION ORIENTED INSTEAD OF RESULT ORIENTED

Di setiap pekerjaan anda jangan hanya menuliskan daftar activity (task) yang anda lakukan.
Kita justru pengin melihat hasilnya.
We are result oriented, not action result.
Jadi jangan menulis kalimat ini:
- bertanggung jawab pada penjualan product baru
- melakukan accounting report setiap bulan
- menjadi HR business partner untuk Opertions team
... etc

Tetapi justru dengan mementingkan has

il yang anda capai...
Contoh:
- meningkatkan penjualan tahunan dari 300 milyar menjadi 420 milyar
- menurunkan annual turn over rate karyawan dari 18 persen menjadi 12 persen
- menurunkan complain pelanggan dari 1200 per tahun menjadi 450
- menurunkan waktu pembuatan laporan bulanan dari 7 hari menjadi 3 hari

Result oriened, not action oriented!

So, remember this is the lis of FIVE BIGGEST MISTAKES IN YOUR CV

1. YOUR CV is too LONG
2. NOT STARTING WITH YOUR DIFFERENTIATORS
3. PUT THE INFORMATION THAT ARE NOT RELEVANt
4. LISTING YOUR EXPERIENCE STARTING FROM YOUR FIRST JOB
5. ACTION ORIENTED INSTEAD OF RESULT ORIENTED

Selamat membuka CV anda lagi, dan meng-update-nya.
Bukan hanya untuk mencari kerja, tetapi karena CV anda adalah buku catatan tentang kompetensi yang anda kuasai, pengalaman yang anda peroleh, dan juga achievement dan result yang anda raih.
Semoga dengan meng-update CV anda regularly anda termotivasi untuk bekerja keras, agar anda bisa melengkapi CV anda dengan hal hal baru, setiap tahun !

PS. Terimakasih kepada "Ita", yang memberikan inspirasi untuk cerita ini.
Sambil pamit, Ita sempet berkata,"Jangan lupa oleh-oleh dari Paris ya mas ... Ukuran sepatuku 39 ya?"
Saya pun berjanji akan membawakan sepasang kaos kaki warna hitam berukuran 39 buat "Ita" :-)

Salam Hangat,

Pambudi Sunarsihanto

On 10.34 by HRBPFORUM in    No comments

Nyx yourself
(Re-invent yourself)

Hawa dingin Paris yang 12 derajat Celcius menyambut kedatangan saya minggu ini.
Perancis tentu saja membawa kenangan khusus bagi saya yang kebetulan saya pernah kuliah dan tinggal di sana selama 8 tahun.
Saya dijemput oleh seorang teman kuliah bernama Eric. Eric sekarang bekerja di sebuah perusahaan cosmetic global benama l'Oreal. Setelah berbasa-basi sebentar, dan mengingat cerita lama jaman kuliah, saya pun bertanya ,"Bagaimana situasi perusahaan di mana kamu bekerja sekarang?"
Eric menjawab dengan serius,"Perusahaan kami masih tumbuh dengan sehat. Tetapi kamu tahu kan, susana semakin tidak menentu, dunia dilanda ketidakpastian, bisnis makin complex dan tentu saja semua perusahaan, sekuat apapun, akan menjadi sangat vulnerable (rapuh). Jadi ya, kita semua harus makin vigilant (waspada), dan tidak boleh complacent (lengah). Harus terus menerus berinovasi dan meningkatkan diri"

Saya pun bertanya lagi,"Waktu saya ke Los Angeles bulan lalu saya mendengar kabar bahwa kalian membeli sebuah perusahaan kecil bernama Nyx. Mengapa?"

Eric menjawab panjang lebar,"Karena kami harus berinovasi dan kami harus agressive ke market.
Masalahnya Pam, semua perusahaan besar bilang bahwa mereka harus berinovasi dan harus agressive. Mereka lupa bahwa kalau mereka terlalu besar. Inovasi dan agressive itu bukanlah karakter yang  mereka punyai. It is no longer in their DNA. Sudah terlalu banyak proses, birokrasi, audit, complince dan silo thinking. Jadinya ya banyak sekali perusahaan besar yang gagal berinovasi dan agressive.
Ada yang ingin melakukan perubahan culture, tapi akan memakan waktu yang lama atau gagal.
Di buku "Who said elephant cannot dance" CEO IBM menuliskan bahwa mereka memerlukan waktu 7 tahun untuk mengubah culture perusahaan mereka. L'Oreal does  not have 7 years"

Maka l'Oreal pun membeli Nyx, sebuah perusahaan cosmetic yang sangat inovative dan agressive dari New York.
Dan kami membuatnya objective ini jelas , dari awal acquisition. Banyak perusahaan besar yang membeli perusahaan kecil dan kemudian mengubah culture perusahaan kecil menjadi seperti perusahaan  besar. Kami justru membeli Nyx agar culture L'Oreal tertular secara positive dan menjadi seperti Nyx yang inovative dan agressive. Kami akan mempelajari semua yang dilakukan oleh Nyx dan akan memastikan bahwa semua karyawan L'Oreal akan menerapkan apa yang dilakukan oleh Nyx.
We made it clear, we bought Nyx, not to "l'orialize them", but because we want to Nyx l'Oreal.
We want l'Oreal to  become like Nyx!

Limousine yang kami tumpangi pun memasuki area Saint Germain di mana hotel saya berada. Eric pun pamit (ternyata hari Senin itu cuma libur di Indonesia, bukan di Perancis!), jadi dia harus masuk kantornya.
Eric pun naik Metro (kereta bawah tanah Paris) menuju kantornya.

Anyway , setelah Eric pergi saya masih terkagum kagum dengan cara kerja l'Oreal. Justru pada saat kita mengenal banyak perusahaan  besar yang  begitu sombong dan arrogant dengan budaya kerja mereka (karena mereka berfikir bahwa mereka sukses karena budaya kerja itu).
Padahal itu semua di masa lalu. Sekarang bisnis sudah berubah,
ekonomi berubah, dunia berubah dan kompetisi berubah.
Jadi kita juga harus menyesuaikan aturan main di peta kompetisi yang baru.
Dan kita tidak bisa sukses kalau kita menerapkan strategy lama di peta kompetisi yang baru.

Ternyata l'Oreal yang sangat sukses, sangat besar dan sangat profitable, mereka menyadari itu.
Dan mereka tidak sombong, tidak arrogant, bahkan sangat rendah hati dan open mind.
Mereka bilang,"Kami membeli Nyx karena kami ingin  belajar dari Nyx dan kami ingin mengubah culture kami menjadi seperti Nyx"

Diperlukan kerendahan hati dan open mind yang luar  biasa untuk bisa melakukan hal itu.

Coba bayangkan, seandainya saja Nokia Mobile Phone waktu masih jaya (dan menjadi raksasa) dan waktu itu Google masih sangat kecil ...
Bayangkan seandainya Nokia bilang,"Kami ingin  belajar dari Google dan ingin mengganti culture kami menjadi seperti Google"
Seandainya saja mereka melakukan itu, mungkin mereka akan selamat sampai sekar

ang.

But becase Nokia did not Googlize themselves, the way L'Oreal Nyx themselve, Nokia mobile phone went into trouble and I am sure L'Oreal will survive.

Padahal saya yakin perjuangannya akan berat. Akan banyak resistence di antara karyawan lama. Bagi karyawan lama siapa itu Nyx? dan akan ada yang sombong dan arrogant menolak itu.
Untungnya l'Oreal sangat tegas. l'Oreal made it very clear.
Sekarang l'Oreal sedang mengimplementasikan rencana mereka untuk "Nyx themselves!"

Tapi kita bahas dulu bagaimana kita menerapkan hal ini pada diri kita dan juga pada perusahaan kita ya ....

1. Understand your purpose, start with why
2. Make an inventory of your strength and differentators
3. Use your differentiators at your advantage, beat your competitors with them
4. Focus on your customer, they have to be at the center of whatever you do
5. Observe, learn and disrupt yourself, change yourself, re-invent yourself

Just remember, just like L'Oreal, you have to disrupt your self by doing these ...

1. Start with Why

Analisa lagi apakah sebenarnya "purpose" anda dalam  berbisnis.
Apa yang anda tawarkan kepada customer anda. Apa yang membuat anda berbeda dengan competitor anda?

2. Identify your own strength

Sebenarnya di area apa anda itu hebat, lebih hebat dari yang lain?
Catat dan bikin daftarnya.
Bukan agar anda lupa diri,
tetapi ini untuk memotivasi dan menjadi modal dasar anda di masa depan.

3. Watch, Observe, Listen and Learn about the future trend

Pelajari trend apa yang akan terjadi di masa depan?
Gunakan itu sebagai referensi untuk memetakan "gap" yang anda punya

4. Fill-in the gaps

Tentukan langkah-langkah apa yang akan anda lakukan untuk mengisi gaps anda.
Bisa saja itu adalah gap dalam bidang kompetensi, budaya kerja, attitude atau ability khusus yang akan dibutuhkan di masa depan.

5. Don't be affraid to Nyx yourself

Jangan takut untuk men-disrupt yourself untuk mempersiapkan anda keluar dari zona nyaman.
Saya pribadi dulu pernah bekerja selama 15 tahun di industry IT dan Telecommunication (memang saya dulunya adalah Computer Engineer).
Tetapi saya tidak takut untuk keluar dari zona nyaman. Karena saya merasa bahwa saya harus belajar banyak yang lain maka saya keluar dari zona  nyaman dan masuk ke industry banking.
Tentu saja tahun pertama adalah sangat berat. Ya iyalah, namanya kan disruption  bukan comfort.
Saya harus belajar banyak tentang proses proses di industry banking yang complex dan regulated.
Saya harus ikut risk management certification level 5, dan saya harus ikut fit&proper test dari Otoritas Jasa Keuangan.
Sulit ? Sangat!
Impossible? No!
So I did it.

Jangan takut, jangan khawatir, jangan menyerah.
Memang untuk keluar dari zona nyaman itu susah.
Tapi ingatlah itu yang akan menyelamatkan anda di masa depan!

Ini  berlaku untuk bisnis anda, tim anda dan juga untuk karier anda sendiri!

Jadi remember these 5 steps untuk disrupt yourself:

1) Start with why
2) Identify your strength
3) Follow the trend
4) Idengify and Fill-in your gaps
5) Don't be affraid to disrupt yourself

Saya pun menyadari bahwa concept disrupt yourself ternyata tidak hanya untuk bisnis sebuah perusahaan tetapi juga untuk mengembangkn karier kita.

Kita semua harus berani:
- mengamati peta industri
- keluar dari zona nyaman anda sendiri
- disrupt yourself
- change yourself
- re-invent yourself

Paris, 29 April 2017

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Rabu, 19 April 2017

On 17.03 by HRBPFORUM in    No comments

BUILDING TRUST and EMOTIONAL BONDING With YOUR TEAM

Sebuah challenge yang harus dihadapi oleh seorang enterpreneur adalah membagi waktu antara mengembangkan businessnya dan mengembangkan anak buahnya (teamnya).

Kita dengarkan cerita sahabat saya, Himawan.
"Perusahaan saya sedang mengalami masa di mana saya harus mempersiapkan product untuk siklus berikutnya.
Product perusahaan saya yang sekarang memang masih sehat cash flownya. Tetapi saya sudah harus mulai memikirkan siklus berikutnya demi kelangsungan bisnis kami di masa depan. Untuk itulah selama setahun ini saya menghabiskan banyak waktu dengan partner dan investor saya. Dan akibatnya saya jadi tidak punya waktu untuk untuk menghaniskan waktu bersama tim dan anak buah saya."
Himawan (yang kebetulan adalah adik kelas saya di ITB), adalah pemilik sebuah perusahaan di Jakarta yang bergerak dalam kimia dan lingkungan.

"Ternyata akhir akhir ini saya melihat jarak yang cukup  besar dengan anak buah saya. It is becoming very difficult to lead them. Mereka susah saya influence. Dan basically mereka gak mau nurut dan mendengarkan saya. Why? Padahal mereka ini kan masih karyawan saya?
Mereka ini saya gaji kan?
Mereka seharusnya juga mengerti bahwa saya sedang fokus kelangsungan bisnis di masa depan. Dan itu berarti  kelangsungan karier dan nafkah mereka juga?
Why are they like this? What should I do?"

Himawan berhenti sejenak dan kemudian makan Hainanesse Chicken Rice yang kami pesan di Rice Bowl di building kantor saya.

Very interesting case ... and lets discuss about this ...

Seorang leader (di manapun dia berada), mempunyai dua tanggung jawab besar. Memimpin bisnisnya dan memimpin timnya. Dan dua hal ini sama pentingnya, dan harus dilakukan.
Bisnis harus dikembangkan karena itu akan menjadi kunci keberhasilan perusahaan di masa depan.
Anak buah harus dipimpin dan dikembangkan karena leader tidak mungkin menjalankan semuanya seorang diri. Leader akan sangat berharap kepada timnya dan anak buahnya untuk mengimplementasikan semua inisiatif bisnisnya.

Dan sayangnya leader tidak bisa meng-outsource kan activity tersebut.
Seperti halnya tugas orang tua adalah mencari nafkah dan mendidik anak-anaknya.
Memangnya boleh orangtua bilang saya akan mencari nafkah saja dulu dan meng-outsource pendidikan anaknya ke orang lain? (JLEB!)

So what did Hikmawan do?
Dia menganggap bahwa selama setahun dia bisa focus pada pengembangan bisnisnya dan tidak menghabiskan waktunya dengan timnya.
Akibatnya? Tentu saja timnya tidak menganggap Himawan adalah  bossnya lagi atau tidak merasakan hubungan yang dekat antara boss dan timnya.

Bukankah Himawan masih membayari gaji anak buah mereka? Off course masih. Dengan melakukan itu Himawan membina financial bonding (keterikatan financial). Tapi ada satu hal yang penting, emotional bonding! Keterikatan atau kedekatan emosi.

Kemudian saya bercerita tentang anak kedua saya bernama Nadia, yang mempunyai kelinci kesayangan (bernama Caramel). Mereka mempunyai kedekatan emosional yang tinggi. Tetapi waktu Nadia saya ajak berlibur ke luar negeri selama dua minggu, Caramel ngambek pada saat Nadia kembali. Dan Caramel tidak mau bermain bersama Nadia selama beberapa saat (meskipun Caramel masih memakan wortel yang diberikan Nadia).

Dan itulah makhluk hidup. Kita harus berinvestasi agar kita bisa menjalin hubungan baik dengan makhluk hidup lain.
Bahkan bunga pun harus disiram dengan air setiap hari agar terus tumbuh dengan segar.
Berarti kita juga harus menginvestasikan (bukan menghabiskan) waktu kita dengan manusia yang lain (apakah itu partner kita, investors kita atau karyawan kita!)

Wajar sekali bahwa Himawan invest waktunya dengan partner dan investornya, tetapi Himawan juga harus invest waktunya dengan timnya juga.
Remember, tanpa bantuan investor dan partnernya bisnisnya gak akan jalan.
Tetapi bukankah tanpa bantuan karyawannya, bisnisnya juga gak akan jalan?

Di sinilah perlunya keseimbangan antara waktu yang diinvest oleh Himawan untuk investor,
partner, customer dan anak buahnya!

Dan kalau ternyata Himawan sibuk mengurus investor, partner dan an

ak buahnya, ya jangan heran (dan jangan complain) kalau anak buah anda mulai kehilangan trust and emotional bonding dengan anda!

Jadi, bagaimana Himawan bisa membina trust dan hubungan baik dengan anak buahnya?
Sebenarnya sederhana ... invest his time with them. Menginvestasikan waktu dengan mereka. Menganggap bahwa waktu yang dia investasikan dengan mereka juga adalah salah satu prioritasnya.

Terus apa yang harus dia lakukan bersama mereka?
Membangun kembali trust (kepercayaan) dan credibility dia sebagai seorang leader.
Apa kriterianya? Ada rumus yang sangat sederhana, ABCD.
Able, Believable, Care dan Dependable.

Kita bahas satu persatu yuk ...

1. ABLE
Investasikan waktu anda dengan tim anda, tunjukkan ability anda.
- Ability anda dalam kompetensi tertentu
- Ability anda untuk mengelola dan mengembangkan bisnis anda
- Ability anda untuk memimpin dan mengembangkan tim anda

Kalau anda melakukan ketiga hal tersebut, maka tim anda akan berfikir dan merasakan,"Wah keren juga leader say. Ini nih model leader yang saya pengin bekerja dengan dia, dan pengin belajar dari dia"

You have to ask yourself,"why would they want to be led by you?"

Jawabannya mestinya
- Karena bekerja dengan anda itu menarik, challenging dan fun
- Karena mereka bangga bekerja dengan anda
- Karena mereka bisa belajar dari anda

(Lha kalau anda tidak pernah menginvestasi waktu anda dengan mereka, bagaimana mereka bisa belajar dari anda?)

2. BELIEVABLE
Anda harus  bisa dipercaya.
Mereka harus percaya bahwa anda mampu mengelola perusahaan ini, mampu mengembangkan perusahaan di masa depan, dan mampu mengembangkan karier mereka.
Believable juga berarti anda leader dengan integrity yang tinggi yang  menjadi role model yang baik bagi anak  buah anda.
Untuk itu anda harus menja konsistensi antara
- apa yang anda pikirkan
- apa yang anda katakan
- dan apa yang anda kerjakan

3. CARE
Care about your people.
Dengarkan mereka, perhatikan mereka, bantu mereka.
Show your "care" with (not only words) but mainly actions.
Remember actions are much more effective than thousand of words.

4. DEPENDABLE
Dependable berarti  bahwa anda adalah leader yang mereka bisa andalkan:
- untuk membantu mereka dalam masalah mereka sehari hari
- membantu mereka dalam mengembangkan karier mereka
- menyelamatkan perusahaan kalau lagi krisis
- mengembangkan bisnis untu menjamin kelangsungan dan keberhasilan perusahaan di masa depan.

Just remember, untuk membangun trust, credibility dan emotional bonding anda dengan team anda, anda harus menginvestasikan waktu anda dengan mereka dan melakukan ABCD...
1. ABLE
2. BELIEVABLE
3. CARE
4. DEPENDABLE

Gampang untuk dihafal.
Mudah dikerjakan? Tidak.
Apakah mungkin dilakukan? Pasti bisa, kalau anda memang mempunyai kemauan yang kuat untuk membangun tim anda.

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Join grup WA & telegram komunitas HRD? 
hubungi 085733347722 via WA & Telegram
Diskusi /sharring/lowker/ebook

Minggu, 16 April 2017

On 19.03 by HRBPFORUM in    No comments

HOW TO BE A GOOD LOSER?

(Bagaimana menjadi "loser" yang baik?)

Dalam kehidupan, ternyata mau tidak mau kita memang akan sering bertanding, berkompetisi dan berlomba. Sejak kita dari TK sampai sekarang, kita dibiasakan lomba nyanyi atau lomba deklamasi, lomba olahraga, lomba seni, kita akan ikut tes seleksi SMP favorit, tes masuk SMA, ujian nasional, tes masuk perguruan tinggi, seleksi untuk perekrutan karyawan, promosi jabatan dan lain lain.
Intinya seringkali kita harus dihadapkan pada sebuah tes atau ujian, dan kemudian akan ditentukan siapa pemenangnya.

Nah, berdasarkan pengamatan saya pada orang orang yang sukses baik di bidang bisnis maupun olahraga, ternyata mereka itu adalah orang orang yang mampu menghadapi kemenangan dan kekalahan dengan baik.
Kalau mereka menang, mereka tidak lupa diri dan tetap rendah hati.
Kalau mereka kalah, mereka mengakui kekalahan itu dan bahkan mengucapkan selamat kepada pemenang.

Ini adalah karakter yang harus dimiliki. Karena  mau tidak mau, kalau anda bertanding, anda harus bersiap siap, bahwa kadang kadang anda menang, kadang kadang anda kalah.
Bagaimana sikap anda saat menang dan saat kalah, akan menjadi penentu karakter anda di masa depan.

Itulah yang jarang dipunyai oleh orang Indonesia.
Banyak yang kalau menang, malah lupa diri, bahkan mengejek lawannya.

Tapi parahnya, jarang sekali menjadi "loser" yang baik.
Seringkali yang kalah selalu protes berlama lama (buang waktu, energy, biaya dengan sia-sia).
Sedikit sekali yang mengakui kelemahan sendiri, mengakui kelebihan lawan, menganggap bahwa kekalahan adalah momentum untuk belajar dan memperbaiki sendiri.
Dan lebih sedikit lagi yang kalah dan berani mengucapkan selamat
kepada pemenangnya.
Pantas saja kata "sportif" susah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Lucunya, ada yang anti dengan kata kompetisi, dan menganggap bahwa kompetisi itu bukan bagian dari budaya Indonesia.
Well, silahkan menggunakan kata apapun, mau kolaborasi, atau kerjasama atau gotong royong, tetapi sayangnya memang seringkali setelah sebuah pertandingan (atau kompetisi) hanya akan menghasilkan satu pemenang dan yang lainnya terpaksa harus mengakui kekalahan.
Jadi kalau anda anti dengan kata kompetisi, ya lain kali silahkan menggunakan kata "kolaborasi sepakbola Indonesia Thailand" atau "kerjasama sepakbola" atau malah "kolaborasi Indonesia-Thailand, cuma mungkin teman teman anda akan menganggap anda lucu).

Anyway saya sangat suka dengan kompetisi, karena saya sangat suka belajar, menyiapkan diri atau
memperbaiki diri agar saya menjadi lebih baik.
Seringkali tanpa kompetisi kita tidak melihat opportunity untuk mempunyi urgency untuk memperbaiki diri.
Tentu saja yang saya maksudkan dengan kompetisi adalah kompetisi yang dijalankan dengan sehat, fair dan mematuhi semua aturan.
Dan saya sangat mendorong agar bangsa kita meningkatkan kompetisi kita dengan bangsa-bangsa lain di era global ini!

Maka, saya sangat menganjurkan agar kita mendidik diri kita sendiri, anak buah kita, dan anak-anak kita sendiri agar mampu berkompetisi, mampu menjadi pemenang yang baik dan mampu menjadi "loser" yang baik.

(Mohon maaf, kata "loser" sulit sekali diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Seharusnya kita menggunakan kata "pengalah" tetapi jarang sekali digunakan. Yang sering digunakan adalah kata "pecundang" yang mempunyai konotasi negatif)

Padahal di Indonesia kita sering kali hanya diajari untuk  berlatih agar mampu bertanding. Tetapi kita jarang sekali diajari bagaimana menjadi pemenang yang baik, dan bagaimana menjadi "loser" yang baik.

Seorang atlit sejati mengerti cara cara menghadapi sebuah kompetisi adalah:
1. Mempelajari semua aturan
2. Mempersiapkan diri dengan baik (berlatih dan bersiap siap)
3. Mempersiapkan emosi dengan baik (siap untuk menang dan siap untuk kalah)
4. Pada hari H, menjalani pertandingan dengan berusaha sekeras mungkin dan mentaati semua aturan
5. Berbesar hati untuk menerima apapun hasilnya (baik menang ataupun kalah)
6. Terus belajar dan memperbaiki diri (baik setelah menang ataupun setelah kalah)

Anda lihat kan, perbedaan antara atlit

sejati dan yang lain?
Sementara yang lain hanya berfokus pada 2 hal, No. 3 dan No. 4 (berlatih dan bertanding), seorang atlit sejati melakukan keenam langkah di atas.

Mungkin karena di Indonesia kita jarang dididik dan dilatih. Mungkin karena di sini kita hanya diajari untuk berlatih dan  bertanding.
Maka wajar kalau ternyata kita mungkin mampu menjadi pemenang yang baik, tetapi sedikit sekali yang mampu menjadi loser yang baik.

Makanya yang menang seringkali tidak berbesar hati. Dan sering kali yang kalah tidak mau menerima kekalahannya, dan lebih banyak protes , menghabiskan waktu, bahkan memanaskan suasana.

Tetapi bukankah tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik?

Mari kita memulai kebiasaan ini. Menjadi pemenang yang baik kalau menang. Dan menjadi loser yang baik kalau kalah.
Dan mari kita mengajari anak buah kita, adik adik kita, dan anak anak kita, dengan memulai dari kita sendiri, dengan menjadi pemenang (atau loser) yang baik.

Menjadk  "loser" yang baik akan lebih meningkatkan martabat dan kehormatan anda.
Daripada anda hanya protes, membuang waktu, memanas-manasi suasana, yang hanya akan membuat anda kehilangan reputasi baik anda.

Di bawah ini ada beberapa tips untuk menjadi "loser" yang baik ...

1. Sadari bahwa kekecewaan itu wajar
Pertama, anda harus menyadari bahwa kekecewaan itu wajar. Siapa yang suka kalah? Kita lebih suka menang daripada kalah kan? Siapa yang tidak sedih bila kalah? Wajar. Dan sangat manusiawi!
Tapi jangan terlalu lama hanyut di situ. Bersedihlah untuk beberapa saat. Jangan tenggelam terlalu lama.
Hidup anda tidak akan berhenti karena anda kalah.
Masih ada kehidupan. Masih ada harapan. Dan masih ada kompetisi berikutnya yang bisa anda menangkan. Camkan itu!

2. Ambil segi positifnya, banyak yang anda pelajari selama "bertanding"

Kalau anda berfikir positif, sebenarnya anda banyak melakukan experiment, anda   banyak belajar, anda banyak berusaha dan anda banyak bekerja keras.
Apapun hasilnya, kompetensi anda meningkat pesat.
Hal itu tidak akan terjadi kalau anda tidak berkompetisi.
Syukurilah, bahwa anda berani mengikuti kompetisi.
Syukurilah, bahwa anda  belajar banyak.
Syukurilah, bahwa anda meningkatkan kompetensi dan level anda!

3. Coba lagi dan coba lagi, masih ada kesempatan berikutnya
Hidup anda tidak akan berhenti setelah kekalahan ini kan? Protes dan memanas-manasi suasana hanya akan membuat reputasi anda semakin buruk, dan akan memperkecil kemungkinan anda menang di kompetisi berikutnya.
Bangunlah, segera bangkitlah dari kekecewaan dan kegagalan.
Tersenyumlah, syukurilah, apapun yang terjadi!

4. Berikanlah ucapan selamat kepada mereka
Jadilah loser yang  baik. Jadilah loser yang terhormat.
Datangilah mereka.
Akuilah bahwa memang mereka lebih layak menang, apapun yang terjadi.
Berikanlah selamat kepada mereka!
Mereka berhak mendapatkan ucapan selamat dari siapapun, termasuk dari anda!

5. Belajar lagi dan bersiaplah untuk kompetisi berikutnya
Jangan terlalu lama beristirahat. Segeralah mengevaluasi diri. Segeralah menganalisa. Dan buatlah action plan, bagaimana anda akan belajar, berlatih dan bekerja untuk memperbaiki diri, dan mempersiapkan diri, untuk kompetisi  berikutnya.

Ingat, ikuti lima langkah di bawah ini, agar anda menjadi "loser" yang baik?

1. Sadari bahwa kekecewaan itu wajar
2. Ambil segi positifnya, banyak yang anda pelajari selama "bertanding"
3. Coba lagi dan coba lagi, masih ada kesempatan berikutnya
4. Berikan ucapan selamat kepada mereka
5.  Belajar lagi, dan bersiaplah untuk kompetisi berikutnya!

Ingat, harga diri anda, martabat anda, kehormatan anda, reputasi baik anda, jauh lebih berharga daripada kemenangan (yang sesaat) itu sendiri.

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Kamis, 13 April 2017

On 17.30 by HRBPFORUM in    No comments

FINDING YOUR PASSION, FINDING YOURSELF

(Menemukan passion anda, menemukan diri anda sendiri).

"Kapankah biasanya kita menemukan passion kita?
Kapankah biasanya kita menemukan diri kita sendiri?"

Hari Sabtu yang lalu, bersama teman-teman  Jurusan Teknik Industri ITB angkatan tahun 1986 kami pergi Bandung untuk reuni 30 tahun.
Dan pada siangnya kami melakukan sharing session pengalaman kerja kami kepada adik-adik kelas kami angkatan tahun 2013.
Pada acara bertema "Unleash your potential: Discover the best version of yourself", saya ikut menjadi pembicara bersama 3 rekan yang lain (2 HR Director dan 1 CEO).
Kami pun sharing pengalaman kami, jatuh bangun kami dalam karier kami, dan tentu saja beberapa tips untuk mempersiapkan masa depan.

Pada akhir acara, seorang peserta wanita mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan.
Sebut saja namanya Anissa. Dia sangat tertarik untuk mendengar dari kami tentang ....
- Kapankah kita menemukan passion kita?
- Kapankah kita menemukan kita sendiri?

Kita bahas ya...

Mungkin Anissa mengira bahwa hidup ini adalah sebuah goa gelap.
Kemudian kita berjalan dalam gelap di dalam goa itu.
Kemudian kita terus mencari ....
dan akhirnya kita menemukan sebuah lentera (lampu), dan tiba tiba seluruh goa jadi terang benderang.
Dan perjalanan kita menjari lebih lancar.
Mungkin Anissa berpikiran begitu ....

Well,
Life is not like that!

Ternyata hidup saya adalah perjalanan panjang untuk terus menerus menemukan passion saya.

But it's ok, because you have fun and you learn new things during the journey and you get better everyday.

Jadi ternyata hidup kita memang seperti berjalan dalam goa.
Tapi bukan berarti suatu saat kita akan menemukan lentera yang tiba tiba membuat semuanya jadi terang benderang.

Ternyata kita berada dalam goa yang gelap. Dan kita berjalan dalam ketidakpastian (uncertainty).
Dan kemudian lama lama kita belajar new things everyday.
Dan pelan pelan lentera kita makin lama makin terang.
Dan goanya mulai sedikit demi sedikit menjadi agak terang.
We know more things.
Dan itu membuat kita menjadi lebih confident melangkah.
Tapi tetap saja itu sebuah goa, yang tetap agak gelap (still some elements of uncertainty), tidak akan pernah terang sepenuhnya ( we can never know everything).
Dan kita masih tetap bisa terpeleset (mistakes can still happen).
But we are improving .... everyday... during the journey!
Because we are learning and we are improving, everyday.

Mungkin hidup itu seperti permainan ular tangga.
Mungkin kita berangkat maju dari satu kotak ke kotak  berikutnya.
Kadang kita mendapatkan tangga dan kita bisa naik pesat (promosi, rezeki, bonus, insentive, big sales ... etc).
Tetapi kadang kita juga bisa mendapatkan ular dan harus turun (kesalahan, kerugian, demosi, PHK ... etc).
Perbedaannya adalah dalam permainan ular tangga kita punya dadu dan semua hasil kita ditentukan oleh dadu (keberuntungan).

Pada kehidupan yang nyata, tidak ada dadu dan tidak ada keberuntungan.
Meskipun kita cukup pintar untuk mengelak, kita tidak bisa menghindar bahwa bisa saja suatu saat kita tetap akan mendapatkan bencana (ular).

Dan untuk mendapatkan tangga (promosi, rezeki, insentive, bonus ...etc) we got no choice but to work hard, extremely hard, much harder than anyone else.

Anissa, it's ok if you dont know your passion and you dont have a plan yet.
By the way ... ini berlaku untuk Anissa dan yang lain yang lebih senior daripada Anissa.

Colonel Sanders baru mulai  belajar memasak ayam pada usia 40 tahun. Dan mulai agak sukses pada usia 62 tahun!

It is ok. Just keep trying, keep experimenting, keep making mistakes and keep learning....

Ini ada beberapa tips untuk Anissa dan juga untuk yang lain ....

1. DO WHATEVER YOU DO NOW, BUT GET BETTER EVERYDAY.

Kerjakan apa yang anda lakukan sekarang, tetapi perbaikilah diri anda  (performance, competence, networking, relationship, result, promotion ...etc) setiap hari.
Kalau gak ada kemajuan, pengalaman gak ada gunanya.
Get better everyday by learning everyday so you can improve yourself.

3. LEARN NEW THINGS (study new language, hobby, art, mus

ic, photography, skills , competences, kuliah S-2, new job ....etc).
Enjoy the fun of learning dan belajarlah hal yang baru.
Ini akan membangun learning agility anda.
Learning agility itu sangat penting dalam karier anda.

3. EXPAND YOUR NETWORK

Tambahlah network anda. Rajinlah ikut kegiatan agar network anda semakin luas.
Dengan network yang semakin luas anda akan...
- bertemu dengan kenalan baru (anda bisa belajar dari mereka)
- kenalan baru bisa memberikan informasi tentang lowongan pekerjaan
- kenalan baru bisa menceritakan pekerjaan dalam bidang lain atau industry lain yang menarik

4. CREATE YOUR OWN FLAN (FLEXIBLE PLAN)

Now it is time to plan your career.
Harus di RENCANA kan!
Buatlah rencana 3 tahun ke depan.
Tapi ingat , dunia berubah begitu cepat.
Bersiap siaplah bahwa faktor external akan juga berubah cepat.
You still need to plan. But be flexible.
Harus siap siap seandainya di tengah jalan plannya harus berubah.

5. CREATE YOUR OWN OPPPORTUNITY, AND MAKE YOUR MOVE

Ok, jangan terlalu lama merencanakan.
Just execute and implement.
Jangan takut salah.
Jangan terlalu berhati-hati. Be prepared to make mistake, learn and move on.
Namanya orang belajar, pasti akan melakukan kesalahan. Jangan takut. Jangan malu. Jangan menyerah. Jangan putus asa.
Keep learning, keep improving.... everyday.
Jadi anda plan dan kemudian secepatnya dieksekusi.
Seandainya salah dan gagal, yan nggak apa apa. Belajarlah dari situ dan move on.
Dengan cara yang sama saya dulu juga mencoba coba dan bereksperimen menjadi software programmer, project manager, sales dan HR.
Saya mencoba coba dan bereksperimen dan tinggal di Perancis, Jerman, Beijing, Thailand, Philippines, Singapore dan Indonesia.
It is fun. And I learn new things everyday.
Apakah yang saya kerjakan sekarang adalah passion saya? Apakah ini hal terakhir yang saya kerjakan dalam hidup saya?
I dont know ... but yang jelas I enjoy doing it, I enjoy learning everyday, and I do my best to improve myself everyday.
Often... the fun part... the interesting part ... is not only the destination ... but the journey to get there.

Last message for Anissa.

Anissa, remember ...
It is ok to not knowing your passion and not knowing your plan yet!

Your life can be a fun journey of finding your own passion and yourself.
Just make sure you are learning new things everyday and you get better  everyday.

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Join grup whatsapp HRBP INDONESIA hubungi melalui whatsapp ke nomer 085733347722

Join telegram : https://t.me/hrbpindo

Jumat, 07 April 2017

On 17.07 by HRBPFORUM in    No comments

Leaders have to play dual role: Motivator and Challenger

Pemimpin itu harus memainkan 2 peran: motivator dan challenger

Namanya pak Romy. Dia baru saja menjadi CEO di sebuah perusahaan keluarga. Ownernya merasa sudah saatnya perusahaan dikelola secara profesional dengan mendatangkan CEO dari luar. Maka  ownernya yang sudah lama mengenal pak Romy pun membujuk pak Romy untuk join dan menjadi CEO di perusahaan itu.
Pak Romy yang memang sudah berada cukup lama di posisi sekarang dan mencari tantangan baru pun akhirnya menerima challenge ini.
Dan selama sebulan pertama dia melakukan observasi tentang apa saja yang dilakukan di perusahaan itu.

Hari itu dia mengundang saya makan malam untuk ngobrol tentang observasinya. Kami bertemu di sebuah rumah makan di daerah Senopati.

Setelah bebasa basi sebentar Pak Romy pun langsung menyampaikan idenya,"Pantes aja ownernya pengin saya join. Banyak banget yang harus saya perbaiki. Saya sudah amati selama sebulan ini. Dan saya memang melihat ada 12 area yang harus diimprove. Jadi rencana saya adalag mengirimkan email ke seluruh karyawan saya. Saya namakan CEO letter. Isinya adalah hal hal yang harus diperbaiki untuk bisnis kita. Ini  emailnya sudah saya tulis dan besok saya akan kirim. What do you think?"

Pak Romy menunjukkan 3 lembar surat yang isinya 12 area yang harus diimprove.
Saya pura pura mengaduk teh panas di depan saya (padahal sebenarnya saya ingin menepuk jidat!)

Ini ada seorang leader yang baru.
Dalam 12 bulan dia sudah menemukan daftar "kesalahan" anak buahnya, yang harus "diperbaiki".
Padahal "perbaikan" apapun tidak akan bisa berjalan tanpa support dan dukungan anak buahnya.
Apakah dengan cara seperti ini dia akan memotivasi anak buahnya dan mendapatkan dukungan mereka?

Well, mari kita membaca pikiran mereka (by now you remember that I am a mind reader, right?)

Anak buahnya kira kira akan berpikir begini
"Ini CEO baru siapa sih? Kenalannya Owner ya? Terus memang dia ngerti bisnis kita? Memang dia ngerti perusahaan kita yang complex?
Baru juga sebulan sudah nulis daftar 12 area yang kita harus perbaiki?
Jadi selama belasan tahun ini yang kita lakukan semuanya salah ya?
Kalau memang semua salah, kenapa perusahaan kita selalu profitable selama belasan tahun?
Belajar dulu dong, sebelum main kritik gitu aja!"

Sebagai orang Indonesia, mereka tidak akan pernah mengatakan itu kepada pak Romy. Tetapi saya yakin itu yang ada di benak mereka. Dan tentu saja dengan reaksi seperti itu akan sudah sekali mendapatkan dukungan dan support dari anak buahnya.
Dan perbaikan yang dicanangkannya akan sia sia.

Dan itu yang seringkali terjadi apabila seorang Leader hanya bisa mencela dan melihat negative nya saja. Banyak yang begitu. Pak Romy termasuk salah satu di antaranya.

Jadi bagaimana? apakah kita tidak boleh mengkritik? bukankah kritik itu untuk perbaikan. Bukankah "feedback is a breakfast of a champion". Setuju pakai banget!
Cuma tentunya anda harus menyampaikan feedback anda dengan baik agar:
- orangnya mau mendengarkan
- orangnya mau memperbaiki

Caranya gimana?
Yang jelas bukan dengan membunuh motivasi mereka seperti yang dilakukan Pak Romy dengan suratnya yang sepanjang 3 lembar dan berisi daftar 12 dosa anakbuahnya.

Jadi bagaimana dong? Sederhana saja. Leader harus memainkan 2 peran, sebagai motivator (bagi anak buahnya) sekaligus sebagai challenger ( bagi mereka juga).
Dua duanya harus jalan.
Kalau hanya sebagai challenger (seperti Pak Romy dengan 12 daftar dosa), anak buahnya akan gedheg, dan mengalami demotivasi, gimana mau memperbaiki?

Kalau hanya sebagai motivator? Cuma memuji anak buahnya? Nanti mereka akan lupa diri dan terbuai dalam pujian dan tidak mau memperbaiki!

Seorang leader yang baik mampu melakukan keseimbangan antara dua peran itu: sebagai motivator dan challenger!

Bagaimana caranya?
Kita ikuti langkah langkah di bawah ini ...

1. Give balance feedback, 3 positive and 3 area of improvement

Jangan langsung membuat daftar 12 dosa. Sampaikan feedback anda dengan seimbang.
Sampaikan 3 hal yang sudah berjalan dengan baik. Puji mereka. Appresiasi mereka.

Katakan hal hal yang baik itu harus diteruskan.
Sampaikan 3 area yang harus diperbaiki, karena seorang manusia atau sebuah organisasi harus selalu memperbaiki dirinya sendiri.

2. Praise them on their effort
Jangan lupa memuji, mengapresiasi dan memberikan feedback positive kepada usaha mereka (bukan hanya hasilnya). Kadang kadang suasana external memang susah, dan hasilnya memang belum datang. Tetapi anda tetap harus membedakan anak buah anda dalam 2 kategori: mereka yang berusaha keras dan yang lainnya. Jangan memperlakukan kedua golongan ini dengan sama.
Adil itu bukannya memberikan yang sama kepada semua orang.
Adil itu memberikan yang berbeda kepada setiap orang sesuai dengan kontribusi dan usahanya.

3. Challenge them to leave the complacency

Perusahaan itu, atau tim itu mungkin memang sukses di masa lalu (dan sampai sekarang). Tetapi ingatkan bahwa dunia selalu berubah. Bahwa kita harus selalu bersiap siap menghadapi taufan dan badai di depan kita. Sukses di masa lalu sama sekali tidak menjamin keberhasilan di masa depan.
Jangan terlena. Jangan compacent. Harus selalu mengevaluasi dan memperbaiki diri.
Kadang kadang hanya yang paranoid yang bertahan hidup.

4. Show the difference between their potential success and their current performance

Meskipun mereka sudah mencapai kesusksesan tertentu, tunjukkan bahwa masih ada celah yang belum digarap. It is your job as a leader to show the virgin teritorry that your team need to attack!

Ajak mereka untuk melihat potensi lain, di daerah lain, di segmen customer lain atau dengan product dan layanan lain, yang masih bisa dikerjakan untuk semakin meningkatkan kesuksesan perusahaan di masa depan.

5.  Help them to achieve their dream

Spend time with them. Understand them.
Berusahalah mengerti apa yang mereka cita-citakan dan mereka impikan?
Dan tugas anda sebagai leader  bukan hanya memastikan kesuksesan perusahaan dan kesuksesan karier anda sendiri.
Tetapi tugas anda adalah membantu anak  buah anda mencapai mimpi dan cita cita mereka.
Kesuksesan anda sebagai leader tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi keberhasilan anda, tetapi berapa banyak anak buah yang anda develop pada proses mencapai keberhasilan itu .

Jadi ingat ya ....
Pemimpin itu harus memainkan 2 peran: motivator dan challenger.
Terapkan hal hal di bawah ini ...

1. Give balance feedback, 3 positive and 3 area of improvement
2. Praise them on their effort
3. Challenge them to leave the complacency
4. Show the difference between their potential and their performance
5.  Help them to achieve their dream

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Rabu, 05 April 2017

On 05.40 by HRBPFORUM in    No comments

Yuk join segera,
Info lbh lanjut hub 085733347722

On 02.41 by HRBPFORUM in    No comments

Tanggal 23 Oktober 2017 semua perusahaan wajib susun struktur skala upah.

Yuk belajar bareng

On 02.40 by HRBPFORUM in    No comments

REDUCING YOUR ANXIETY, GROWING YOUR INFLUENCE

(Mengurangi kecemasan anda, memperbesar "pengaruh" anda)

Saya  berkenalan dengan Fenny pada saat saya sedang dinas ke luar kota. Beberapa minggu yang lalu saya ada acara ke sana , dan saya  berkenalan dengannya di airport . Fenny (tentu saja bukan nama sebenarnya, meskipun cerita  berikut ini adalah cerita nyata) bekerja di sebuah perusahaan asing di Indonesia.
Fenny lulus dari Fakultas Teknik UI, very smart woman, kariernya  berkembang pesat and a great mother with 2 children.
Dan ternyata sudah diputuskan bahwa operasi mereka di Indonesia akan dialihkan ke sebuah perusahaan nasional. Artinya manajemen perusahaan akan dialihkan ke perusahaan yang baru dan semua karyawan (dengan expertise mereka yang spesifik) akan menjadi karyawan perusahaan nasional mereka.
Hari itu saya makan siang dengan Fenny dan beberapa temannya.

Dan ternyata session makan siang itu menjadi session curahan hati mereka berlima. Mereka mengeluarkab uneg-uneg dan suara hati mereka. Saya akan menuliskan beberapa pertanyaan yang mereka tanyakan pada saat itu:
1. Mengapa hal ini terjadi?
2. Bagaimana nasib mereka nanti?
3. Bagaimana budaya kerja di perusahaan baru itu ?
4. Bagaimana gaji (dan benefits) mereka di perusaahaan baru itu?
5. Bagaimana kemungkinan pengembangan karier mereka di sana?
6. Haruskah mereka ikut join perusahaan itu? Atau haruskah mereka keluar?
... dan seterusnya (masih banyak pertanyaan yang mereka tanyakan).

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar saja, dan memang kita hidup di jaman kecemasan. Begitu banyak kecemasan yang kita hadapi di tengah tengah ketidak pastian ini.
Masalahnya ... berapa lama waktu yang akan anda habiskan untuk "cemas"?
Apakah situasi akan membaik kalau anda "cemas"?
Atau jangan jangan kecemasan itu justru akan membuat anda hidup dalam negativity yang nantinya bisa membawa anda ke:
- menurunnya performance kerja
- stress
- berpengaruh pada hubungan anda dengan pasangan atau anak anak anda
- sakit
- ... dll
Lha terus  bagaimana dong? Bukankah kita manusia biasa, yang punya hati dan perasaan?
Memang kita gak boleh cemas?
Boleh saja, tetapi ...

Stephen Covey dalam bukunya "7 habis of highly effective people" menggambar dua lingkaran.
Satu lingkaran  besar yang namanya lingkaran kecemasan (circle of concern).
Di situ ada semua hal hal yang kita cemaskan (cuaca hari ini, banjir atau tidak, apakah korupsi naik atau tidak, perkembangan terorisme di dunia, macro economy ....)
Tetapi ternyata tidak semua yang kita cemaskan itu bisa kita kontrol (pengaruhi).
Makanya di dalam lingkaran  besar tadi Stephen Covey menggambarkan lingkaran kecil yang namanya lingkaran pengaruh (corcle of influence).
Ini berisikan hal hal yang benar  benar bisa anda kontrol;":
- apa yang akan anda kerjakan hari ini
- apakah anda tersenyum atau cemberut kepada teman teman anda?
- performance kerja anda (karena ini berhubungan dengan apa yang anda kerjakan)
... dll

Nah masalahnya banyak orang yang fokus pada "kecemasan" tanpa mampu melakukan apa apa, jadi mereka menjadi manusia tak berdaya.

Padahal seharusnya kita fokus pada hal yang bisa kita pengaruhi atau kita kontrol.

Contoh sederhana ... kemacetan lalu lintas di Jakarta? Apakah bisa kita kontrol? Nggak kan? Tapi banyak sekali yang fokus dengan memikirkan hal itu, mencemaskan dan stress gara gara kemacetan. Bagaimana mau perform di kantor kalau belum datang juga sudah stress?

Saya juga masih hobby nyetir sendiri. Dan saya juga tidak mampu mengontrol kemacetan lalu lintas. Tetapi saya mampu mengontrol hal hal lain, misalnya :
- saya  bisa berangkat lebih pagi supaya tidak terkena macet
- Kalaupun saya terkena macet, saya  bisa download youtube dan mendengarkan para guru management (John Maxwell, Stephen Covey, Jack Welch ...etc), dan saya malah bersyukur kena macet karena saya bisa  belajar di dalam mobil (kalau anda naik angkot, anda kan bisa mendengarkan paki headset).
Kalau saya lagi pakai sopir dan macet, gimana dong? Saya kan menulis artikel ini :-)
That is the power of the circle of influence!

Pikirkanlah, lalukanlah, hal hal yang mem

ang anda bisa kontrol!
Jangan buang waktu anda untuk memikirkan hal hal yang hanya membuat anda cemas, tapi anda tidak bisa melakukan apa apa dalam hal itu.

Padahal orang Indonesia sudah terbiasa dengan memfokuskan pada kecemasan. Kita lihat acara TV pagi pagi
- ramalan cuaca
- laporan kemacetan lalu lintas
- berita TV pagi hari (maraknya penangkapan koruptor)
- berita bom meledak di  nega lain
- informasi seputar perceraian selebritis
Padahal  berita  berita itu hanya membuat anda cemas, dan tidak ada yang  bisa anda kontrol.

Padahal, semakin banyak anda fokus kepada satu lingkaran maka lingkaran itu semakin besar, dan lingkaran lainnya akan semakin kecil.
Jadi kalau anda memang memfokuskan waktu, tenaga dan energi anda pada kecemasan, ya lama lama kecemasan ada akan semakin besar, dan pengaruh anda akan semakin kecil .....

Apa yang harus kita lakukan? Fokuskan waktu, pikiran, tenaga, energi dan usaha kita pada apa yang  bisa kita kontrol dan kita pengaruhi, sehingga lama lama kecemasan kita menjadi semakin kecil dan pengaruh kita menjadi semakin  besar!
Jelas kan?

Nah, sekarang kita kembali ke Fenny dan teman-temannya yang sedang cemas.
Kita analisa pertanyaan mereka.

1. Tempat mereka bekerja akan dialihkan ke sebuah perusahaa  nasional (dulunya perusahaan asing). Hal ini sudah diputuskan. There is nothing they can do about it. Cemas atau influence? Cemas? Jangan pikirkan lagi hal itu.

2. Berapa gaji dan benefits mereka di perusahaan baru? apakah mereka bisa mengontrol hal itu ? tidak kan? Cemas atau influence? Cemas? Jangan dipikirkan!

3. Bagaimana nanti Fenny akan  beradaptasi dengan lingkungan kerja dan budaya kerja  baru di perusahaan nasional? Cemas atau influence? Influence! Nah, Fenny harus mulai memikirkan dan merencanakan hal ini!

4. Bagaimana Fenny harus membina network, bekerja maksimal dan mengembangkan karier di tempat baru? Influence kan? Start to think, plan and implement it!

I hope you got the points. Bahwa manajemen perusahaan anda akan berganti, bahwa policy gaji dan benefit (dan karier development) di tempat baru itu adalah sesuatu yang sudah diputuskan dan anda tidak bisa mengontrol lagi.
Anda bisa mencemaskan hal itu terus menerus, anda bisa was was dan stress selama 24 jam pun, tidak akan ada yang bisa anda ubah.
Ngapain buang buang waktu, pikiran, tenaga, energy dan effort?
Mending juga fokus pada hal yang masih bisa anda kontrol kan? Bagaimana beradaptasi, bagaimana membina network dan membina karier di tempat baru.

Terus ada yang nanya, "Tapi bagaimana kalau saya benar  benar tidak  bisa menyesuaikan diri pak? Apa yang bisa saya lakukan?"

Hanya ada dua pilihan untuk seorang profesional:
1) Stay dan 100 persen komitmen, atau
2) Keluar

Seorang profesional tidak akan pernah stay tapi tidak komitmen (kalau anda melakukan ini anda akan menghancurkan reputasi anda sendiri, dan akan susah mencari kerjaan di tempat lain).

Terus kalau ada yang pengin keluar dan belum dapat pekerjaan baru bagaimana?
Teruskan mencari pekerjaan  baru, tetapi selama mencari harus tetap profesional , komitmen 100 persen dan terus perusahaan perform dengan maximal.
(Ingat bahwa perusahaan baru akan menanyakan ke perusahaan anda sekarang, bagaimana performance anda sebelumnya).

Ok, sekarang jelas kan?
Hidup akan penuh dengan ketidakpastian.
Fokuskan waktu, pikiran, energi, tenaga dan effort anda pada hal hal yang bisa anda kontrol dan pengaruhi,  bukan hal hal yang hanya kita cemaskan.
Karena kecemasan hanya menimbulkan aura negative dan hanya akan menurunkan semangat kita.
Sementara bertambahnya pengaruh akan menimbulkan aura positive dan menaikkan motivasi kita.

Jadi  bagaimana dong, agar kita bisa lebih fokus kepada apa yang kita "kontrol" dan bukan hanya apa yang kita "cemaskan"
Ikuti beberapa langkah di  awah ini ....

1. Filter your information flow
Harus lebih selective memilih informasi yang masuk ke otak kita.
Harus lebih selective memilih teman bergaul kita, TV yang kita lihat, radio yang kita dengarkan, dan WhatsApps group yang anda  monitor.
Kalau auranya positive dan membuat motivasi anda naik, ik

uti terus , kalau perlu cari dan kejar.
Kalau ada teman (atau bahkan saudara), radio, acara TV, WA group yang auranya kurang positive, leave, tinggalkan mereka.
Anda tidak usah membuang waktu untuk mendidik semua orang, just leave, tinggalkan mereka (dan anda juga tidak mempunyai kewajiban untuk menerangkan mengapa anda leave that group).

2. Choose your battle
Banyak masalah yang akan kita hadapi. Baik dalam pekerjaan, masalah keluarga ataupun masalah pribadi.
Pilihlah masalah yang memang  benar benar anda  bisa kerjakan dan bisa selesaikan.
Jendral yang cerdas tidak akan mau ke setiap pertempuran. Mereka memfokuskan energy dan pasukan mereka ke pertempuran yang mereka bisa menangkan.
Be selective! Pilih-pilih. Gak semua masalah harus anda kerjakan sekarang. Gak semua orang yang bermasalah harus anda labrak sekarang. Simpan energy anda untuk masalah yang benar benar critical dan penting.

3. Drop your area of concern

Ingat, buang jauh jauh semua pikiran atau topik yang hanya menghasilkan kecemasan, was was atau kekhawatiran. Jangan membiarkan hal itu menghantui pikiran anda, membuang buang waktu anda. Gak ada gunanya.

4. Focus all your time, energy and effort in the area that you can control

Bikinlah otak dan pikiran anda agar sibuk dengan hal hal yang masih bisa anda kerjakan, masih bisa anda kontrol dan masih bisa anda pengatuhi (hasilnya).
Idealnya hal hal ini akan mendominasi pikiran anda.

5. Do your best, work hard, much harder than anyone else

Setelah anda menyeleksi hal hal yang bisa anda kerjakan, nah sekarang kerjakan semaksimal mungkin , sebaik mungkin. Circle of influence  is not an excuse for  not doing your work. You still have to do your  best. You still have to perform at your maximum level.

6. Continue to learn, continue to improve yourself.
Finally, last but not least, cara untuk menambah pengaruh anda adalah dengan meng-upgrade anda , dengan menambah dan meningkatkan kompetensi anda.
Caranya? Ikut training, cari coach, baca buku, baca majalah, baca internet, cari mentor dan volunteer mengerjakan pekerjaan di luar scope dan tanggung jawab anda.

Jadi, untuk mengurangi kecemasan anda dan memperbesar "pengaruh" anda, kita bida mencoba  beberapa langkah di bawah ini.

1. Filter your information flow
2. Choose your battle
3. Drop your area of concern
4. Focus all your time, energy and effort in the area that you can control
5. Do your best, work hard, much harder than anyone else
6. Continue to learn, continue to improve yourself

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto