Komunitas Praktisi Profesional HR Indonesia

Video of the Day

Senin, 27 Februari 2017

On 16.07 by HRBPFORUM in    No comments


PADA SAAT RANGGA MEMULAI BISNISNYA

( The lifecycle of your business )

Pagi itu, saya nyetir sendiri ke kantor diiringi Whitney Houston yang menyanyikan "One Moment in Time", salah satu lagu favorit saya.
Dan berderinglah handphone saya , ternyata Rangga, seorang pembaca saya, menelpon dari Sumatera.
Rangga kebetulan termasuk cerdas, dan sangat bermimpi untuk menjadi pengusaha sukses.
Minggirlah saya parkir dulu dan ngobrol sama Rangga.

"Mas Pam, saya sedang memulai bisnis saya. Saya mau membuat komplek perumahan di daerah saya dan saya akan jual ke penduduk sekitar. Saya sudah mendapatkan kepercayaan dari beberapa kenalan saya, baik itu betupa tanah, sertifikat, bahkan penggunaan kantor".
"Sekarang saya memerlukan dana operasional untuk 6 bulan ke depan sebesar sekian (dia sebutkan jumlahnya?). Menurut mas Pam sekarang aku harus bagaimana?"

Pertama, saya ingin memuji Rangga yang mempunyai mimpi besar dan bekerja keras untuk mencapai mimpinya.
Saya tahu perjuangannya akan berat, tapi saya yakin suatu saat nanti Rangga akan mencapai mimpinya.

Sekarang kita analisa di mana problem Rangga?
1) Rangga membutuhkan investasi
2) Rangga perlu mendekati perorangan atau institusi yang bisa  berinvestasi untuk bisnisnya
3) Rangga perlu melakukan business planning (bukan hanya 6 bulan ke depan), tetapi juga mungkin 2-3 tahun ke depan.

Nah ... poin 1 dan poin 2 biasanya sangat jelas, dan semua orang yang memulai bisnis sudah tahu hal itu.
(Ya iyalah, gak ada modal bisnisnya gak akan jalan).
Thay's why they will spend a lot of time solving problem 2 and 3.
Masalahnya ada yang seperti Rangga, yang hanya memikirkan bisnisnya untuk 6 bulan ke depan.
Nah ini bahaya sekali, karena 6 bulan kemudian saat dana operational kita habis, kita akan kebingungan lagi mencari dana, pada saat dia harus fokus pada membesarkan bisnisnya. Masalah ini lah yang sering saya amati terjadi pada beberapa orang yang memulai bisnisnya.
Akibatnya bisnisnya tidak pernah berkembang karena sang pemula yang terus menerus berusaha mencari dana (investasi) padahal seharusnya fokus di setiap phase bisnis adalah berbeda.
Dan kalau kita tidak fokus pada apa yang harus dilakukan pada setiap phase bisnis, maka resiko kegagalan akan terjadi.
Itulah mengapa secara statistik, banyak sekali bisnis baru yang layu sebelum berkembang, gagal pada sebelum 2 tahun keberadaaanya.

Lalu sebenarnya apa saja sih phase phase dalam perkembangan sebuah bisnis itu?

1. PHASE 1: START-UP
Ini adalah masa awal sebuah bisnis. Di sini fokus anda adalah:
- mencari ide bisnis
- mencari investasi,
- mulai menjual product anda

2. PHASE 2: GROWTH
Di sini anda mulai berhasil menjual product anda ke customer-customer pertama anda.
Make sure you deliver well your product to them. Mereka akan menyebarkan berita kepada teman-temannya.
Di phase ini fokus anda adalah:
- menjual product anda
- menyampaikan product anda ke customer anda dengan pelayanan maksimal
- menambah jumlah customer

Basically here your focus is sell, deliver, sell, deliver ...etc
Itulah kenapa di phase 2 anda sudah tidak memikirkan masalah modal lagi. Kalau di sini anda masih mikirin dana, anda tidak akan pernah focus pada selling. Kapan bisnisnya mau berkembang?

3. Phase 3: MATURITY
Di phase ini bisnis anda sudah berkembag dan pelanggan sudah banyak yang membeli. Di sini focus anda adalah ...
- Deliver your products to your customers
- Mengurangi pengeluaran anda
- Memaksimalkan keuntungan (profit) yang anda dapatkan.

4. PHASE 4: DECLINE
Nah ini nih yang bahaya, sayangnya sehebat apapun bisnis anda atau product anda, mau tidak mau, cepat atau lambat, penjualan anda dari product ini akan menurun.
Nah, sebelum sampai di phase ini, anda harus berfokus pada
- pengembangan product baru
- mencari segmen pasar yang baru
- mencari sumber pendapatan baru

Agar sebuah bisnis  berjalan sukses secara jangka panjang, maka kita harus berfokus pada aktifitas aktifitas yang berbeda-beda di setiap phase tersebut.
Itulah kekeliruan yang seringkali dilakukan oleh para pemula.
Tidak berfokus pada aktivitas yang tepat di phase yang tepat.

Ok, sek

arang kita kembali ke Rangga, apa yang harus dilakukan Rangga saat mencari Cinta (eh... Dana).

Kita lihat satu persatu.

1. Bikin Business Plan yang mendetail

Rangga harus memulai membuat business plan. Plan ini yang akan ditunjukkan kepada investornya, baik itu perorangan maupun institusi. Mereka hanya akan memberikan investasi kepada mereka yang percaya mampu menjalankan bisnis dan mendatangkan keuntungan.
Show your knowledge.
Show your skills.
Show that they can trust you to run your business.
Convince them!
Jadi anda harus  membuat bisnis plan yang lengkap:
- productnya apa
- customer segment anda siapa
- siapa competitor anda
- projection (revenue, cost, profit) for  the next 2-3 years
- .....etc

2. Berfikir realistis.
It is great to have a dream. The bigger the better. Tetapi pada saat anda mau mengimplementasikan, anda tetap harus realistis.
Investor anda hanya ingin melepaskan dananya pada mereka yang benar benar mampu mengimplementasikan, dan bukan hanya mampu memimpikan idenya.

3. Menyiapkan presentasi yang keren.
Anda harus meyakinkan mereka.
Seorang penyanyi yang maju ke kompetisi menyanyi ( Indonesian Idole, The Voice atau Kontes Dangdut) harus mampu meyakinkan dewan jury bahwa mereka memang yang terbaik dan  berhak menjadi juara.
Mereka akan memilih lagu dan berlatih sekian kali untuk menyiapkan penampilan mereka.
It is the same for you. Siapkan materinya. Siapkan presentasinya.
Dan majulah dengan penuh percaya diri.

4. Bermuka tebal
Siap-siap. Beberapa orang mungkin menyukai ide anda. Beberapa orang akan tidak menyukai dan menambahkan bonus (cibiran, celaan, ejekan, hinaan).
Siap-siaplah dengan itu. Semuanya itu normal..Tidak ada ceritanya anda bertemu investor pertama kali dan langsung dia menggelontotkan dana jutaan rupiah ke anda. Anda harus gagal dulu dan gagal dulu sebelum akhirnya akan ada investor yang benar benar tertarik.

5. Pantang menyerah
Setelah anda mendapatkan investasi, anda harus menjalankan bisnis anda.
Lagi-lagi di sini akan banyak hambatan yang akan ada...
- sulit mencari karyawan
- belum dipercaya supplier, partner
- customer belum datang atau belum membeli
Bisnis di design agar hanya orang orang yang pantang menyerah yang akan berhasil.
Kuatkan hati. Tergarkan hati.
Kuatkan tekat.
Hambatan itu adalah langkah awal sebelum mencapai keberhasilan.
Bersiap-siaplah ...

Ok, selamat mencoba.

Salam Hangat,

Pambudi Sunarsihanto

Jumat, 24 Februari 2017

On 16.02 by HRBPFORUM in ,    No comments


CREATING WOW EFFECT

(Bagaimana menjelaskan ke customer anda "mengapa harga anda lebih mahal"?)

Pagi itu Shinta telpon saya. Shinta adalah seorang sahabat yang menjadi CEO sebuah perusahaan yang memproduksi dan menjual premium product.
The company is  very successfull in developing, producing and selling their (premium) products.
And since they are premium products, their prices are obviously more expensive than others.

Dan inilah yang menjadi challenge bagi mereka. Bagaimana menjual product yang lebih mahal daripada kompetitor mereka?
Bagaimana sales team mereka bisa menjawab mengapa harga mereka lebih mahal?
Itulah yang ditanyakan Shinta pada pagi hari itu.

Ok, lets discuss ...
Pada saat anda mendesign dan mendevelop product anda, tentunya sudah jelas siapa target market dan target customer anda.
Jadi tentu saja perusahaan BMW tidak mendesign mobil untuk kalangan bawah, dan juga Apples tidak mendesign i-Phone untuk kalangan bawah.
Artinya dalam proses mendesign mereka sudah tahu
- siapa customer mereka (yang akan membeli)
- berapa daya beli mereka
- berapa kira kira harga yang mereka akan bayar

dan kemudian mereka akan membuat product yang berkualitas tinggi, sedemikian hingga customernya pada saat melihat akan bilang "Wow!" dan kemudian akan rela membayar mahal untuk mendapatkan product itu kan?

Dengan prinsip yang sama, pada saat calon pengguna i-Phone ditunjukkan i-Phone yang baru dengan segala fungsinya, tidak ada yang komplain "harganya mahal amat!"
Mereka itu akan membeli atau dengan sopan meninggalkan toko.
Tidak ada yang komplain.
Atau kalaupun ada yang komplain, ya dicuekin aja, gak ada toko i-Phone yang akan menurunkan harganya karena customer  ya komploin?
Sama persis dengan mobil BMW, waktu masuk toko BMW para calon pemilik gak ada yang komplain dengan harga mobil BMW.
Semuanya melihat mobil BMW, bilang WoW kemudian akan langsung bayar (atau pulang dan nabung dulu 20 tahun).

Jadi bagaimana prinsipnya?
- Define your target market
- Design your product
- Create the WOW effect
- Communicate consistently the strength of your product

Nah, jadi kuncinya ada di langkah keempat kan?
Bagaimana anda, perusahaan anda dan semua karyawan di perusahaan anda (bukan hanya yang di sales tetapi semua karyawan) mampu mengkomunikasikan secara consistent apa yang menjadi keunggulan product anda!

Di bawah ini adalah beberapa tips untuk menjelaskan keunggulan product anda kepada customer ...

1. Discuss about the values (top 3 differentiators)
Anda harus yakin apa sih differentiators anda dibandingkan yang lain.
Anda harus mampu menjelaskan dengan singkat 3 hal yang sederhana yang membuat  product anda berbeda dengan yang lain.

Contoh, Toyota akan bilang bahwa product mereka:
- Kualitasnya bagus
- Maintenance nya gampang
- Harga jualnya tinggi

Sementara BMW akan bilang bahwa mobil mereka:
- Perstigious (sangat bergengsi)
- driving experience (pengalaman menyetir yang keren)
- after sales service (pelayanan purna jual yang bagus)

Ikea akan bilang
- product yang trendy
- harga yang murah (untuk kualitas yang bagus)
- pengalaman berbelanja yang menyenangkan

Are you ready?
Apakah tiga hal yang membuat product anda lebih unggul daripada yang lain (untuk specific customer yang anda targetkan).

2. Focus on the "experience" not the product

Kemudian anda juga harus berfokus bukan hanya pada product itu sendiri.
Product adalah "barang", akan banyak yang bisa meniru.
Tetapi anda harus berganti mindset ke "experience".
Ikea tidak hanya menjual mebel, mereka juga menawarkan shopping experience.
Shell memastikan bahwa toiletnya selalu bersih karena mereka bukan hanya menawarkan bahan bakar yang bagus tapi juga experience.
BMW bukan hanya menawarkan mobil tetapi juga menawarkan experience yang sangat nyaman dan bergengsi.
Nah, challenge anda adalah apakah "experience" yang anda tawarkan kepada customer anda.
Begitu ketemu experience itu, maka akan sudah sekali bagi competitor anda untuk meniru.
Dan ini akan memudahkan langkah langkah anda berikutnya untuk mengkomunikasikan "value" product anda.

3. Create a WOW effect
Setelah an

da mengerti experience yang anda tawarkan, anda mulai mendesign "Wow" experience yang akan membuat customer anda terkesima dan membuat mereka rela membayar harga yang anda tawarkan untuk itu.
Semakin experience itu membuat mereka terkesima, terpana, kagum dan membuat mereka bilang "Wow!" akan mempermudah tugas anda berikutnya.
Jadi prioritas anda adalah pada :
- menemukan strength product anda
- memikirkan experience apa yang akan dialami customer anda
- bagaimana caranya memberikan "WOW" effect pada pembeli anda

4. Send consistent message
Nah, setelah anda melakukan langkah langkah di atas, berarti content of the message yang anda ingin kirimkan ke customer anda sudah jadi.
Ingat message tersebut akan sangat menentukan
acceptance of your customers terhadap product anda, kesediaan mereka membayar harga berapa yang anda pasang dan kelangsungan bisnis anda di jangka panjang.
Jangan pernah lelah, harus selalu mengirimkan message itu terus menerus secara konsisten dan regular!

5. Make sure everybody talk the same language
Last but not least, make sure that everybody talk the same language.
Jadi  semua karyawan anda akan mampu menyampaikan komunikasi yang sama, semua karyawan adalah brand ambassador anda, bukan hanya sales team.

Jadi semua karyawan harus menggunakan product anda, menyukainya, mengalami WOW effect dan mengkomunikasikan secara consistent kepada semua orang yang mereka kenal dan juga semua customer anda.
Tidak bisa hanya sales team saja, semua karyawan harus menyampaikan consistent message itu.

Jadi ingat ya, inilah tips tips untuk menjelaskan ke customer anda "mengapa harga anda lebih mahal"

1. Discuss about the values (top 3 differentiators)
2. Focus on the "experience" not the product
3. Create a WOW effect
4. Send consistent message
5. Make sure everybody talk the same language

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Rabu, 22 Februari 2017

On 16.18 by HRBPFORUM in    No comments

Think Differently, Act Differently.
- How to get a job in the parking lot?

Waktu lebaran yang lalu, seorang tetangga datang ke rumah ayah saya. Dia mengajak anaknya yang lulus (hampir 2 tahun lalu) dari jurusan Teknik Elektro  di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia (Top 5). Intinya beliau minta tolong untuk mencarikan pekerjaan buat anaknya, sebut saja namanya si Adi. Melihat ijazahnya, saya cukup terkejut bahwa Adi belum juga mendapatkan pekerjaan.
Lalu saya tanya,”Apa yang sudah Adi lakukan untuk mencari pekerjaan?”
Dia menjawab bahwa dia sudah mencari lowongan di koran dan Internet dan mengirimkan CV-nya hampir setiap minggu. Sayangnya sampai sekarang  belum juga mendapatkan pekerjaan. Beberapa kali mendapatkan panggilan wawancara tahap pertama, tanpa ada kelanjutan.
Saat saya kembali ke Singapura, saya masih teringat hal ini. Ada berapa “Adi” yang ada di Indonesia?. Tragisnya, hal ini terjadi pada saat banyak sekali perusahaan yang memerlukan “Adi”. Nah, di mana “miss-match” yang terjadi?
Mari kita coba menganalisa masalah ini dari sisi perusahaan. Know your audience! Put yourself in their shoes! Banyak perusahaan bisnisnya sedang berkembang pesat. Tetapi kompetisi juga terjadi dengan sangat sengit. Contoh nyata terjadi di dunia telekomunikasi di mana para operator perang harga semurah-murahnya. Kemudian di pasar handphone, di mana merek-merek besar ditantang oleh merek-merek Cina dan merek-merek lokal (yang sebenarnya dibuat di Cina jugaJ). Hal yang sama terjadi di dunia otomotif, semen dan lain-lain. Intinya adalah kompetisi sangat-sangat keras. Pada saat kompetisi berjalan dengan kerasnya, perusahaan juga harus melakukan hal yang berbeda dengan kompetitornya. Kalau kita melakukan hal yang sama, tentunya mudah bagi kompetitor untuk meniru ataupun mengalahkan kita.
Karena perusahaan harus melakukan hal-hal yang berbeda (bahasa kerennya ”innovative”, maka perusahaan juga memerlukan karyawan-karyawan yang ”innovative”). Innovative itu berarti menciptakan sesuatu yang baru, berpikir secara berbeda dengan yang lain.
Kalau Thomas Alva Edison berfikir dengan cara yang sama dengan orang lain, mungkin dia tidak akan pernah menemukan bola lampu. Kalau Alexander Graham Bell berfikir dengan cara yang sama dengan orang lain, mungkin dia tidak akan pernah menemukan telepon. Kalau Johannes Gutenberg berfikir dengan cara yang sama dengan orang lain, mungkin dia tidak akan pernah menemukan mesin printing. Bisakah anda bayangkan hidup kita tanpa bola lampu, tanpa telepon dan tanpa printing machine?
Mereka ini mampu mencapai hasil yang berbeda, karena mereka berfikir dengan cara yang berbeda dan melakukan hal yang berbeda.
Think differently, act differently! That’s the key.
It is so stupid to expect that you will get different (better) result by doing exactly the same thing
Nah, problemnya otak kita ini sudah terbiasa berpikir dengan cara yang sama terus setiap hari.
Sebagai contoh, saya pernah melakukan ratusan training session di belasan negara, dari Munich, Helsinki, Sydney, Beijing sampai Garut, bahkan Jambu Luwuk (I bet you don’t know where it is). Biasanya saya memberikan selembar kertas putih A4 kepada para peserta. Kemudian saya suruh mereka membuat pesawat terbang (paper airplane in english, atau “montor muluk” dalam bahasa Jawa).
Dari sekian banyak peserta, ternyata  95% peserta membuat pesawat dengan design yang sama persis. (Saya yakin anda tahu bentuk pesawat itu seperti apa).
By the way, design ini adalah design yang sama persis kita bikin waktu klas 1 SD (bayangkan berapa puluh tahun yang lalu). What does it mean? Selama sekian puluh tahun, otak kita bekerja dengan cara yang sama persis. Nggak pernah mencoba melakukan ide-ide baru yang berbeda. Lha, kalau otak model begini mau dikasih pekerjaan di perusahaan, bagaimana perusahaan bisa melakukan hal-hal yang innovative? Mudah banget strategy atau product development perusahaan itu ditiru kompetitornya.
Berfikirlah berbeda, bertindaklah berbeda. Think differently, act differently.
Saya sampai membeli buku "365 Paper Airplanes" untuk anak-anak saya. (Bisa

dibeli di www.amazon.com). Buku ini mengajarkan 365 cara untuk membuat pesawat terbang dari kertas. Saya bersama anak-anak saya mencoba membuat pesawat terbang dari kertas dengan cara-cara yang baru. Sekedar agar otak mereka terus-menerus mencari cara yang baru untuk membuat pesawat terbang, menyelesaikan masalah atau berkreatitas. That’s innovation!
Jadi ternyata ada lebih dari 365 cara untuk bikin pesawat terbang? Dan sebelumnya kita hanya mengenal satu? Salah seorang paman istri saya lulus S-3 teknologi penerbangan dari Jerman. I wonder how many paper airplane he can make?
Anyway, belajarlah untuk melakukan hal-hal yang berbeda.
1)      Berbeda dibandingkan dengan orang lain (be different, separate yourself from the crowd)
2)      Berbeda dibandingkan masa lalu (Different than the past, continuous improvement!)
Nah, mari kita kembali ke “Adi” yang belum juga mendapatkan pekerjaan, setelah lulus hampir 2 tahun lalu dari Jurusan Teknik Elektro sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia. Bukan perguruan tinggi sembarangan di Indonesia.  Top 5 lah. Gotcha! Now you know which one I am talking about :-)
Waktu saya tanya  bagaimana cara dia mencari kerja, jawabannya adalah dengan mencari lowongan di koran dan Internet. Plea…sseeee ! Ada berapa ratus ribu (atau berapa juta) orang yang sedang mencari kerja? Dan berapa orang yang menggunakan koran dan Internet untuk mencari kerja. Again, Adi is doing the exact same things as his (millions of) competitors. How does he expect to get a better result?
So, what can he do differently? I don’t know. It is up to him.

Tetapi saya bisa share pengalaman pribadi saya mencari pekerjaan di lapangan parkir.
Apa yang melintas di benak anda pada saat saya bilang bahwa saya mencari pekerjaan di lapangan parkir? Tertawa, tersenyum …. Pasti Pambudi sedang bercanda. Teruskan membaca ….

Pada bulan September 1993 saya pulang ke Jakarta setelah menyelesaikan kuliah saya di Perancis (ijasah saya di bidang Computer Sciences). Saya mencari kerja…. Susahnya minta ampun ….Ada beberapa lowongan di koran, tapi saya yakin pasti ada ribuan yang melamar untuk satu posisi, dan sebagian besar CV akan dibuang ke tempat sampah J Internet waktu itu belum ada J Sebagian besar mendapatkan pekerjaan karena koneksi, networking, kenalan atau apapun istilahnya. Basically it means you get the job because of someone that you know.
The problem was I did not know anybody. Everybody that I knew live in France. I did not know anybody in Jakarta. Ok lah, saya mengenal kakak saya yang psikiater, kakak ipar saya guru tari dan tiga keponakan saya yg usianya 2-7 tahun. I don’t think they can help me find a job :-)
Nah, waktu itu benar benar saat yang tepat untuk Think Differently, Act Differently,.
Saya berfikir, what are my competitive advantage? What separate me from the crowd.
Sederhana saja, ada 2.
1)      Berlatang belakang IT (ijasahnya kan computer science)
2)      Lancar berbicara Perancis
Di mana kira-kira saya bisa menjual competitive advantage tersebut? Ke perusahaan Perancis kan?
Karena kalau saya sekedar melamar di any company (Amerika, Inggris atau perusahaan lokal), competitive advantage yang kedua akan luntur. Again, understand your strengths. What would separate you from the crowd? Banyak pencari kerja sekarang yang bahkan tidak tahu strengthnya sendiri. Please!
If you don’t know how to appreciate yourself, I can guaranty that others will not appreciate you!
Okay, jadi saya harus mencari pekerjaan di perusahaan Perancis. (Bahasa kerennya , inilah “niche market” saya, kalau ingin tahu lebih banyak tentang niche market click di sini http://en.wikipedia.org/wiki/Niche_market. Saya harus membuat beberapa CV.(yang tentunya saya customize sesuai dengan culture perusahaan-perusahaan Perancis, dan tentunya juga ditulis dalam bahasa Perancis). Nah, sekarang di mana saya harus “menjual” atau “mengedarkan” CV saya tersebut? Apalagi kalau mereka tidak memasang lowongan.  Apakah saya harus datangi satu-persatu perusahaan itu? Saya pasti diusir oleh receptionistnya. Apakah saya harus ke Kedutaan Perancis untuk minta daftar

perusahaan Perancis di Jakarta? Bisa juga, tapi mungkin repot kali ya. Saya mencoba berpikir berbeda dan kemudian mendatangi Sekolah International Perancis (di Cipete, Jakarta). Yang sekolah di situ mestinya anak-anak Perancis, dan biasanya bapak-bapaknya adalah manager-manager di perusahaan Perancis.  Dengan bertebal muka (yang sudah kenal saya, akan tahu, bahwa muka saya memang literally tebal), saya berdiri di lapangan parkir sekolah tersebut pada saat ibu-ibu Perancis mau menjemput anak-anak mereka seusai jam sekolah. Saya sampaikan CV dengan bilang,”Madam, saya ini lulusan Perancis. Tolong sampaikan CV saya ke suami anda. Kalau dia nggak suka tolong buang ke tempat sampah. Kalau dia tertarik, please call me”. Saya menyebarkan 20 amplop (isinya 1 halaman surat lamaran dan 1 halaman CV saya). Ongkos fotocopy-na pun murah sekali. Saya yakin, seyakin-yakinnya, bahwa pasti ada beberapa amplop yang ketinggalan di mobil (dan dibuang sopirnya), beberapa amplop yang lupa diserahkan ke suaminya dan beberapa amplop yang literally dibuang ke tempat sampah. But, in the next 2 weeks, I received calls to attend 8 interviews. Dan pada minggu ketiga saya menerima 4 job offers. Sementara ada teman saya dengan background hampir sama masih belum mendapatkan pekerjaan (2 tahun kemudian), saya mendapatkan 4 job offers dalam 3 minggu. This is what happen when you think differently and you act differently? Got it?
Sebenarnya “Think Differntly and Act Differently” bukan hanya diperlukan pada saat mencari pekerjaan, tetapi juga pada saat kita merancang dan menerapkan startegi perusahaan. Contoh: pada saat perusahaan sirkus lain berlomba-lomba mencari binatang-binatang yang besar, Cirque du Soleil malah menghapuskan binatang dari atraksi mereka, dan berhasil. Pada saat perusahaan mebel lain berlomba-lomba memperbaiki pelayanan di toko dengan menambah jumlah pelayan, Ikea malah menerapka self-service di toko-toko mereka, dan berhasil.  Dan banyak contoh lain … Again, Think Differently, Act differently.
So, what should we do to help Adi find his job? Well he has to help himself by:
-          Find his own strength
-          Find his “niche market” based on his strength
-          Use his strength as his competitive advantage to attack his niche market
-          Last, find his “parking lot” to find his job
Mungkin bagi Adi, nanti dia tidak akan ke lapangan parkir. That’s ok. Parking Lot hanya melambangkan tempat di mana dia mencari kerja, setelah Think Differently. Saya kenal teman saya yang dapet kerja di restauran, di lapangan golf, di stasiun kereta, di airport ….. dan ternyata sedikit sekali teman saya yang mendapatkan kerja …. melalui koran. See, how niche market is much more effective!
Sudah siapkah anda untuk Think Differently and Act Differently? Eeiits, tunggu dulu. Karena ternyata susah juga dan anda harus siap ditertawakan orang lain.
Makanya harus bermuka tebal kan? Di workshop saya waktu ada yang membuat pesawat dari kertas dengan cara berbeda dari yang lain,  biasanya temen-temennya akan mentertawakan, sambil mencela,"Bisa bikin pesawat gak sih lu?"
Be ready! Seorang innovator itu dicela dan ditertawakan pada awalnya. Harus tahan mental!
Kedua, setelah pesawat yang "berbeda" jadi, maka diterbangkan, biasanya gagal dulu. Temen-temennya akan langsung bilang dan mencela lagi,"Tuh kan? Gua kata juga apa, bikin pesawat itu kayak begini!" What does it mean? Innovator itu nggak ada yang suksed dari langkah pertama. Bahkan Thomas Alva Edison pun gagal berpuluh-puluh kali sebelum menciptakan bola lampu. Anda harus punya kegigihan, tahan banting, persistence dan perserverance, kalau ingin berhasil. OK?
Good Luck Adi, … dan “Adi-Adi” yang lain yang ada di Indonesia, yang sedang berusaha untuk “Think Differently and Act Differently.”

Warm Regards,

pambudi sunarsihanto

Sabtu, 18 Februari 2017

On 15.12 by HRBPFORUM in    No comments


HIDUP INI ADALAH MARATON

(maka teruslah berlari dan jangan pernah menyerah)

Minggu ini ada pertandingan sepak bola menarik di Liga Champion Eropa, Paris Saint Germain (baca Pari Sang Jermang) bermain melawan Barcelona.
Paris adalah sebuah klub yang berusaha menjadi klub besar.
Barcelona adalah sebuah klub paling besar selama ratusan tahun.
Dan tentu saja Paris selalu berusaha mengalahkan Barcelona selama bertahun tahun.
Sayangnya mereka selalu gagal, berkali kali ...dengan skor yang berbeda beda.
Beberapa pelatih diganti, beberapa pemain diganti, beberapa pola permainan diganti, selama bertahun tahun, tetapi mereka tetap kalah melawan sang raksasa Barcelona.
Kadang kadang kalah tipis tapi kadang kadang kalah besar. Tetapi
mereka selalu beusaha, berlatih dan terus menerus memperbaiki diri.
Dan akhirnya pada minggu ini (setelah bertahun tahun berusaha) Paris berhasil mengalahkan Barcelona, dengan skor telak 4-0!
Bayangkan bahwa pemain sehebat Lionel Messi, Suarez, Pique, Iniesta, Gomez dll bisa dikalahkan dengan skor telak 4-0, kekalahan terbesar yang dialami Barcelona (sepanjang sejarah Liga Champion Eropa).
Apa pelajarannya? Teruslah berusaha, teruslah bekerja keras, teruslah memperbaiki diri, teruslah berdoa. Dan suatu hari keberhasilan akan menjadi milik anda, pasti!
Kalau anda masih gagal sekarang? Itu hanya masalah waktu!

Namanya Dila, seorang mahasiswi Indonesia di Amerika (kuliah Teknik Kimia). Untuk kuliahnya Dila harus menjadi internship di perusahaan selama 4 bulan per tahun.
Sebenarnya nilai nilai akademis Dila bagus, dan bahasa Inggrisnya juga excellent, tetapi sayangnya saat ini perusahaan perusahaan Amerika sedang hati hati merekrut  candidate yang bukan berkebangsaan Amerika (terima kasih kepada presiden yang baru 😁). Jadinya sulit sekali untuk mendapatkan internship tadi.
Dila bukan orang yang mudah menyerah, dia berusaha terus menerus. Tetapi Setelah gagal 12 kali, akhirnya Dila menangis juga, dan menelpon ayah bundanya di Jakarta.
"Mama, ini berat sekali. Saya pikir bahwa kalau kita bagus maka kita akan mendapatkan pekerjaan. Tetapi ternyata saya gagal karena kebangsaan saya bukan karena saya jelek. Saya sedih Ma ...."
Dan ayahnya Dila pun bilang,"Dila, hambatan bisa datang dari segala arah. Semuanya akan mengajarkan kita untuk lebih tegar dan lebih kuat. Teruslah mencoba dan teruslah berusaha!"

Dila pun berusaha terus menerus, dan akhirnya pada wawancara kedelapan belas Dila mendapatkan internship program (dengan bayaran yang lebih tinggi daripada teman temannya orang Amerika).

Apa pelajarannya?
Terus berusaha, terus bekerja keras, terus berlatih, terus memperbaiki diri, terus berdoa.
Keberhasilan itu pasti akan menjadi milik kita, ini hanya masalah waktu!

Nahkoda yang hebat tidak akan dilahirkan dari lautan yang tenang, mereka dididik dan ditempa  oleh ombak, topan dan badai di samudra yang ganas!
Bersyukurlah atas cobaan yang menempa anda, berarti anda akan naik kelas dan mencapai keberhasilan.

Jangan tersenyum bahagia kalau anda sedang tidak menghadapi cobaan.
Berarti anda tidak akan maju maju dan tidak naik kelas!

Bedanya orang yang sukses dan orang gagal itu bukannya orang sukses itu tidak pernah gagal.
Tetapi orang sukses itu selalu bangkit dan bangkit lagi setelah mereka gagal (sementara para pecundang akan putus asa).

Kuncinya adalah terus berusaha dan tidak pernah menyerah!

Terus apa yang kita bisa lakukan untuk terus menerus termotivasi untuk tidak menyerah?

Coba ikuti tips tips di bawah ini ...

1. Kembangkanlah pola pikir positive

Pola pikir anda akan sangat mempengaruhi prestasi anda. Anda  berfikir positive anda akan mendapatkan hasil yang positive.
Anda berfikir negative, anda akan mencapai hasil negative.
Pilihannya ada pada anda.
Maka selalu berpikiran positive lah. Bekerja keras dan berdoalah.
Kalau berhasil, maka bersyukurlah.
Kalau masih gagal, maka berusaha dan berusahalah lagi (Dila ditolak tujuh belas kali sebelum mendapatkan pekerjaan impiannya), karena sukses itu hanyalah waktu.

2. Nikmatilah perjalanan hidup anda
Jangan hanya memikirkan hasilnya, nikmatilah pros

esnya , nikmatilah perjalanan menuju kesuksesan.
Perjalanan itu akan panjang, maka jaga stamina. Jangan stress, jaga kesehatan. Lakukan aktivitas atau hobi yang menghibur anda.

3. Belajarlah dari kesalahan anda

Setelah anda melakukan sesuatu, mau berhasil atau gagal, evaluasi apa yang anda lakukan.
Catat yang bagus dan teruskan.
Catat yang salah, pelajari, jangan lakukan lagi, cari cara lain dan perbaiki.

4. Ketahuilah bahwa akan ada banyak kesempatan untuk berhasil

Pada saat kegagalan datang, adalah wajar bagi anda untuk bersedih atau bahkan menangis. Nggak apa apa kok. Tapi segera bangkit lagi. Masih akan banyak kesempatan untuk berhasil.
Saya pernah (dan sering) ditolak oleh universitas yang saya mau, perusahaan yang saya inginkan, bahkan gadis yang saya taksir 😁.
Pada saat ditolak, tentu saja saya bersedih, tetapi pada saat saya mencoba dan mencoba lagi ternyata akhirnya saya mendapatkan yang jauh lebih baik lagi (seperti halnya Dila dalam cerita di atas).
Jadi tersenyumlah, berusahalah karena masih akan banyak kesempatan lain.

5. Terus meneruslah belajar, berlatih dan memperbaiki diri
Setelah gagal, anda
memang harus mencoba lagi.
Tetapi anda juga harus terus menerus belajar dan memperbaiki diri.
Pelajari ilmu komunikasi, sales, marketing, strategi atau apa saja, untuk meningkatkan kemampuan dan daya kompetitif anda.
Dunia makin berubah, bisnis juga makin kompleks dan rumit, persaingan ketat.
Ilmu yang banyak akan bisa membuat anda memenangkan kompetisi.

6. Bersabarlah, kesuksesan pasti akan terjadi kalau anda terus menerus berusaha. Ini hanya masalah waktu.

Bersabarlah. Terus meneruslah berusaha, berlatih, belajar, bekerja keras dan  berdoa.
Niscaya keberhasilan akan menjadi milikmu.

Jadi ingat ya, jangan pernah menyerah!

1. Kembangkanlah pola pikir positive

2. Enjoy dan antisipasi perubahan

3. Belajarlah dari kesalahan anda

4. Ketahuilah bahwa akan ada banyak kesempatan untuk berhasil

5. Terus meneruslah belajar

6. Bersabarlah, kesuksesan pasti akan terjadi kalau anda terus menerus berusaha dan berdoa.

Karena hidup ini adalah marathon, bukan lari sprint 100 meter.
Maka jagalah stamina untuk perjalanan yang panjang ini ...
Terus meneruslah berusaha, berdoa dan bekerja keras!

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Kamis, 16 Februari 2017

On 15.55 by HRBPFORUM in    No comments


DEFINE AND DELIVER your BRAND PROMISE

Tina adalah owner dari sebuah retail network dengan puluhan outlet tersebar di Indonesia.
Seorang teman saya memperkenalkan Tina pada saya. Dan pagi itu kami breakfast di Kuningan City.

Saya sedang menikmati Croque Madame (roti, beef ham dan telur) kesukaan saya ketika Tina datang.
Tina looks very smart, confident dan ramah sekali.
Tina adalah seorang owner yang mempunyai beberapa outlet di Indonesia.
Meskipun bisnisnya  cukup berkembang, tapi Tina merasa bahwa pertumbuhan bisnisnya seperti jalan di tempat dan seharusnya bisa lebih pesat daripada sekarang.
Tina sudah berusaha berbagai cara tetapi tetap saja perusahannya mencapia "rapid growth" yang dicita-citakannya.

Tina bertanya apa lagi yang harus dilakukannya?

Pertanyaan menarik yang ditanyakan oleh Tina. Dan kita akan membahas di sini, semoga bisa berguna bagi yang lain .

Memang kita tahu bahwa bisnis sekarang memasuki masa masa sulit.
Begitu banyak competitor.
Tanpa "key differentiators" yang jelas, customer tidak akan benar  benar "mencari" product anda.
Mereka mungkin akan begitu mudahnya berganti dari product anda ke product competitor anda (yang mungkin lebih menarik atau lebih murah).
Dan itulah yang mungkin membuat pertumbuhan bisnis anda cenderung tidak terlalu pesat, karena berkat iklan, marketing dan sales anda mungkin saja ada customer baru, tetapi ternyata ada juga pelanggan lama yang kabur ke competitor anda.

Jadi salah satu factor untuk menumbuhkan bisnis anda adalah dengan perlunya anda mempunyai key differentiators, faktor faktor yang membedakan anda dengan yang lain.
Apa yang membuat anda berbeda?
Contoh sederhana, ada begitu banyak bank, apa yang membuat Citibank berbeda?
- Jaringan international yang paling luas
- Product banking yang lebih advance, dan
- Technology (mobile Banking dan Internet Banking )yang lebih canggih.
Mereka berangkat dari product, customer experience dan kemudian terus menerus dikomunikasikan secara consistent kepada customer nya.
Makanya meskipun ada ratusan bank, susah sekali bagi customer Citibank untuk pindah ke bank lain, karena mereka tidak mau kehilangan 3 faktor tadi.

Contoh lain ...
Ada banyak sekali toko yang menjual peralatan mebel.
Apa yang membuat Ikea berbeda dengan yang lain
- Product yang bagus
- Harga yang murah
- Pengalaman berbelanja yang menyenangkan di toko (customer experience).
Ikea mengerti itu, mendesign product product yang menarik, menciptakan customer experience yang menyenangkan dan mengkomunikasikan secara consistent kepada pelanggan pelanggannya.
And  voila! The trick is done. And now their customers keep coming to their stores!

Jadi itulah yang harus Tina lakukan: define, deliver and communicate the brand promise.

Bagaimana caranya? Ikuti step step di bawah ini ...

1. CREATE A SUPERIOR PRODUCT or SERVICE

Pertama kali anda harus tetap mendesign product yang bagus. Yang lebih bagus daripada product competitor anda.
Anda gak akan maju perang kalau gak punya senjata kan?
Nah dalan bisnis senjata anda adalah product yang bagus!
Start from there ...

2. FOCUS ON THE CUSTOMER EXPERIENCE
Product yang bagus perlu dilengkapi dengan great customer experience.
Ingat Ikea yang productnya bagus dan tokonya sangat menyenangkan?
Ingat Citibank yang mobile bankingnya jauh lebih canggih dan friendly daripada yang lain?
Ingat BMW yang mempunyai after sales service yang sangat keren?
Lihat Shell yang bukan hanya bensinnya yang lebih bagus, tetapi juga toiletnya yang jauh lebih bersih?
That s what you need to do!
Lengkapilah product anda dengan customer experience (pengalaman pelanggan) yang menyenangkan.

3. HIRE AND DEVELOP THE RIGHT PEOPLE

Great product dan great service gak ada gunanya kalau di deliver oleh bad people.
Hire great people untuk memastikan bahwa product anda memang akan mencapai sasaran yang tepat, yaitu customer yang anda targetkan!

4. DELIVER CONSISTENT EXPERIENCE

5. CONTINUOUSLY COMMUNICATE YOUR BRAND PROMISE

Jadi ingat ya, to improve your business performance by delivering your brand promise , you have to ...

1. CREATE A SUPERIOR PRODUCT

or SERVICE
2. FOCUS ON THE CUSTOMER EXPERIENCE
3. HIRE AND DEVELOP THE RIGHT PEOPLE
4. DELIVER CONSISTENT EXPERIENCE
5. CONTINUOUSLY COMMUNICATE YOUR BRAND PROMISE

By the way, setelah anda perhatikan sepertinya konsep brand promise ini juga bisa diterapkan pada bidang bidang yang lain, bukan hanya untuk outlet atau retail, tetapi juga untuk bisnis lain dan  bahkan untuk karier anda (what is your brand promise as a profesional?)

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Senin, 13 Februari 2017

On 14.49 by HRBPFORUM in    No comments

PADA SAAT KARYAWAN-KARYAWAN MEMBAWA PETI MATI UNTUK DIREKTUR UTAMA

(SUSAHNYA MEMIMPIN SEBUAH PERUBAHAN )

Hari itu saya ngopi-ngopi dan berdiskusi dengan seorang Direktur Utama sebuah Rumah Sakit di Jawa Barat.
Sebut saja namanya Dokter Aryanto.
Dulunya dia kuliah kedokteran, dokter spesialis dan kemudian master of management.

Anyway, setahun yang lalu dia dipindahkan dari sebuah Rumah Sakit di Jawa Timur ke Rumah Sakit yang lain di Jawa Barat.
Dan saat itulah leadership journey nya dimulai.
Atau saya mungkin akan menterjemahkan kata leadership journey dengan "petualangan" atau lebih tepatnya "penderitaan".
Karena memang ternyata dua belas bulan pertama itu penuh dengan penderitaan atau bahkan penyiksaan (batin).
Kita dengar cerita Dokter Aryanto di Rumah Sakit itu.

Tiga bulan pertama dia menikmati masa "bulan madu" di Rumah Sakit  itu. Dia berusaha ramah dengan semua orang dan semua orang berusaha  ramah ke dia.
Tiga bulan berikutnya (berarti bulan keempat sampai keenam) mulailah dia merasa begitu banyak challenge yang dihadapi rumah sakit itu:
- Performance keuangan yang merosot
- Kepuasan pelanggan yang turun
- Dan motivasi karyawan yang rendah ...

Meskipun Dokter Aryanto sudah berpengalaman mengurus dua Rumah Sakit yang lain, tapi tetap saja dia geleng-geleng kepala menghadapi masalah itu.
Hampir saja dia menyerahkan kembali amanat jabatan itu dan ingin berfokus menjadi Dokter Spesialis.

Tetapi tentu saja dia terkena sindroma anak sulung yang percaya dirinya terlalu besar ditambah keras kepala, maka dia pun pantang menyerah.
Dia analisa semua permasalahan, dia kerahkan tim managementnya untuk membantu dan akhirnya dia pun mengeluarkan beberapa keputusan strategis yang harus dilaksanakan bersama:

1. Pengetatan anggaran untuk memperbaiki performance financial
(termasuk pemotongan budget operational dan pemotongan insentif karyawan)

2. Peningkatan mutu pelayanan (dengan menerapkan Service Excellence)

3. Peningkatan kompetensi karyawan

4. Menetapkan target   untuk mendapatkan kriteria tertinggi Sertifikasi Rumah Sakit di Indonesia

Semua keputusan strategis itu kelihatannya biasa-biasa saja, dan tidak ada inovasinya di situ. Sangat basic, seperti apa yang terdapat di buku-buku management.
Namun realitas di situ memang begitu...
"Get the basic right, first"

Dan ternyata, memang .... kuncinya perubahan itu bukan di strategy, tetapi di implementasi yang consistent.
A "basic" strategy with consistent implementation is much much better than a "great" strategy with poor execution.

Jadi mulailah Dokter Aryanto mengimplementasikan strategy nya bersama timnya.
You think is easy? You could not be far away from the truth ....

1) Orang-orang takut pada perubahan (meningkatkan customer service berarti pekerjaan bertambah berat)

2) Penurunan biaya operational berarti banyak budget yang tidak bisa dicairkan

3) Penurunan cost berarti penghentian pembiayaan incentive
(padahal mereka sangat mengharapkan ini), padahal teorinya bagaimana perusahaan bisa membayar incentive kalau pemasukan menurun terus bahkan secara anggaran tahunan sudah merugi.

Dokter Aryanto pun menghadapi masa-masa yang sulit....
- penolakan oleh karyawan-karyawannya secara halus maupun kasar
- pembangkangan oleh anggota management teamnya sendiri
- penyebaran issue-issue yang menyerang dirinya secara pribadi

Pada saat dia pikir situasi itu sudah buruk, ternyata the worse is coming ...

Ada demonstrasi karyawan-karyawannya, bahkan ada yang mengirimkan peti mati dengan nama Dokter Aryanto .

Di sini Dokter Aryanto sampai ke titik terendah pada level motivasi timnya dan juga motivas dirinya sendiri.

Untungnya Dokter Aryanto sudah berpengalaman melakukan hal yang sama di dua Rumah Sakit sebelumnya

Jadi meskipun suasana sulit, Dokter Aryanto mengerti bahwa ini tetap sebuah proses change management yang normal.
Kurva perubahan tidak pernah berjalan mulus. Tidak pernah terjadi dalam sebuah change management, kurva motivasi dan performance langsung naik terus. Selalu saja ada penurunan motivasi dan performance pada awalnya.
Dokter Aryanto tahu dan mengerti i

tu.
Problemnya pada saat motivasi dan performance turun drastis itu banyak sekali orang yang akan bilang,"Enak jaman dulu ya... Lebih enak dipimpin oleh peminpin yang dulu"
Mari kita mengingat apa yang tertulis di belakang truk truk di jalur Pantura,"Enak jamanku mbiyen to?"
And that's exactly right.
Pada awal perubahan selalu motivasi dan performance turun di awalnya. Tetapi kalau kita tidak akan melakukan perubahan kita juga tidak akan pernah mendapatkan perbaikan dan kemajuan.
Kalau kita tidak mengalami perubahan, lama lama kita akan lebih terpuruk lagi.
Sementara kalau kita melakukan perubahan, performance dan motivasi memang selalu turun pada awalnya.
Kemudian kita memasuki masa frustrasi, sedih, marah, murka, mungkin karyawan karyawan demo, bahkan mengirimkan peti mayat (pada kasus Dokter Aryanto di atas).
It is normal. And it will always happen. Di Indonesia, di luar  negeri, di perusahaan swasta, di pemerintahan, di BUMN .... everywhere.
Please do not expect bahwa pada perubahan motivasi dan performance langsung naik.
Nah, pada saat kita berada di masa masa sulit dan frustasi itu lah terjadi leadership test.
Are you a leader? Or are you loser?
Seorang pecundang akan terus menerus frustasi, menyerah dan berhenti berubah dan kemudian tidak pernah mengalami kemajuan bahkan akan terus menerus mundur menuju kehancuran (lihat apa yang terjadi dengan Kodak, Nokia Mobile Phone, Xerox photocopy ...dll).
Sementara seorang winner terus menerus berusaha, tegar, keras kepala, teguh, ulet, keukeuh, persistent dan perserverant.
Seorang leader akan terus menerus berusaha, berdo'a, experiment, explore, try new things, influencing ... dengan segala cara sampai akhirnya tujuan perubahan tercapai dan membawa manfaat bagi bisnisp dan seluruh karyawannya.p

Jadi, mari kita dengarkan lagi cerita dari Dokter Aryanto ya ...

Dan inilah yang kemudian dilakukan di masa-masa sulitnya perubahan itu...

1. MENDENGARKAN saran, keluhan, masukan, suggestion dan feedback dari para karyawan.
First thing first. Dont communicate yet. Dont explain yet. But listen and care.

2. PENDEKATAN DARI HATI KE HATI
Setelah mendengarkan, Dokter Aryanto mulai berdiskusi 2 arah and start to adress their concern.
It is a normal reaction. Perubahan adalah sesuatu yang menakutkan bagi semua orang. Itu reaksi yang sangat manusiawi. Sebagai leader jangan marah. Jangan kecewa. Tetapi berusaha mendengarkan, mengerti dan memberikan solusi.

3. LIBATKAN SEMUA ORANG
Perubahan tidak akan berhasil tanpa melibatkan semua orang. Jangan hanya terpaku pada tim di bawah anda. Tetapi kepada semua orang yang nantinya akan menjalankan perubahan itu.
Dokter Aryanto pun mengkomunikasikan lagi...
- mengapa perubahan itu perlu dilakukan
- apa saja yang harus dilakukan semua karyawan
- apakah yang mereka semua akan dapatkan pada saat perubahan ini berhasil.
Dan tak lupa Dokter Aryanto menanyakan, apa yang dia bisa bantu ?

4. TUNJUK PARA AGEN PERUBAHAN
Sebagian tim anda akan langsung setuju dan mendukung perubahan itu. Sebagian akan netral dan sebagian lagi jelas jelas melawan perubahan itu.
Tunjuk mereka yang sudah setuju untuk menjadi agen agen perubahan dan membantu anda menyebarkan "virus positif" kepada yang lain.

5. TERAPKAN PENGHARGAAN DAN HUKUMAN YANG JELAS
Menjadi leader itu bukan hanya sayang-sayang dan menggunakan soft skills kepada anak buah anda.
Ada waktunya anda harus bersikap tegas dan bersikap "hard" kepada mereka.
Hanya ada 2 pilihan bagi para profesional:
- tinggal di dalam dan komitmen penuh, atau
- KELUAR !
Nah, sebagai leader, Dokter Aryanto pun sangat tegas untuk hal ini. Mereka yang mensupport mendapatkan penghargaan , tetapi mereka yang terus menerus melawan (meskipun sudah melalui step step di atas), ya dengan berat hati terpaksa mendapatkan sangsi yang jelas.

6. IMPLEMENTASI YANG KONSISTEN
Setelah strategi jelas, dan semua hambatan diselesaikan, satu hal yang harus dilakukan, IMPLEMENTASI!
Dan ternyata ini yang paling penting.
Semua action harus dilakukan.
Semua progress harus dimonitor dan difollow-up.
Hambatan baru harus dicari solusinya bersama.
Motivasi k

Kamis, 09 Februari 2017

On 17.13 by HRBPFORUM   No comments

RAISING AND DEVELOPING CREATIVE CHILDREN

(Mendidik dan mengembangkan anak-anak kreatif)

Pagi itu saya breakfast dengan seorang teman kuliah, sebut saja namanya Randy (bukan nama sebenarnya (dia bekerja di industry kreatif).
Seperti biasa sambil sarapan kami ngobrol sana sini, dan mulailah dia bercerita,"Saya heran tuh , sekarang susah banget cari karyawan karyawan yang kreatif. Anak anak yang baru saya recruit tuh kayaknya hanya terbiasa berfikir dengan satu cara saja. Padahal kan kita maunya anak anak yang berfikir kreatif, think outside the box, break the rules, change the paradigm ...
Tapi kok yang ada justru generasi yang semuanya hanya berfikir dengan satu cara, dan akibatnya ide idenya ya itu itu saja. Jarang banget yang aneh aneh. Padahal ide yang aneh, yang creative, yang innovative dan ide yang breakthrough itulah yang saya cari. Gimana dong? Apakah memang gak ada anak anak yang kreative lagi?"

Pertanyaan yang bagus dan topiknya mengena. Ternyata memang anak anak Indonesia cenderung kurang kreatif dibandingkan dengan anak anak lain.
Kita lihat saja contohnya. Waktu disuruh membuat pesawat terbang dari kertas, hampir semuanya membuat pesawat terbang dengan design yang sama.
Pada saat kita dulu disuruh menggambar pemandangan banyak yang menggambar dua gunung. Semua menggambar dua gunung. Saya sendiri gak ngerti mengapa harus dua gunung? Bukankah banyak juga gunung yang satu?
(Gunung Salak di Bogor, Bromo di Jawa Timur dan Semeru dekat Malang). Semua tempat itu gunungnya hanya satu, tapi mengapa kita semua menggambar dua gunung? Seolah olah kalau kita menggambar satu gunung akan ada yang marah "Gunung kok satu! Gunung itu kan dua?"

Dan lebih parahnya lagi , semua menggambar dua gunung dengan satu rumah, satu jalan, sawah dengan padi (cawang), awan dan burung (berbentuk angka tiga yang terbalik).
Di mana creativitas???

Padahal pemerintah kita sedang menggalakkan creative economy, bagaimana creative economy bisa bergerak kalau kita nggak punya creative people?

Dan untuk karier di masa depan , akan sangat penting bagi kita untuk memiliki ...
- prestasi akademis yang bagus
- jiwa competitive yang keras
- creativity yang tinggi

Harus seimbang antara ketiga hal itu. Kenapa?
- Akademis dibutuhkan karena di masa depan permasalahan yang kita hadapi akan semakin sulit. Jadi dorong anak anak anda untuk belajar dengan baik materi akademisnya

- Competitive dibutuhkan karena di masa depan mereka harus menghadapi kompetisi yang semakin keras.
Dorong anak anak anda untuk menekuni olahraga. Olahraga mengajarkan kita untuk mengalahkan lawan, mencapai yang terbaik dengan mematuhi semua aturan.

- Creative
Di masa depan kompetisi akan semakin ketat, kemampuan kita berinovasi menciptakan product baru dan proses baru akan menjadi penting.
Ajari anak anak anda untuk mendalami sebuah cabang seni (musik, tari, lukis ...etc).

Jadi kita membutuhkan keseimbangan prestasi akademis, olahraga (competitiveness) dan seni (creativity).

Terus bagaimana dong untuk mendidik dan membentuk anak anak yang creative?
Coba ikuti langkah langkah di bawah ini ...

1. Give the children the resources for their creativity
Pertama tama berikan meraka alat alat untuk mengasah kreativitas mereka. Jangan tiap kali ke mall diajak  ke toko mainan. Ajak juga ke toko buku dan peralatan menggambar, pensil, kuas, cat air ... etc.
Belikan mereka alat alat itu biar merka mengenal dan mencoba skills lain selain akademis mereka.

2. Make your home a creative place
Buatlah rumah anda menjadi sangat kreativitas mereka. Jangan menuntut rumah anda untuk selalu rapi. Orang creative gak ada yang rapi. Pernah lihat Albert Einstein rambutnya klimis? Enggak kan? Dan pernah lihat pelukis kreative pakai dasi?
Berantakan adalah lambang kreativitas. Kalau anda ingin anak anda kreative, ya jangan menuntut rumah anda untuk rapi.
Encourage them to be creative!

3. Allow your children to express their creativity
Dorong anak anda untuk memamerkan bakat mereka:
- menyanyi di depan anda
- bermain musik di depan anda
- memamerkan dan menceritakan lukisan mereka di depan anda
Pujilah m

ereka!
Dan kalau perlu dengan bangga tunjukkan hasil karya anak anak anda
kepada tamu tamu di rumah anda.

4. Encourage them to read for pleasure and participate in arts
Dorong mereka untuk rajin membaca. Bukan hanya buku buku pelajaran, tetapi juga novel, biography atau bacaan apapun yang akan encourage their creativity.

5. Reward them for their effort
Jangan lupa memberikan hadiah untuk usaha mereka, bukan hanya dalam akademis tetapi usaha mereka dalam hal olahraga, seni dan juga perilaku mereka yang positive.

Jadi ingat ya, untuk mendidik anak-anak yang creative, mari kita coba terapkan langkah langkah di bawah ini:
1. Give the children the resources for their creativity
2. Make your home a creative place
3. Allow your children to express their creativity
4. Encourage them to read for pleasure and participate in arts
5. Reward them for their effort

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Senin, 06 Februari 2017

On 15.59 by HRBPFORUM in    No comments

BE A MENTOR

Beberapa minggu yang lalu saya menerima WA mesage di handphone  saya,"Om Pam, thank you very much , I won the talent competition in Singapore. Thanks for becoming my mentor in magic"

Message itu dikirimkan oleh Anthony, seorang mentee yang secara regular minta advice saya untuk magic performance nya.
Dan ternyata bulan Desember saya menerima beberapa message sejenis.
Ada sebuah rumah sakit yang seringkali meminta advice tentang pembenahan pelayanan pelanggan dan pengelolaan SDM.
Dan mereka menghadapi sebuah kompetisi keras dari competitor yang jauh lebih besar.
Pada saat mereka melaksanakan advice saya tentang bagaimana mereka harus melakukan product differentiator dan harus focus kepada customer dengan beberapa cara kongkrit, akhirnya mereka berhasil, bisnis tumbuh, pelanggan senang dan mereka mendapatkan customer excellence award.

Ada juga seorang recruiter yang kirim yang menjadi mentee saya dan tahun ini meraih award sebagai best recruiter di Asia Pacific.

Believe me, pada saat anda mendapatkan message message itu ada kepuasan yang luar biasa pada saat mentee anda mencapai achievement tersebut.
Tapi itu hanya side effect (effek samping). Manfaat sebenarnya adalah untuk meningkatkan leadership skills anda.

Makanya saya selalu mendorong semua orang menjadi mentor.
Biasanya setelah saya menulis ini kemudian banyak sekali saya menerima message dan kemudian mereka akan minta ke saya untuk menjadi mentor mereka,"Pak Pam, bagaimana caranya saya menjadi mentee bapak?"
Dan pertanyaan saya adalah "Apakah anda sudah pernah menjadi mentor?"
Jawabannya selalu sama "belum".
Egois amat! Cuma mau menjadi mentee dan gak mau menjadi mentor?
Hanya ingin mendapatkan manfaatnya dan tidak mau bekerja keras sebelumnya?

Be a mentor! Jadilah mentor dong!
Terus ada yang bilang saya kan masih junior, belum bisa jadi mentor.
Maaf, anda selalu bisa menjadi mentor!
Akan selalu ada orang orang yang akan mendapatkan manfaat dari mentoring session dengan anda.
Mereka adalah orang orang yang lebih junior daripada anda.
Kalau anda Director, jadilah mentor untuk para senior manager. Kalau anda senior manager jadilah mentor untuk para manager.
Kalau anda manager jadilah mentor untuk karyawan baru.
Kalau anda karyawan baru jadilah mentor untuk para intern yang belum lulus S-1.
Kalau anda intern jadilah mentor untuk adik kelas anda.
Kalau anda kuliah di tingkat 1 jadilah mentor bagi adik kelas anda yang masih SMA.
Dan seterusnya ....
Jadi lihat kan? bahwa semua orang bisa menjadi mentor!
Pertama kali saya menjadi mentor adalah waktu saya masih baru bekerja sebagai insinyur (yang angkut angkut kabel) dan saya menjadi mentor untuk office boy yang sedang kuliah malam (Fakultas Hukum).
Saya terus menerus memacu semangatnya , dan membantu dengan beberapa nasihatz Kemudian dia lulus dan sekarang menjadi Manager Legal di sebuah perusahaan.

Remember , Give , Give , Give first before you think of receiving ...
Jadilah mentor duluan sebelum anda menjadi mentee.

Dengan menjadi mentor akan banyak yang anda pelajari
- how to listen
- how to develop your people
- how to motivate others to achieve objective

Jadi bagaimana dong, caranya supaya kita bisa menjadi mentor yang baik?

Di bawah ini saya tuliskan beberapa tips untuk menjafi mentor yang baik ....

1. Patient Listener

Pertama tama, anda harus menjadi pendengar yang baik. Dengarkan saja sampai habis apa yang mau mereka katakan.
Pertama kali anda akan mendengar mentee anda mencetitakan pengalaman dan permasalahan yang mereka alami.
Dengarkan!
- dengarkan dengan telinga
- dengarkan dengan hati (perhatian penuh)
- dengarkan dengan mata (lihat ke mereka, jangan lihat HP, jangan kirim message).
Dan jangan potong kalimat mereka.
Just listen patiently (dengarkanlah dengan sabar)

2. Generous Sharer
Seorang mentor adalah seseorang yang bermurah hati, dalam men-sharing experience, menceritakan pengalamannya. Dari pengalaman sang mentor, mentee akan ...
- termotivasi untuk melakukan yang lebih baik
- dari sukses sang mentor , mentee akan meniru hal hal yang baik
- dari kesalahan yang pernah dilakukan

sang mentor, mentee akan bisa menghindari hal itu

Berarti mentor harus menceritakan pengalamannya baik yang berhasil maupun kegagalannya.

Di Indonesia banyak yang suka sinis dan mencibir kalau seseorang menceritakan keberhasilannya.
Ingat! Motivasi anda adalah untuk memotivasi dan sharing experience, bukan menyombongkan diri.
Kalau masih ada yang nyinyir dan sinis , ya silahkan saja.
Ingat anjing menggonggong kafilah berlalu, kalau mereka terus menerus berkomentar negative, akan ketahuan siapa kalifahnya dan  siapa anjingnya!

Share your story, share your experience, share your sucess and your mistakes!

3. Wise Guide
Seorang mentor juga adalah seorang pemandu (guide) yang baik. Guide itu bukan berfokus pada dirinya sendiri. Guide itu berfocus pada orang lain yang diantarkan (mentee).
Jadi fokuskanlah diskusi pada bagaimana anda bisa membantu mentee anda.
You can do it by
- understanding their peoblem
- look at the problem from their perspectives
- help the mentee to solve the problem by themselves
Ingat mentor itu tidak memberikan jawaban pada permasalahan, tetapi membantu mentee untuk berfikir dan menemukan jawaban permasalahan itu!

4. Extreme Challenger
Mentor punya tugas utama untuk mengembangkan (develop) sang mentee.
Berarti tugasnya bukan hanya untuk ngobrol dan memberikan pujian. Tetapi juga dengan men-challenge sang mentee.
Menanyakan pertanyaan pertanyaan yang provokative.
Tujuannya agar mentee merasa tertantang untuk melakukan yang terbaik demi kemajuan kariernya.
Be provocative!
Be a challenger!
And challenge your mentee's status quo!

5. Active Networker
Last but not least, tugas mentor adalah untuk membantu mentee mengembangkan networknya.
Kita tahu bahwa sang mentor itu lebih senior dan tentunya mempunya networking yang lebih luas. Bantulah mentee anda, kenalkan mentee anda, dan perluas jaringan network mentee anda.
Networking akan menjadi kunci keberhadilan karier mentee anda.

Remember , to BE A good MENTOR, lets try to do the following ...

1. Patient Listener
2. Generous Sharer
3. Wise Guide
4. Extreme Challenger
5. Active Networker

it is not difficult, right?
It is very possible, and mainly it will help you to beacome a better leader.
Because if you want to be a good leader, you have to be able to:
- Lead Your Business
- Lead Your Team,
and (the most important thing is to)
- Lead Yourself

Being a good mentor will help you to improve your leadership skills.

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Kamis, 02 Februari 2017

On 22.13 by HRBPFORUM in    No comments

Ebook Talent management
1. Talent management handbook by Lance Berger
2. Career paths by Gary W Carter

Download disini

On 15.59 by HRBPFORUM in    No comments

THE THREE STEPS TO DEVELOP YOUR TALENTS

(3 langkah untuk mengembangkan talent di tim anda)

Dua minggu yang lalu kami sekeluarga berkesempatan menjenguk seorang teman dan makan malam di rumah mereka di Kuala Lumpur.

Kami mengenal William sekeluarga (bukan nama sebenarnya) pada saat kami tinggal di Beijing.
William memulai set up sebuah perusahaan di Beijing, dan tiga tahun kemudian William memutuskan untuk memindahkan seluruh keluarganya ke Kuala Lumpur.

"Why" saya bertanya.
William pun menguraikan dua jawabannya:
Pertama dia memang ingin memperluas bisnisnya dan memulai membuka market baru di Kuala Lumpur.

Kedua , memang dia ingin mengembangkan dan mendidik anak anak buahnya di China.
Jadi ternyata pada saat dia membangun bisnisnya di China dia sudah berfikiran bahwa dia mempunyai dua objective:
- build his business
- develop his people
dan itulah mengapa dia pergi ke Malaysia.

Lebih lanjut William bercerita ...
Selama 3 tahun pertama William membangun bisnisnya, mengembangkan productnya, melakukan presentasi ke customernya dan men-deliver service nya ke customernya ...
Selama itu dia selalu mengajak anak buahnya untuk melihat apa yang dia lakukan sambil William mengajari mereka.
Istilah kerennya "I DO, YOU SEE".
William melakukan itu selama 3 tahun.
Bisnisnya mulai berkembang pesat.
Dan kemudian William melakukan langkah berikutnya.

William akan menyuruh anak buahnya mengembangkan product baru, melakukan presentasi ke customer dan men-deliver product itu.
William akan melihat mereka melakukan itu.
Dan hanya melihat, mengobservasi dan mencatat. Nanti akan ada waktu yang tepat bagi William untuk memberikan feedback.
Bahasa kerennya adalah "YOU DO, I SEE"
Makanya William bisa tinggal di Kuala Lumpur dan hanya perlu pergi ke Beijing 1-2 minggu dalam sebulan.
William berencana akan melakukan ini selama 3 tahun.

Setelah itu , di phase berikutnya William berencana untuk semakin jarang pergi ke Beijing, semoga bisnisnya di Beijing bisa berjalan auto-pilot, dan dia bisa focus mengembangkan bisnisnya di Malaysia.
Istilah kerennya adalah "YOU DO IT BY YOURSELF"

Jadi ternyata intinya , William melakukan konsep ini untuk mengembangkan anak buahnya
1) First step: I DO, YOU SEE
2) Second step: YOU DO, I SEE
3) Third step: YOU DO IT BY YOURSELF

Wow, that is so simple!
And yet it is so effective!
Saya sendiri selalu melakukannya dalam mengembangkan anak buah saya.
Dan itulah kenapa di manapun saya bekerja, pada saat saya dipromosikan atau pindah ke perusahaan lain, bos saya TIDAk PERNAH harus mencari kandidat dari luar. Karena saya selalu mendevelop anak buah saya sendiri.

Difficult? Yes.
Impossible ? No!

Kita bahas dulu yuk, bagaimana menerapkan hal ini dalam pekerjaan kita sehari-hari.

3 STEPs TO DEVELOP YOUR TALENTS

1. I DO, YOU SEE
Pada step ini anda mengajak anak buah anda ke mana mana, dan dia harus melihat, mengamati, mengobservasi dan mencatat apapun yang anda lakukan.
Jadi misalnya anda harus presentsi ke Board of Directors tentang rencana anda untuk mengimplementasikan sesuatu, ajak anak buah anda. Bilang ke Direksi yang lain bahwa anak buah anda nanti akan me-lead implementsinya.
Let him watch you. Make sure you bring him in your important meeting. This is the first important step in developing him.

2. YOU DO, I SEE
Nah, pada level kedua, anda harus menyuruh dia melakukannya.
Tetapi sebelumnya anda harus meng-coaching dia berkali kali.
Kemudian pada rapat direksi (atau rapat
penging) berikutnya dia yang akan presentasi.
What can you do?
Watch, observe, take note.
Ingat , jangan interupsi dia. Jangan menyangkal dia. Bahkan jangan menambah penjelasannya.
Let him run the show.
Dan di sinilah terjadi perdebatan internal yang sulit di dalam pikiran anda.
Anda terbiasa melakukannya. You are good at that.
Dan sekarang anda harus membiarkan seorang pemula (anak buah anda) untuk melakukannya seorang diri?
Tapi memang itu yang harus anda lakukan.
Kalau enggak anda tidak akan pernah men-develop mereka. Harus tega! Harus berani melepas mereka sendiri!
Itulah kenapa sedikit sekali pemain sepakbola hebat yang menjadi pe
latih sepakbola hebat.
Karena waktu mereka menjadi pelatih mereka begitu frustasi, gatel, gemeteran waktu tidak boleh lagi menendang bola.
But the job is different now. Pemain bola nendang bola. Pelatih bola mengatur stragety.
Sama, anda juga harus berani melepas anak buah anda maju sendiri. Dan anda hanya melihat dan mencatat!
Untuk kemudian memberikan feedback di hari berikutnya.

3. YOU DO IT BY YOURSELF
Setelah anda melalui phase 2, dan continuously memberikan feedback , sekarang anda masuk ke phase 3. Membiarkan anak buah anda melakukannya sendiri, dan anda pun tidak boleh masuk ke ruang meeting atau terlibat dalam proses itu.
You have to trust your team to do it. Trust itu percaya, berarti anda tidak boleh sering sering mengontrol dan menanyakan statusnya.
Ingat ini step 3, mestinya anak buah anda sudah cukup jago, dan mereka bisa dipercaya.
Seperti William dalam  cerita di atas yang pada step ketiga tidak perlu datang ke Beijing dan hanya tinggal memonitor dari jauh.
Apakah William tidak khawatir? Off course! Bisnisnya sedang bagus bagusnya dan kalau dia tinggal siapa tahu anak buahnya akan lalai dan menghancurkan bisnisnya.
Resiko itu akan selalu ada.
Tapi dia tetap harus berani menyerahkan beberapa urusan kepada anak buahnya. Kalau tidak waktu William juga akan tersita oleh urusan urusan yang seharusnya bisa diserahkan ke orang lain.
Dan ingat, seharusnya resikonya kecil. Karena
ini hanya anda
lakukan di step 3, dan seharusnya anak buah anda sudah melampau phase 1 dan phase 2.
So, stop micro-managing them!

Jadi ingat ya the 3 simple steps to develop your team members:
1) I DO, YOU SEE
2) YOU DO, I SEE
3) YOU DO IT YOURSELF

Selamat mempraktekkan dan selamat mencoba!

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto