Komunitas Praktisi Profesional HR Indonesia

Video of the Day

Selasa, 23 Mei 2017

On 17.05 by HRBPFORUM in    No comments

THE CHAMPION, THE CHALLENGERS, and THE CHEERLEADERS

(The 3 types of persons that you need to accelerate your career growth)

"Pak Pam, nama saya Farid. Saya sudah 10 tahun bekerja dan karier saya sebenarnya ok ok saja. Tapi dari dulu saya terbiasa terpacu menjadi yang terbaik. Sejak SD sampai lulus kuliah (Universitas Gajah Mada), saya selalu menjadi lulusan terbaik. Waktu itu mudah sekali bagi saya untuk berusaha menjadi yang terbaik. Karena alat ukur yang jelas , nilai ujian! Sementara di tempat kerja sekarang, saya juga ingin menjadi yang terbaik, tapi kadang kadang susah diukur. Dan akhirnya meskipun saya juga sudah dipromosi beberapa kali, tetap saja ada yang ternyata sekarang kariernya lebih maju daripada saya. I am not the best anymore. What can I do?
Saya ingin memacu diri saya sendiri, agar saya tetap menjadi yang terbaik, bukan hanya di sekolah dan universitas dulu, tapi juga sekarang di perusahaan saya. Bagaimana pak?"

Kasus yang dialami Farid ternyata sering dialami banyak orang yang "merasa" menjadi the best tapi ternyata tidak mengalami kemajuan yang pesat dalam kariernya. Ada istilah "syndrome of a champion". Orang-orang seperti Farid ini dari kecil menjadi juara kelas, akibatnya dia dikelilingi oleh orang orang yang memuja dan memujinya.
Orang tuanya, adik dan kakaknya, teman-temannya, bahkan guru-gurunya. Bagaimana mereka tidak memuji Farid? Dari kecil sampai besar selalu juara kelas. Wajar dong kalau mereka memuji, dan memberikan motivasi kepada yang lain agar meniru Farid.
Tetapi kadang kadang hal ini membuat Farid lupa diri. Terbuai dalam pujian. Bagaikan lebah yang berguling guling dalam madu, keenakan, terbuai dan lupa belajar terbang lagi.

Karena untuk maju kita perlu kombinasi yang seimbang antara pujian dan kritik (yang membangun). Bukan hanya pujian! "Feedback is breakfast for a champion!" Kritik membangun adalah sarapan pagi seorang juara!

Jadi sebenarnya anda bukan hanya membutuhkan orang yang memuji anda. Anda membutuhkan minimal 3 orang: the champion, the challenger and the cheerleader. Kita bahas yuk!

Saya jadi teringat waktu saya masih SMP, kakak saya yang pertama diterima di 3 Universitas Negeri Ternama (waktu itu menggunakan jalur Perintis 1, Perintis 2 dan Perintis 3). Wow! padahal yang lain susah cari tempat kuliah. Saya menjadikannya sebagai rolle model, he is the champion I want to follow. Saya juga ingin diterima di 3 universitas ternama, berarti saya kan tinggal meniru apa yang dilakukan kakak saya (belajar banyak banyak, lebih banyak dari yang lain). Easy kan? Life is easier when you have a good example to follow. Dan ternyata pada saat pada saat saya meniru kakak saya belajar keras, ternyata saya juga akhirnya diterima di beberapa universitas ternama, bahkan mendapatkan beasiswa ke luar negeri.
Kuncinya ternyata adalah "COPY with PRIDE, but DO IT BETTER"

Bayangkan kalau anda mempunyai role model sekarang yang sudah menempati posisi yang anda inginkan 10 tahun ke depan. Bagi anda lebih mudah kan? Pelajari saja apa yang dia lakukan dan anda tinggal copy.

Jadi, apapun profesi anda, sebaiknya carilah champion, role-model, orang yang sekarang sudah mencapai posisi yang ingin anda capai di masa depan.
Tergantung cita-cita anda, bisa saja CEO, Marketing Director, HR Director atau seorang pengusaha sukses!
Pelajari tentang dia, baca artikel tentang dia, baca buku tentang dia, kenalan dengan dia kalau bisa dan tanyakan
"What did you do to get here, apa yang anda lakukan untuk mencapai ke sini."
And after that, remember you have to COPY with PRIDE, DO it and IMPROVE.

Next, ternyata selain champion atau role model yang bisa kita tiru, we also need a challenger!
Challenger adalah orang yang selalu memberikan kritik yang konstruktif. Mereka bukan orang yang puas dengan prestasi anda. Mereka adalah orang yang mengharapkan anda selalu perform lebih baik dari yang anda  lakukan sekarang.
Waktu saya sekolah, kakak pertama saya adalah role model saya. Kemudian ayah saya adalah challenger saya. Dengan caranya sendiri, ayah saya selalu mem-push agar saya perform better. Suatu saat dia harus

mengambil rapport saya di sekolah padahal saya "hanya" menjadi Juara 2 (di seluruh sekolah).
Dia pun berkata pada ibu saya,"Tolong ambil rapport anakmu. Aku malu punya anak seperti itu!"
Waktu itu saya sedih sekali, tetapi kemudian saya menyadari, ayah saya tahu saya punya potensi menjadi Juara 1. Dan kalau saya hanya menjadi Juara 2 berarti saya tidak berusaha cukup keras dan saya menyia-nyiakan potensi saya sendiri.
Akibatnya tahun berikutnya saya belajar lebih keras dari tahun sebelumnya dan akhirnya saya pun menjadi Juara 1.
Do you have a challenger in your life? Apakah anda mempunyai challenger dalam karier anda?
Bisa saja orang itu adalah boss anda, peer anda, senior anda, coah anda, mentor anda, atau siapapun dia. Asalkan dia bisa mengerti potential anda dan akan mem-push anda untuk meraih mimpi anda.
But please make sure you have one!

Last but not least, you will also need the cheerleaders.
Seseorang yang selalu bertepuk tangan , menyemangati dan memotivasi kita terutama pada saat spirit dan mental kita sedang down. Wajar, perjalanan mencapai kesuksesan akan berat dan panjang. Tentu kita harus mempunyai supporter yang selalu memotivasi kita.
Dulu waktu kecil saya menjadikan kakak saya sebagai role model, ayah saya sebagai challenger dan ibu saya sebagai cheerleader. Ibu saya selalu memuji apapun yang saya lakukan. Dan ini penting untuk menjaga keseimbangan. Bayangkan jika saya selalu mencoba mengejar kakak saya, dan ayah saya selalu men challenge saya dan tidak pernah puas, lama lama saya bisa stress.
Untungnya ibu saya selalu mengimbangi dengan kasih sayangnya dan memotivasi saya.

Dan berbekal pengalaman itulah, sampai sekarang (tentu saja dengan orang yang berbeda), saya juga selalu mempunyai champion (role model), challenger dan cheerleader!
That 's the balance we need.

Jadi inilah tiga type yang kita butuhkan untuk mempercepat pengembangan karier kita:

1) The Champions
Orang orang yang sudah mencapai apa yang anda cita-citakan , jadi anda bisa belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mencapai itu.

2) The Challengers
Orang-orang yang memberikan kritik membangun kepada anda. Mereka tidak pernah puas dengan . apa yang anda capai. Mereka mengerti  potensi anda dan mereka akan menchallenge anda untuk mencapai posisi yang terbaik yang anda bisa raih.

3) The Cheerleaders
Orang-orang yang memotivasi anda, tersenyum dan tertawa bersama anda, dan selalu memberikan semangan dan spirit pada saat motivasi anda turun.

Pertanyaannya, apakah anda sudah mempunyai ketiga-tiganya?
Kembangkan network anda, semoga anda mempunyai ketiga-tiganya agar karier anda semakin berkembang!

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Rabu, 17 Mei 2017

On 17.42 by HRBPFORUM in    No comments

A BEAUTIFUL CONSTRAINT
(BELAJAR DARI TIA DAN TESLA)

Namanya Tia, dia tinggal di Tarakan (Kalimantan). Sejak kecil Tia bercita cita menjadi Dokter Sepasialis Penyakit Dalam seperti ayahnya.
Orangtuanya menyadari bahwa mutu SMA di Kalimantan tidak sepeti SMA di Jawa. Makanya mereka sangat realistis damn tidak berharap terlalu tinggi. Mereka tidak berharap agar Tia diterima di Universitas Terbaik. Bahkan orangtuanya sudah mulai menabung dan bersiap siap membiayai kuliah di Universitas Swasta.
Tetapi Tia tidak mau menyerah sebelum bertanding. Dia tahu mutu sekolahnya memang tidak sebagus yang lain.
Menurut Tia itu memang halangan, tetapi Tia yakin halangan itu tidak mampu menghentikan niat Tia untuk meraih mimpinya.
Dengan segala keterbatasan di kota kecil di pelosok Kalimantan, Tia pun belajar beras, bekerja keras dan berdoa sebanyak banyaknya.
Akhirnya Tia pun diterima melalui program seleksi tanpa tes di Fakultas Kedokteran Umum, Universitas Airlangga di Surabaya.

Perusahaan itu bernama Tesla. Mereka ingin menjual mobil yang tidak merusak lingkungan hidup. Mereka pelopor mobil bertenaga listrik. Ternyata secara teknis sulit sekali membuat mobil yang bertenagakan listrik. Mereka terus bekerja keras, dan akhirnya mampu membuat mobil listrik itu.
Tetapi ternyata karena jumlahnya sedikit, harganya mahal. Dan tidak banyak orang yang membelinya. Susah sekali mencari orang yang mau membeli mobil mahal karena mobil itu tidak membuat polusi udara.
Akhirnya mereka bertanya apa sih yang membuat oranv mau beli mobil mahal? Design yang keren dan hebat. Akhirnya mereka merekruit the best designer dan mereka mendesain mobil mewah yang keren bertenaga listrik. Orang orang pun membelinya.
Wow!!!

Tia dan Tesla adalah contoh praktis penerapa  sebuah konsep yang menarik, namanya ABC, singkatan dari A Beautiful Constraint!
Banyak orang kalau menghadapi hambatan dan tantangan langsung menganggap itu negative, dan menghindar.
Banyak yang kemudian putus asa dan menyerah sebelum  bertanding.
Kita  belajar dari Tia dan Tesla dalam cerita di atas.
Pada saat ada masalah datang, mereka tidak marah, tidak menangis, tidak frustasi, tidak menganggap itu negative.
Mereka hanya menganggap bahwa itu adalah proses yang harus dilalui untuk meraih mimpi mereka.
Memang berat, memang sulit, memang susah. Tetapi mereka tahu, kalau mereka ingin mencapai cita cita mereka, tidak ada pilihan lain, selain bekerja keras dan menyelesaikan masalah mereka.
Lari bukan solusi, menyerah bukan solusi, menangis dan frustasi bukan solusi.
Satu satunya solusi adalah  bekerja keras,  berusaha keras da    berdoa , seperti yang dilakukan Tia.

Remember, dont consider your challenge is an AUC, an ugly challenge. Consider it as an ABC, a beautiful constraint.
Tersenyumlah, pikirkanlah,  bekerja keraslah dan berdoalah.
Dan suatu saat , mimpi itu akan menjadi milikmu.

Jadi, bagaimana menerapkan hal ini? Kita coba terapkan dengan langkah langkah sederhana di bawah ini ...

1. Understand your strength
2. Define your dream
3. Make a plan how you will achieve it
4. Draw a picture what the success looks like
5. Work hard to achieve your dream
6. Motivate yourself

Kita  bahas satu per satu yuk ...

1. Understand your strength

Kenali diri anda sendiri.  Semua orang  berbeda  beda. Jangan berfokus pada kelemahan anda. Fokuslah pada kelebihan anda.
Asahlah kelebihan anda agar terus semakin tajam. Gunakan kelebihan anda untuk mencapai yang terbaik.

2. Define your dream

Tentukan mimpi apa yang ingin anda raih. Gantungkan cita cita anda setinggi langit. Jangan hiraukan mereka yang mentertawakan, mencemooh atau yang tidak percaya kepada anda. Bekerja keraslah,   berdoalah. dan  buktikan bahwa mereka salah.

3. Make a plan how you will achieve it

Bikin rencana , bagaimana anda akan bekerja keras untuk  mencapai mimpi anda.
Buatlah rencana yang detail. Sehingga anda tahu apa yang harus anda lakukan setiap saat.

4. Draw a picture what the success looks like

Bikinlah gambar, photoshop kalau perlu.
Tia mungkin akan memphotoshop dirinya di kampus kedokteran terbaik.
Tesla mungkin akan mem

photoshop kota New York yang dipenuhi dengan mobil mobil electrik.
Show to yourself (and others) how the success looks like.

5. Work hard to achieve your dream

Nah, tidak ada penggantinya, kerja keras adalah jawabannya.
Kalau anda ingin mencapai lebih daripada yang lain, anda harus bekerja lebih keras daripada yang lain.
Di kamus kata sukses itu adanya setelah kata kerja keras.
Jadi memang sukses itu hanya bisa tercapai setelah kita bekerja keras!

6. Motivate yourself

Motivasilah diri anda sendiri. Lihat lagi gambar photoshop ya g anda  bikin. Look how great it will be when you achieve your dream.
Pada saat anda motivasi turun, lihat lagi gambar itu. Jangan menyerah. Karena kalau anda menyerah, anda tidak akan pernah manpu mencapai mimpi anda.

Selamat mencoba ....

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Minggu, 14 Mei 2017

On 17.25 by HRBPFORUM in    No comments

RAISE YOUR HANDS and GRAB THE OPPORTUNITY

( Angkat tanganmu, dan raihlah kesempatan itu)

Pagi itu saya medarat di Istambul jam 3 siang, dan dijemput oleh seorang sahabat lama. Sebut saja namanya Ozan, orang Turki asli, dulunya pernah menjadi peserta training saya waktu saya ngajar di Helsinki.
Setelah training Ozan suka nanya-nanya lewat email dan kemudian kita pun terus menerus menjaga contact sampai sekarang.
Anyway, Ozan yang dulunya seorang lawyer sekarang sudah menjadi CEO di sebuah perusahaan logistic.

Dan tentu saja pertanyaan saya adalah,"How did you get the CEO job?"
Sambil minum kopi sore-sore di Hotel Movenpick, Istambul, kami ngonrol panjang lebar, sambil menikmati udara sore dan cerahnya cuaca kota itu.

Ozan memakai kaos panjang Lacoste biru marine, dan kelihatan berwibawa dengan mukanya yang segar dan brewoknya yang terawat rapi.

Ozan pun memulai ceritanya,"Menurut saya, saya menjadi CEO karena satu hal yang selalu saya lakukan. Always raise my hand. Saya selalu mengangkat tangan dan memintanya"

Ozan pun meneruskan ...
Waktu saya SD saya sudah angkat tangan dan bertanya kepada guru saya,"Bolehkan saya menjadi ketua kelas"
Waktu SMA saya  bertanya kepada kepala sekolah,"Bolehkan saya menjadi ketua program pertukaran pelajar ke London"
Waktu saya jadi insinyur, saya tidak menunggu sampai promosi saya datang, saya bertanya kepada atasan saya,"Bolehkah saya menjadi Project Manager"
Setelah saya menjadi Project Manager ,"Bolehkan saya menjadi Project Manager di negara lain, saya ingin bekerja di Roma"

Jadi saya selalu angkat tangan dan meminta promosi atau jabatan itu.
Always and always raise  my hand.
Kadang waktu saya waktu saya angkat tangan, saya mendapatkan apa yang saya dapatkan, kadang tidak. But it's ok. It does not hurt to ask.

Suatu saat saya menjadi Project Director di Inggris, dan pada saat jabatan CEO di Turki kosong, saya angkat tangan lagi dan bertanya,"Apakah saya bisa menjadi CEO di Turki?"
Mereka bilang,"No you are not qualified to be a CEO"
OK, gak apa apa , at least saya sudah  bertanya. saya pun  bertanya lagi ...
"Mengapa saya tidak qualified"
Mereka bilang,"Karena kamu belum punya sales background"

OK, sekarang sudah jelas. Habis itu saya melamar menjadi Sales Direcror dan mendapatkan pekerjaan sebagai Sales Director di Nicosia (kalau anda tidak tahu di mana Nicosia, saya benar benar mempertantakan apakah anda  bermental global).
Ozab menjadi Sales Director selama 2 tahun di Nicosia, kemudian menjadi Sales Director selama 3 tahun di Paris.
Dan lima tahun kemudian, Ozan menjadi CEO di Turki.
Tentu saja ceritanya tidak semudah itu, Ozan harus  bekerja keras dan belajar siang malam.
Tapi realitanya Ozan menjadi CEO sekarang , setelah dia mengangkat tangannya (menanyakan atau melamar jabatan tersebut).
Seandainya saja Ozan tidak pernah meminta, mungkin Ozan tidak akan menjadi CEO.

So, remember, always ask, ask , ask. Selalu acungkan tangan anda, tanyakan, minta, melamar atau apapun.
Jangan segan, jangan sungkan, jangan malu.
Tapi juga jangan baper kalau ditolak!
Ingat waktu Ozan ditolak menjadi CEO, dia gak baper, dia cuma nanya, mengapa aku  belum bisa menjadi CEO.
Dan kemudian pada saat dia mendapatkan jawabannya, maka dia pun    bekerja keras.
Voila!

Di kita banyak banget yang ego nya segedhe gajah. Kalau ditolak kayaknya tamatlah dunia, baper, kecewa, marah, sebel bahkan ngomel atau ngamuk.
Ditolak , its ok. Tanya aja kenapa ditolak? Dan kemudian setelah dapat jawabannya   bekerja keraslah untuk memperbaiki diri anda sendiri (improve yourself).
Padahal bacalah cerita Ozan di atas, dia hanya berprinsip sederhana:
- Bekerjalah sekeras mungkin
- Berkontribusilah semaksimal mungkin
- Kalau ada pekerjaan bagus yang kamu inginkan, tanyakan apakah kamu boleh menduduki jabatan itu?
- Kalau boleh, that s great
- Kalau nggak boleh, that s great too, tanyakan kenapa anda belum bisa menduduki jabatan itu
- Dari jawaban di atas, anda akan mengetahui gap anda, belajarlah dan  bekerja keraslah untuk menutup gap itu

Life is easy .... kata Ozan. Dan dengan prinsip yang sederhana itu sekarang O

zan menjadi CEO.

Ok, kita  bahas ya step by step, apa yang kita  bisa kerjakan untuk meraih kesempatan itu ...

1. UNDERSTAND YOUR STRENGTH
Ketahuilah, galilah, mengertilah strength anda, differentiator anda , kelebihan anda (yang tidak dimiliki oleh orang lain)

2. CONTINUOSLY DEVELOP YOURSELF
Kalau mau maju, ya harus terus menerus belajar.
Kuncinya sukses itu adalah  mempelajari kompetensi yang dibutuhkan di masa depan, sambil bekerja mencapai objective pekerjaan yang sekarang. Dua duanya harus jalan. Harus seimbang.
Jadi, jangan hanya sibuk  bekerja mencapai performance yang sekarang aja, harus juga belajar dan mempersiapkan kita untuk jabatan kita di masa depan.

3. FIND YOUR ROLE MODEL, COPY HIM TO BUILD THE RIGHT CHARACTER,
Jangan  bergaul dengan teman teman level yang hanya membawa pengaruh negative.
Bergaullah dengan mereka  merka yang jauh lebih sukses daripada anda.
Jadikan mereka sebagai rolle  model anda.
Tirulah kelakuan, attitude dan behavior mereka.
Realitasnya adalah kelakua , attitude dan behavior itu telah membawa mereka ke posisi yang lebih sikses?
Tinggal tiru aja kan? Dan disesusaikan dengan business context anda.

4. BUILD and EXPAND YOUR NETWORK
Kembangkan network dan jaringan bisnis anda.
Mulailah dengan membantu yang lain sebelum anda minta dibantu.

5. RAISE YOUR HAND whenever THe OPPORTUNITY COME

jangan terus menerus menunggu agar promosi itu datang , angkat tanganmu, dan raihlah sendiri kesempatan itu .

Just remember these 5 steps to raise your hands and grap your opportunities ....

1. UNDERSTAND YOUR STRENGTH
2. CONTINUOSLY DEVELOP YOURSELF
3. FIND YOUR ROLE MODEL, COPY HIM TO BUILD THE RIGHT CHARACTER,
4. BUILD and EXPAND YOUR NETWORK
5. RAISE YOUR HAND whenever THE OPPORTUNITY COME

Salam Hangat

Istambul, 1 April 2017

Pambudi Sunarsihanto

Senin, 08 Mei 2017

On 17.04 by HRBPFORUM in    No comments

WILL A START-UP LEADER SURVIVE IN A "MATURED" BUSINESS?

(Apakah seorang start-up leader bisa terus sukses pada saat bisnisnya menjadi besar?)

Fontaineblue adalah sebuah kota kecil di pinggir Paris. Di situlah berdiri INSEAD, sebuah kampus bisnis yang terkenal di Eropa.
Cuaca di Perancis minggu itu cukup dingin, antara 10 dan 12 derajat Celcius. Minggu itu saya sedang berada di sana. Dan salah satu acara saya adalah mengikuti kuliah leadership dari seorang profesor INSEAD.

Ketika banyak profesor menerangkan leadership style yang harus diterapkan pada orang yanv berbeda-beda, profesor ini menjelaskan leadership style yang harus digunakan pada phase perkembangan  bisnis yang berbeda-beda. Dan ini menarik, karena memang saat ini banyak start-up business yang sedang lahir dan tumbuh. Dan kadang-kadang ini menjadi ancaman tersendiri bagi business atau perusahaan yang sudah dewasa (lihat bagaimana perusahaan taxi mulai "terganggu" oleh Uber).
Berarti perusahaan itu sedang   berada di phase yang berbeda beda. Ada perusahaan kecil yang masih start-up dan baru memulai, dan ada perusahaan  besar yang sudah "matured". Dan seringkali perusahaan yang start-up lama kelamaan bisnisnya akan sukses menjadi perusahaan yang besar.
Pertanyaannya adalah ada styles yang berbeda untuk phase business yang berbeda? Apakah seorang leader start-up company bisa juga sukses menjadi seorang leader perusahaan yang matured? Bayangkan, apakah seorang leader dari start-up company (yang mungkin anakbuahnya hanya 12) bisa menjadi leader sebuah perusahaan yang  besar (dengan 2000 karyawan dan revenua 12 juta dollar?).
Is it possible? Kalau mungkin, apakah dia harus menyesuaikan diri dan bagaimana? Pertanyaan menarik. Mari kita bahas.

Marin kita bahas  berbagai phase business dan leadership style yang dibutuhkan ....

1. Phase 1 (Start-Up)
Sebuah business akan dimulai dengan phase awal, start up. Pada phase ini peusahaan sedang sibuk mendesign sebuah product dan memperkenalkan kepada masyarakat.
Berarti kita perlu seorang leader yang mampu mendengarkan customer, memprediksi apa yang diinginkan customer, mendevelop product, berexperimen, mencoba-coba, mengambil resiko, mengajak anakbuahnya untuk berexperimen, mengajak anakbuahnya untuk mengambil resiko dan mengijinkan anakbuahnya untuk melakukan kesalahan.
(Kalau anak buah gak boleh salah, nanti mereka gak bereksperimen dan productnya gak akan pernah jadi).
Nah, itu tadi adalah leadership stye yang dibutuhkan di phase itu.

2. Phase 2, Growth
Pada phase ini, productnya sudah jadi dan mulai diterima oleh customer.
Berarti fokus perusahaan sudah  berganti dari develop product menjadi sell product (jualan). Berarti style leadernya harus sales oriented, execution disipline dan sangat berfokus pada hasil). We need a strong executor.
Penjualan menjadi fokus utama bagi perusahaan.
Di sinilah kita harus mulai mengerti bahwa leader (atau leadership style) yang diperlukan berbeda beda untuk setiap phase bisnis yang berbeda.

Phase 3: Matured

Pada saat businessnyap sudah tumbuh dan menjadi "dewasa", berarti productnya sudah jadi, customernya banyak, dan angka penjualan sudah tinggi.
Apakah yang menjadi focus berikutnya? Keuntungan ! Profit!
Berarti leader di sini harus mampu mendatangkan keuntungan bagi perusahaan. Caranya bagaimana? Dengan mengontrol secara serius semua pemasukan dan pengeluaran.
Dengan sangat logis, menganalisa data, dimana saja sumber pemasukan, di mana saja sumber pengeluaran, dan bagaimana mengoptimasikan profit.
Dengan memotong cost yang tidak perlu dan membuat perusahaan lebih efficient.
Di sinilah biasanya terjadi masalah, karena pemilik modal mulai tidak sabar dan menagih kepada start-up company dan menanyakan,"Mana profitnya?"
Dan ternyata beberapa
leader start up company tidak mampu menjawab itu (tidak mampu mendatangkan profit).
Seringkali ini terjadi karena leadernya adalah orang yang jago menciptakan product dan bukan orang yang jago mendatangkan keuntungan (remember. they are 2 different things!).

Hal ini seringkali terjadi apabila leadernya tidak mampu mengubah stylenya dari satu s

tyle ke style lain. Dan ini yang mungkin terjadi:
- perusahaan melangkah dari phase start-up ke growth, tapi leadernya masih aja focus ke design,
When you are in start-up, your customers accept your product already, forget about the design, focus on the sales.
Kalau leadernya gagal move on yang akan terjadi adalah productnya makin lama makin bagus, tapi jualannya gak naik naik.
Nah pada phase Start-Up kita memerlukan seorang Innovator, tapi pada phase Growth kita membutuhkan seorang salesman.
Seorang leader yang baik harus mampu menyesuaikan diri dari satu leadership style ke style berikutnya.
Itulah makanya ada banyak perusahaan yang memutuskan untuk mengganti leadernya dari satu phase ke phase  berikutnya.
Kadang yang nggak ngerti akan nanya, "Leader bagus kok diganti mengapa?"
Mungkin leadernya bagus tapi dia adalah seorang innovator sejati (yang jago bikin product dan gak jago jualan!).

Atau sebuah perusahaan sudah move dari phase growth ke matured. Berarti jualannya sudah tinggi,
nah sekarang berarti fokus berikutnya adalah mencari keuntungan yang tinggi.
Ingat biasanya pemilik modal  berinvestasi pada banyak project, dan hanya sebagian kecil yang  berhasil, ide inovative lain banyak yang gagal di pasar (itu sudah menjadi aturan tak tertulis kalao berinvestasi di star up).
Maka harapan mereka pada product yang  berhasil juga tinggi, artinya product ini diharapkan menghasilkan keuntungan setinggi tingginya.
Nah kadang kadang ada juga tuh leader yang jago jualan, tapi gak bisa mendapatkan untung yang banyak? Mengapa? Karena keuntungan sama dengan pendapatan dikurangi pengeluaran. Ada yang jago jualan banyak, tapi cost nya juga tinggi banget (operasional cost, marketing, iklan, gaji karyawan ... dll) sehingga keuntungannya kecil.
Nah di sini fokusnya harus pada memaksimalkan pendapatan dan meminimalkan pengeluaran. Makanya kita perlu seorang "controller" yang  baik.
Dan tugas seorang controller selain mendatangkan keuntungan yang maksimal adalah juga menjaga long-term success of the  business. Bagaimana bisnisnya bisa berjalan selama mungkin.

Sayangnya, sehebat apapun productnya , biasanya lama kelamaan angka penjualan akan menurun karena trend yang berganti.
Lihat contoh contoh di bawah ini:
- maskapai penerbangan turun pendapatannya karena ada budget airlines
- perusahaan minyak turun pendapatannya karena trend lingkungan hidup yang berkembang di Eropa dan Amerika
- taxi yang turun pendapatannya karena adanya taxi online
... dll
Jadi mau gak mau kita akan memasuki phase  berikutnya , phase Decline ....

4) Phase 4: DECLINE (menurun)
Suasana di sini sangat challenging. Terutama karena motivasi para karyawan sedang turun (seiring dengan turunnya business performance). Para karyawan resah, harga diri mereka tertampar dan pride mereka  berada pada posisi rendah. Mengapa? Karena  mereka  merasa dulunya jagoan dan ternyata sekarang mereka turun. Harus ditangani dengan hati hati dan serius. Kalau enggak bisa bahaya dan mengikuti nasib Kodak atau Nokia Phones.
Terus gimana dong? Leadership Style apa yang dibutuhkan? ENERGIZER!
Seseorang yang mampu mengembalikan energy, spirit , confidence dan teamwork seluruh karyawan. Seorang leader yang mampu....
- mengingatkan bahwa ini dulunya adalah perusahaan yang hebat dan akan kembali hebat lagi
- mengajak seluruh karyawan untuk men-challene status quo
- mengajak seluruh karyawan untuk mencari ide ide  baru
- mendorong (dan menghargai) seluruh karyawan untuk  bereksperiman (dan mencoba coba)
- mengijinkan karyawan untuk melakukan kesalahan (pada saat mereka  berexperimen), ingat kalau mereka takut salah mereka tidak akan mencoba (tentu saja saya ngomong tentang kesalahan yang dihasilkan dari niat yang baik, kalau niatnya jelek
seperti korupsi ya nggak boleh ditolerir)
- seorang leader yang mampu memotivasi karyawan-karyawannya meskipun di masa masa sulit sekalipun

Di sinilah pentingnya peran seorang "energizer" dalam menaikkan motivasi karyawan, mendorong inovasi di perusahaan, dan meningkatkan performance bisnis perusahaan.

Sekarang sudah jelas kan, bahwa perusahaan membutuhk

an leader yang  berbeda style nya di phase business yang berbeda beda (start up, growth, mature dan decline).
Dan jawaban dari pertanyaan di atas, apakah seorang leader dari sebuah start up business mampu terus sukses pada saat perusahaannya sudah mature?
Jawabannya iya, dia akan mampu, asalkan dia menyadari bahwa dia harus mengubah leadership stylenya.

Jadi sebagai ringkasan, inilah phase business yang berbeda dan leadership style yang diperlukan ....

1. During start-up, you need an "entreprenneur" (seorang explorer, suka berexperiment, mengambil resiko, mengijinkan kesalahan, dan men-support anakbuahnya)

2. During growth pase, you need an "executor" (sangat  berorientasi pada hasil, execution disiplinnya tinggi, serius dan productive)

3. During maturity phase, you need a "controller" (yang berorientasi pada  keuntungan, sangat fokus pada analisa data, sangat logis dan sangat teliti)

4. Before your business decline, you need create a new team lead by an "energizer" (sangat terbuka, informal, adaptive dan motivating)

5. Then your business should run in parallel, where you will have revenue from "matured" business (which you cannot avoid that one day , it will decline), and from your "new" business (which hopefully the revenue will increase aggressively and compensating or even bypassing your decline of revenue from your matured business)

Pertanyaan bagi perusahaan adalah, di mana phase business anda, apakah anda mempunyai leader yang style nya cocok, atau bisakah dia beradaptasi dengan berbagai phase business.

Pertanyaan bagi kita sebagai individu adalah apakah leadership style kita yang paling dominan (entreprenneur, executor, controller atau energizer)? Dan apakah kita bisa  beradaptasi dari satu style ke style yang lain sebagaimana dibutuhkan oleh perusahaan?
Sekali lagi, terbukti bahwa salah satu kemampuan kita yang paling penting adalah kemampuan untuk menjadi "flexible" dan "agile" mengahadapi perkembangan bisnis yang berbeda-beda.

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Jumat, 05 Mei 2017

On 20.21 by HRBPFORUM in    No comments

REWARD YOUR CHILDREN BASED ON THEIR HARD WORK

(Berikan hadiah kepada anak anda, hanya kalau mereka mencapai sebuah prestasi)

Namanya Devi, teman seangkatan saya di ITB. Sekarang Devi menjadi pejabat Eselon di sebuah Departemen di pemerintahan. Malam itu kami dinner di sebuah Rumah Makan Jepang di Pacific Place.

Devi bercerita bahwa dia punya dua anak laki laki. yang satu  berumur 17 tahun, satunya  baru 8 tahun. Jarak keduanya sangat jauh, karena di tengah tengahnya Devi harus bekerja keras, fokus pada pekerjaannya, dan membawa hasil dengan promosi demi promosi yang diraihnya sampai akhirnya dia menduduki jabatan penting ini.

Pada saat Devi membesarkan anak pertamanya , Devi masih punya  banyak waktu. Pekerjaannya tidak sesibuk sekarang dan dia masih sempat membesarkan dan mendidiknya dengan waktu yang cukup. Sayangnya hal ini tidak bisa Devi lakukan dengan anak kedua yang sekarang berusia 8 tahun.
Devi sudah sangat sibuk dan seringkali pulang malam.

Akhirnya Devi pun hanya bisa menghabiskan waktu sedikit sekali dengan anaknya yang kedua. Bahkan anak kedua (laki laki) cenderung manja dan minta perhatian. Untuk menebus rasa bersalahnya Devi mem"banjir"i anaknya dengan hadiah hadiah, bahkan kadang tanpa diminta oleh anaknya. Dan semua permintaan anaknya pun dituruti.
Anak pertamanya pun protes, karena dia merasa tidak diperlakukan seperti itu.

Kita bahas kasus ini ya? Kasusnya Devi adalah kasus klasik yang terjadi pada orang tua yang sibuk bekerja. Karena kurangnya waktu yang mereka berikan pada anaknya, mereka menebus rasa  bersalahnya dengan memberikan hadiah.
Dont get me wrong. Saya sangat menghargai para ayah dan para ibu yang bekerja. Ini adalah ibadah yang mulia. Mereka mencari nafkah demi kelangsungan keluarga,
untuk makanan, kesehatan dan pendidikan anak anaknya. That's great.
Tentu saja kita tidak boleh melupakan satu tugas yang sangat sangat penting, mendidik anak anak kita.
Banyak nasihat yang menyesatkan seperi "With the children, spend quality time not quantity"
Mari kita artikan pepatah ini dengan bijak.
Pepatah itu seharusnya tidak menjadi alasan  bagi kita untuk melalaikan tugas kita.
Sebenarnya pepatah itu harus diganti menjadi , "With our childern , we have to spend quality and quantity times!"

Sebagus apapun quality nya tidak akan ada yanv bisa menggantikan quantity  nya. You still have to do both.

Yang lebih parah adalah memberikan hadiah banyak banyak untuk menebus rasa bersalah karena tidak spend time dengan anak anak kita.
Heyyyu, what kind of children you are raising? Anak-anak dan generasi yang akan berpendapat bahwa mereka bisa mendapatkan segalanya tanpa  bekerja keras.
Kasihan  banget mereka, dengan pikiran itu mereka tidak akan menjadi pekerja keras. Tapi bukan karena kesalahan mereka, kesalahan kita yang mendidik mereka dengan cara yang salah, karena mereka senantiasa medapatkan sesuatu tanpa bekerja keras!

Ada trend yang berkembang di Eropa dan Amerika , di mana para orang tua yang berhasil (dan kaya) tidak lagi memberikan harta warisan mereka kepada anaknya.
Mereka bilang,"Kami bekerja keras untuk mendapatkan harta ini. Kami ingin mereka juga mampu bekerja keras untuk mendapatkan harta mereka sendiri.
Karena keberhasilan orang tua adalah pada saat anak-anaknya lebih berhasil daripada orangtuanya"

Wow, keren kan?
Bandingin dengan teman teman saya di Indonesia, yang sudah sibuk menabung untuk biaya kuliah anaknya di Amerika, bahkan ada yang sudah membeli 3 rumah untuk ketiga anak kandung mereka. Hahahahahaha....
Kalau orang lain bilang,"Enak amat anak anaknya"
Saya akan bilang,"Kasihan banget anak anaknya, tidak dididik untuk bekerja keras"

Anak saya juga kuliah S-1 di Amerika, tapi sejak SMP saya sudah bilang ke dia untuk belajar sekeras-kerasnya dan mendapatkan beasiswa. And she did it!
Sebenarnya saya juga bisa (dengan mudah) membiayai kuliahnya di manapun.
Dan juga berat bagi saya untuk mengharuskan dia mendapatkan beasiswanya sendiri.
Tapi bukankah itu tugas yang kita punya, jadi meskipun berat juga harus kita jalankan?

Padahal di kantornya Devi selalu menerapkan performance

based reward.
Artinya Devi memberikan reward kepada anak buahnya yang bekerja keras, dab kalau anak buahnya tidak bekerja keras ya Devi tidak akan memberikan bonus atau insentive tertentu.
Berarti seharusnya Devi menerapkan hal yang sama kepada anak anaknya.
Artinya Devi harus membiasakan  bahwa anak anaknya akan mendapatkan hadiah setelah dia bekerja keras.
Jangan pernah memberi sesuatu tanpa dia bekerja keras, you are sending a (very) wrong message.
Resikonya adalah anak anda akan kehilangan kemauan (dan kemampuan) untuk bekerja keras mendapatkan sesuatu. Padahal itu sangat penting untuk kehidupan mereka kelak. And please jangan terbuai dengan mereka yang berkata,"Bekerjalah dengan cerdas, jangan bekerja keras"
Kata kata itu diciptakan oleh orang orang yang malas, biasanya para motivator, yang belum pernah bekerja (baik di perusahaan maupun sebagai pengusaha).
Padahal percayalah, saya mengenal banyak orang sukses , mereka semuanya itu bekerja keras (secara cerdas), we have to do both!

Dan ternyata  "performance based reward", itu bisa dijalankan di kantor ataupun di rumah. Apa yang harus dilakukan oleh Devi (dan kita semua sebagai orang tua) ...
Coba ikuti 6 langkah di bawah ini .....

1) Rule No. 1: No Free lunch in the world

Ajari bahwa semua hadiah akan mereka dapatkan setelah mereka bekerja keras. Ingat kita mereward usaha mereka. Bukan hasil mereka. Jadi kalau mereka sudah belajar keras semaksimal mungkin, tapi belum menjadi juara kelas, anda tetap harus memberikan rewardnya.
You reward your childern based on their hardwork and extra effort, not the result.

2) Have a good discussion why you apply this system

Sebelum anda menerapkan hal ini , jelaskan kepada anak anda alasan mengapa anda menerapkan hal ini. Jangan sampai mereka merasa bahwa rasa sayang orang tuanya berkurang. Jelaskan bahwa di masa depan kehidupan akan semakin keras dan semakin competitive. Being nice not enough. Being smart is not enough. They have to work hard in order to succeed in their life.

3) Make sure your
children understand why they got their reward

Berikan hadiah kepada mereka, dan jelaskan mengapa mereka mendapatkannya. Jelaskan secara spesifik , kerja keras mereka yang mana yang membuat mereka berhak mendapatkan hadiah itu.

4) Reconsider the type
of rewards (compliment, more time with friends, more time with you ...etc)

Pilih hadiah yang bervariasi, antara apa yang mereka suka (mainan ... dll) dan apa yang mendidik mereka (buku ... dll).
Tetapi anda juga mereward mereka dengan pujian di depan orang lain, di depan teman temannya (please jangan lebay), bahkan anda bisa mereward mereka dengan waktu:
- more time with their friends
- more time to play (setelah mereka belajar keras)
- more time with you (semoga mereka masih menganggap ini hadiah, dan bukan hukuman 😁)

5) Help them discover their passion

Semua anak adalah unik. Mereka tidak sama. Jangan membandingkan mereka satu dengan yang lain.
Dan terutama bantulah mereka menemukan passion mereka.
Anda harus mendukung mereka dalam proses mencari passion mereka.
Ibaratnya mereka minta dibelikan gitar, kemudian 3 bulan kemudian mereka gak mau lagi main gitar, dan minta dibeliikan raket badminton, jangan dimarahi, dan tetap belikan raket badminton. Itu adalah proses menemukan passion mereka. Mereka sendiri juga tidak tahu.
Mereka sendiri juga bereksperimen dan mencoba coba.
Dukung mereka menemukan passion mereka.
Pada saat mereka menemukan passionnya mereka akan bekerja lebih keras, dan itu akan membuat semangat hidup mereka lebih tinggi!

6) Help them to achieve their dreams (not yours)

Tanyakan pada mereka apa mimpi mereka dan apa cita-cita mereka? Dukung mereka. Jangan memaksakan mimpi anda kepada mereka. Dan by the way,
ingat, anda tidak tahu apa apa tentang masa depan mereka. Yang anda ketahui adalah masa lalu dan masa sekarang. Dunia berubah begitu cepat.
Pekerjaan yang dulunya berjaya mungkin akan pudar di masa depan.
Pekerjaan yang mereka akan lakukan di masa depan, mungkin sekarang belum ada.
Didiklah mereka, ajari mereka untuk belajar dan bekerja keras. Tapi bantu mere

ka mewujudkan mimpi mereka sendiri, bukan mimpi anda.

Ingat baik baik, jangan pernah memanjakan anak dengan memberikan sesuatu tanpa usaha dari mereka.

Remember these 6 rules:

1) Rule No. 1: No Free lunch in the world
2) Have a good discussion why you apply this system
3) Make sure your
children understand why they got their reward
4) Reconsider the type
of rewards (compliment, more time with friends, more time with you ...etc)
5) Help them discover their passion
6) Help them to achieve their dreams (not yours)

Ingat, pada akhirnya tugas anda adalah membantu anak anak anda meraih mimpi mimpi mereka, bukan mimpi mimpi anda.

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Join HRBP INDONESIA
private message via whatsapp : 085733347722
Telegram : https://t.me/hrbpindo